Gang Merpati

Anon1m
Chapter #15

Doni #7

Suara pintu depan rumah yang dibanting oleh Syahrul masih menyisakan bunyi dengung yang keras di dalam telingaku. Aku berdiri mematung di ruang tengah selama hampir tiga menit, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan pandangan mata yang kosong dan penuh ketakutan. Seluruh tubuhku terasa sangat dingin, dan keringat yang keluar dari pori-pori kulit membuat kaos oblongku menempel basah di bagian punggung. Kata-kata Syahrul tentang kantor polisi, kriminal, dan disita sebagai barang bukti terus berputar-putar di dalam kepalaku seperti sebuah kaset rusak yang tidak bisa dimatikan.

Aku berjalan dengan langkah kaki yang lemas masuk ke dalam kamar tidurku yang berantakan. Aku langsung mengunci pintu kamar dari dalam, lalu merebahkan tubuhku di atas kasur yang busanya sudah kempes. Aku menarik kedua kakiku ke atas, menekuknya sampai ke batas dada, lalu memeluk lututku sendiri dengan kedua tangan. Kamar tidur yang biasanya menjadi tempat paling nyaman bagiku untuk tidur seharian atau bermain game online, kini terasa seperti sebuah sel penjara yang sempit dan mengurung pergerakanku.

Aku merogoh saku jaket hitam yang tergeletak di samping kasur untuk mengambil handphoneku kembali. Aku ingin membuka aplikasi WhatsApp untuk melihat apakah Bobby atau anak-anak pos ronda lainnya ada yang mengirimkan pesan baru atau memberikan solusi atas masalah video viral ini. Namun, saat aku membuka grup obrolan pangkalan pos ronda, aku melihat tidak ada satu pun pesan baru yang masuk sejak satu jam yang lalu. Suasana grup obrolan yang semalam sangat ramai oleh tawa dan sorakan kemenangan kini mendadak menjadi sangat sepi dan mati. Aku mencoba mengetik pesan di grup tersebut, "Bob, Rian, Joko, lu semua sudah lihat video CCTV di Instagram kan? Ini pelat nomor motor kakak gua kelihatan samar-samar. Gua harus gimana nih? Tolongin gua."

Lihat selengkapnya