Aku berhasil memanjat tembok beton pembatas pemakaman umum dengan sisa-sisa tenaga yang ada di dalam tubuhku. Aku melompat turun ke sebuah jalan kampung sebelah yang untungnya sedang sepi dari aktivitas warga karena cuaca siang yang sangat terik dan panas menyengat kulit. Aku membetulkan letak tas ransel hitamku di punggung, lalu berjalan dengan terburu-buru menuju ke arah pertigaan jalan raya utama kecamatan yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan. Suara sirine mobil polisi yang terdengar semakin menjauh, namun hal itu tidak membuat rasa cemas di dalam dadaku berkurang sedikit pun. Aku tahu polisi saat ini pasti sedang memeriksa area kamar tidurku atau menginterogasi Syahrul untuk mencari tahu ke mana aku melarikan diri.
Begitu aku sampai di pinggir jalan raya utama, sebuah mobil angkutan kota atau angkot berwarna biru tua yang bodinya sudah banyak penyok tampak melaju dengan kecepatan sedang dari arah kanan. Aku langsung mengangkat tangan kananku dengan gerakan yang cepat untuk memberi tanda agar angkot tersebut berhenti di depanku. Supir angkot, seorang pria paruh baya yang memakai handuk kecil di lehernya, langsung menginjak rem hingga ban mobil berbunyi mencicit pendek di atas aspal panas, lalu membuka pintu samping kemudi untuk membiarkanku masuk.
"Terminal bus antarkota lewat kan, Bang?" tanyaku dengan suara yang serak dan bergetar karena rasa panik yang masih tersisa di tenggorokanku.