Cengkeraman tangan Syahrul di kerah jaket kainku terasa sangat kuat sampai membuat napasku terasa agak sesak. Aku bisa melihat urat-urat di leher kakakku itu menonjol keluar karena menahan rasa marah yang luar biasa. Wajahnya yang biasanya tenang kini kelihatan merah padam, dengan mata yang melotot tajam menatap lurus ke arah mataku. Di dalam ruangan tengah rumah kami yang sempit dan berdebu, suasana menjadi sangat mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding tua yang berbunyi tik tik secara berulang di antara deru napas kami berdua yang saling berkejaran.
"Lepasin dulu, Kak! Jangan main kasar begini, gua bisa jelasin semuanya." kataku dengan nada suara yang bergetar karena ketakutan sambil mencoba melepaskan jari-jari tangan Syahrul dari kerah bajuku.
Syahrul tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Dia justru mendorong tubuhku dengan kasar ke arah belakang sampai punggungku membentur pinggiran lemari pakaian dari plastik hingga menimbulkan bunyi braaak yang cukup keras. Beberapa gantungan baju kosong yang ada di atas lemari itu berjatuhan ke lantai ubin yang dingin.
"Jelasin apa lagi, Don? Lu lihat video ini baik-baik! Lu pikir gua bodoh? Ini pelat nomor motor gua tertera jelas di sini! Sekarang video ini sudah menyebar di grup WhatsApp pangkalan ojol seluruh kecamatan! Teman-teman gua pada tanya, siapa yang pakai motor gua semalam untuk begal payudara di Gang Merpati! Lu sadar gak sih, Don? Lu sudah bikin malu nama keluarga kita! Lu juga sudah merusak kerjaan gua karena sekarang gua takut pakai motor ini buat narik penumpang lagi karena takut ditangkap polisi di jalanan!" teriak Syahrul dengan suara yang melengking tinggi, sambil memukul permukaan meja kayu di dekatnya dengan kepalan tangan kanannya.