Proses perhitungan barang di lorong blok C gudang logistik akhirnya selesai pada pukul setengah empat sore. Semua nomor seri kardus barang elektronik sudah cocok dengan lembar data akhir tahun yang aku bawa. Sinta berjalan di sebelah kiriku sambil memegang papan jalan berklip besi yang kini sudah penuh dengan tanda tangan dari tim auditor eksternal. Kami berdua melangkah keluar dari area gudang yang pengap menuju ke arah lobi lift utama lantai dasar untuk kembali ke ruangan divisi akuntansi di lantai dua.
Kami masuk ke dalam kotak lift yang dindingnya terbuat dari besi stanles bersih. Tidak ada karyawan lain yang ikut masuk bersama kami, sehingga suasana di dalam lift berukuran dua kali dua meter itu terasa sangat sunyi. Begitu pintu besi lift tertutup rapat secara otomatis, Sinta langsung menekan tombol angka dua di panel dinding lift. Lift mulai bergerak naik perlahan dengan suara dengung mesin yang halus. Sinta memutarkan tubuhnya menghadap ke arahku, lalu menatap wajahku dengan pandangan mata yang sangat serius.
"Ran, sekarang kita cuma berdua di sini. Kamu tidak bisa bohong lagi sama aku. Kejadian menjatuhkan papan jalan di gudang tadi itu bukan karena kamu pusing atau kurang tidur kan. Kamu kelihatan ketakutan sekali sampai gemetar seperti itu pas pundakmu disenggol. Sebenernya ada masalah apa sih, Ran? Cerita saja, aku ini temanmu." kata Sinta dengan nada suara yang pelan namun sangat menuntut penjelasan yang jujur.