Tanganku yang memegang handphone terasa sangat lemas sampai hampir menjatuhkan benda itu ke atas piring nasi lodeh yang belum habis aku santap. Layar handphone masih menampilkan video rekaman CCTV dari akun Instagram lokal yang dikirim oleh Joko ke grup WhatsApp pos ronda. Jumlah komentar di bawah postingan video itu terus bertambah setiap menitnya, dipenuhi oleh kata-kata kutukan, caci maki, dan desakan dari warga netizen agar pihak kepolisian segera menangkap pelaku yang pelat nomor motornya terlihat samar-samar di dalam video. Rasa cemas yang sangat dingin merayap dari perutku, naik ke dada, dan membuat tenggorokanku terasa sangat kering seolah-olah aku baru saja menelan segenggam pasir.
Tiba-tiba, suara pintu pagar bambu di depan rumah yang dibuka dengan kasar mengejutkanku. Jantungku langsung melonjak dengan sangat keras di dalam dada. Aku meletakkan piring dengan terburu-buru di atas meja makan hingga menimbulkan bunyi dentangan yang nyaring, lalu berjalan dengan langkah kaki yang gemetar menuju ke arah ruang tamu. Pikiranku sudah dipenuhi ketakutan bahwa polisi atau warga kampung sudah datang untuk menangkapku karena video yang viral tersebut. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahiku, mengalir melewati pipi dan membasahi kerah kaos oblong yang aku pakai.
Ketika aku membuka pintu depan sedikit, aku melihat kakak laki-lakiku, Syahrul, berjalan masuk ke halaman rumah dengan wajah yang sangat merah karena marah. Di tangan kanannya, dia memegang handphone miliknya sendiri yang layarnya menyala. Kakakku bekerja sebagai pengemudi ojek online dan biasanya jam segini dia sedang sibuk mencari penumpang di sekitar area pasar. Melihat kedatangan kakakku dengan wajah yang penuh kemarahan, membuatku tahu bahwa dia juga sudah melihat video rekaman CCTV yang viral tersebut dan mengenali motor matic miliknya yang aku pinjam semalam tanpa izin yang jelas.
"Don! Keluar lu! Apa-apaan ini maksudnya?" teriak kakakku dengan suara yang sangat keras dari halaman rumah, membuat beberapa ekor ayam peliharaan ibu terbangun dan berlarian ketakutan di bawah pohon mangga.
Aku melangkah keluar dari pintu dengan tubuh yang agak membungkuk, mencoba memperkecil volume suaraku agar tetangga sebelah tidak mendengar keributan yang terjadi di rumah kami. "Ada apa, Kak? Jangan teriak-teriak begitu, malu dilihat tetangga." kataku dengan nada suara yang bergetar karena ketakutan.
Kakakku langsung berjalan mendekatiku, lalu menyodorkan layar handphone miliknya tepat di depan wajahku. Layar itu menampilkan video rekaman CCTV yang sama yang baru saja aku tonton di dapur. "Lu jangan pura-pura bodoh ya, Don! Ini motor gua kan yang lu pakai semalam? Pelat nomornya kelihatan jelas di video ini! Teman-teman sesama ojol gua di grup pangkalan baru saja kirim video ini dan tanya apa ini motor gua! Lu apain cewek di Gang Merpati semalam, hah?" tanya kakakku dengan mata yang melotot lebar penuh kemarahan sambil mencengkeram kearah jaket kainku dengan sangat kuat. Rasa bangga dan pengakuan yang aku dapatkan dari Bobby di pos ronda semalam kini berubah menjadi sebuah malapetaka besar yang siap menghancurkan seluruh kehidupanku dalam sekejap mata.