Langkah kakiku bergerak dengan cepat membelah rimbunnya pohon pisang di halaman belakang rumah. Aku mendorong pagar bambu tua itu sampai menimbulkan suara patahan kecil pada bilahnya, lalu langsung melompat keluar menuju ke sebuah gang kecil yang tanahnya masih becek karena sisa hujan semalam. Di depanku, deretan pohon kamboja besar dan tembok semen yang dipenuhi lumut menandakan bahwa aku sudah sampai di area pemakaman umum kampung. Tempat ini biasanya sangat sepi di siang hari, hanya ada satu atau dua orang penjaga makam yang duduk di bawah pohon beringin dekat pintu masuk utama.
Aku berlari sambil memegangi kedua tali tas ransel hitam di pundakku agar beban pakaian di dalamnya tidak bergoyang terlalu keras dan memperlambat gerakanku. Napasku memburu dengan sangat cepat, terasa panas dan menyakitkan di dalam tenggorokanku yang kering. Suara gesekan daun kering yang terinjak oleh sepatu ketsku terdengar bising di telingaku sendiri, membuatku berulang kali menengok ke arah belakang karena takut ada langkah kaki polisi atau warga yang mengejarku dari arah dapur rumah.
"Sial, sial, sial! Kenapa mereka bisa datang secepat ini!" umpatku dengan suara lirih yang tertahan di antara deru napasku yang terengah-engah.