Aku melangkah masuk ke dalam ruang rapat kantor yang terletak di lantai dua gedung perusahaan. Ruangan ini berukuran cukup luas, dengan sebuah meja kayu panjang berwarna cokelat tua di bagian tengahnya. Di sekeliling meja tersebut, ada sepuluh kursi roda yang empuk berjejer rapi. Suasana di dalam ruangan terasa dingin karena AC dinyalakan dengan suhu terendah sejak pagi hari. Manajer utamaku, Pak Bambang, sudah duduk di kursi paling ujung dekat papan tulis putih besar. Di sampingnya, ada dua orang perwakilan dari tim auditor eksternal yang memakai kemeja batik rapi. Mereka sedang membuka beberapa tumpukan dokumen kertas tebal sambil mengobrol dengan nada suara yang serius.
Aku berjalan mendekati salah satu kursi kosong di sisi sebelah kiri meja. Aku menurunkan tas ransel dari kedua pundak secara perlahan, lalu membukanya untuk mengeluarkan laptop kantor dan berkas laporan keuangan yang sudah aku siapkan. Tanganku kembali terasa dingin dan sedikit bergetar saat meletakkan tumpukan kertas tersebut di atas meja kayu. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku yang sejak pagi tadi masih terasa kacau. Aku terus berkata kepada diri sendiri bahwa aku harus fokus pada presentasi ini, karena hasil audit ini sangat menentukan penilaian kinerjaku di kantor untuk akhir tahun nanti.
"Rani, silakan dimulai. Kita tidak punya banyak waktu karena setelah ini tim auditor harus memeriksa berkas di bagian gudang logistik." kata Pak Bambang sambil membetulkan letak kacamatanya dan melihat ke arah jam tangan miliknya.