Aku menarik risleting tas ransel hitamku dengan sentakan yang terburu-buru. Di dalam tas itu sudah ada tiga kaos oblong, dua celana jeans, dan jaket flannel tua yang aku masukkan secara asal-asalan tanpa dilipat terlebih dahulu. Uang kertas seratus ribu rupiah dari Bobby sudah aku pindahkan ke dalam saku celana jeans yang aku pakai, bersama dompet kulitku yang hanya berisi KTP dan sisa uang dua puluh ribu rupiah. Semua ini menjadi seluruh modal yang aku miliki untuk melarikan diri dari kota ini menuju ke rumah pamanku di daerah perbatasan luar kota.
Aku berdiri di tengah kamar tidurku yang berantakan, mendengarkan suasana di luar rumah dengan hati-hati. Rumah masih terasa sepi. Ibuku belum pulang dari pasar, dan Syahrul pasti sudah kembali ke pangkalan ojek untuk mengurus masalah motornya yang viral atau mungkin menenangkan dirinya yang mengamuk tadi. Aku tahu ini satu-satunya kesempatan bagiku untuk keluar dari rumah tanpa harus tertangkap atau menghadapi interogasi lebih lanjut dari keluargaku sendiri. Jika aku tetap bertahan di dalam kamar ini sampai sore hari, kemungkinan besar petugas kepolisian sudah akan datang mengetuk pintu depan rumah berdasarkan pelacakan pelat nomor motor kakakku.
Aku menggendong tas ransel hitam itu di punggungku. Aku melangkah keluar dari kamar tidur, berjalan menjinjit melewati ruang tengah menuju ke arah pintu dapur belakang. Aku sengaja tidak memilih keluar lewat pintu depan rumah karena pintu depan langsung menghadap ke arah jalan utama kampung yang sering dilewati oleh tetangga sekitar. Aku tidak ingin ada tetangga yang melihatku pergi membawa tas ransel besar di siang bolong seperti ini, karena hal itu pasti akan menimbulkan kecurigaan yang besar jika nanti polisi datang mencariku.