Petugas wanita di dalam loket triplek kayu terminal menerima uang seratus ribu rupiah lecek pemberianku dengan dahi yang sedikit berkerut. Dia sempat menatap wajahku yang penuh dengan keringat dingin selama dua detik, sebelum akhirnya mencetak selembar kertas tiket bus ekonomi berwarna merah muda dan menyerahkannya kepadaku bersama uang kembalian sebesar tiga puluh ribu rupiah. Aku langsung menyambar kertas tiket dan uang kembalian tersebut dengan terburu-buru tanpa menghitungnya kembali, lalu memasukkannya ke dalam saku celana jeansku.
"Bus jurusan perbatasan barat ada di jalur nomor tiga, Dek. Warnanya hijau tua, itu mesinnya sudah menyala dan sebentar lagi mau berangkat." kata petugas wanita itu sambil menunjuk ke arah barisan parkiran bus di luar menggunakan pulpennya.
Aku tidak mengucapkan terima kasih. Aku langsung memutar tubuhku dan berjalan dengan langkah kaki yang lebar dan terburu-buru menuju ke arah jalur nomor tiga. Di sana, sebuah bus ekonomi berukuran besar dengan bodi yang penuh coretan cat semprot dan kaca depan yang retak di sudut kiri tampak sedang mengeluarkan asap knalpot hitam yang tebal dari bagian belakangnya. Deru mesin bus yang bising dan bergetar keras membuat permukaan aspal di bawah kakiku ikut bergetar, memicu rasa tegang yang semakin memuncak di dalam rongga dadaku.