Bus ekonomi hijau tua yang aku tumpangi terus melaju membelah jalan raya luar kota yang penuh dengan debu dan lubang aspal. Deru mesin bus yang bising dan guncangan bodi mobil yang keras membuat tubuhku yang duduk di barisan kursi paling belakang berulang kali terguncang ke kanan dan ke kiri. Tas ransel hitam besar yang aku pangku di atas paha, aku dekap erat-erat dengan kedua tanganku, menggunakannya sebagai pelindung agar keberadaan diriku di pojok belakang tidak terlalu menarik perhatian dari belasan penumpang lain yang ada di barisan depan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu yang berat terdengar berjalan mendekat dari arah lorong tengah bus. Itu suara langkah kaki kondektur bus, seorang pria paruh baya bertubuh kurus yang memakai kaos dalam bergaris dan memegang sebendel kertas tiket di tangan kirinya. Dia berjalan sambil mengetuk-ngetukan sebuah pulpen hitam pada sandaran kursi penumpang yang dilewatinya, memeriksa tiket dari setiap orang yang baru naik dari terminal tadi.
"Tiketnya, Dek. Yang baru naik dari terminal mana tiketnya." kata kondektur bus itu dengan nada suara yang serak dan keras saat tubuhnya sudah sampai di barisan kursi paling belakang, tepat di depan posisi dudukku.