Bunyi papan jalan berklip besi yang menghantam lantai semen gudang terdengar sangat keras di telingaku. Lembaran-lembaran kertas catatan nomor seri barang yang tadinya menjepit rapi kini berhamburan di atas lantai semen yang sedikit berdebu. Suara obrolan tim auditor eksternal yang tadinya lantang mendadak berhenti total. Lorong blok C yang remang-remang di antara dua rak besi tinggi setinggi lima meter itu seketika menjadi sunyi. Aku bisa merasakan pandangan mata dari Sinta dan dua orang auditor pria tersebut tertuju lurus ke arah wajahku dengan tatapan yang penuh rasa heran dan kebingungan.
"Rani, kamu benar-benar tidak apa-apa? Kenapa kagetnya sampai seperti itu?" tanya Sinta sambil buru-buru berjongkok di atas lantai semen untuk membantuku memunguti lembaran kertas laporan keuangan yang berceceran.
Aku berdiri diam selama beberapa detik dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Jantungku berdegup kencang di dalam dada sampai rasanya tenggorokanku tersumbat dan sulit untuk mengeluarkan suara. Bahuku terasa sangat kaku, dan sentuhan tidak sengaja dari pundak auditor pria tadi seolah-olah masih menyisakan rasa panas yang tidak nyaman di kulit lengan kemeja flannelku. Rasa malu yang sangat besar bercampur dengan rasa takut yang luar biasa membuatku ingin segera berlari meninggalkan gudang logistik ini dan bersembunyi di dalam kamar kosku yang aman.