Gang Merpati

Anon1m
Chapter #28

Rani #14

Suara bel otomatis kembali berbunyi dari pengeras suara di langit-langit kantor. Jarum jam dinding di ruang divisi akuntansi sudah menunjukkan pukul lima sore tepat. Suara riuh rendah para karyawan yang merapikan meja kerja langsung terdengar memenuhi ruangan. Mereka bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing setelah seharian lelah bekerja. Sinta memutarkan kursi kerjanya ke arahku, melihatku yang sedang memasukkan pulpen hitam dan sisa roti lapis ke dalam tas ransel.

"Ran, aku duluan ya. Suamiku sudah menjemput di depan lobi bawah. Kamu langsung pulang ke kos saja, jangan mampir-mampir lagi ke tempat lain supaya bisa langsung istirahat." kata Sinta sambil menggendong tas kerjanya.

"Iya, Sin. Hati-hati di jalan ya." jawabku sambil memaksakan senyum tipis di wajahku yang masih terasa kaku.

Setelah Sinta melangkah pergi bersama rombongan karyawan lainnya, aku berdiri dari kursi putar dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Aku menggendong tas ransel hitamku di kedua pundak, menaruhnya di bagian depan dada seperti posisiku saat berangkat ke kantor tadi pagi. Kemeja flannel besar yang longgar tetap aku kancingkan rapat-rapat sampai ke batas leher. Aku berjalan keluar dari ruangan divisi akuntansi, melewati lorong berkarpet abu-abu tebal menuju ke arah lift utama untuk turun ke lantai dasar.

Ketika pintu lift terbuka di lobi utama lantai dasar, suasana di depan gerbang keluar gedung kantor sangat ramai. Ratusan karyawan berdiri berdesak-desakan di dekat pintu kaca otomatis karena di luar sedang turun hujan deras disertai angin kencang. Suara petir yang sesekali menggelegar membuat kaca-kaca gedung ikut bergetar, menambah rasa tidak nyaman di dalam dadaku. Deretan motor milik karyawan dan pengemudi ojol tampak berjajar rapat di area parkiran luar, dengan lampu-lampu utama yang menyala terang membelah air hujan.

Melihat deretan motor dengan lampu yang menyala terang itu membuat jantungku langsung berdegup dengan cepat. Pikiranku yang dipenuhi trauma langsung teringat pada suara mesin motor matic yang kasar dan lambaian tangan kiri berjaket hitam di Gang Merpati semalam. Rasa panik yang sangat besar seketika menyerang seluruh kesadaranku. Aku menghentikan langkah kakiku di tengah lobi, memeluk tas ransel di depan dadaku erat-erat dengan kedua tangan yang mulai terasa dingin dan basah karena keringat. Aku merasa sangat takut untuk melangkah keluar melewati pintu kaca gedung kantor ini, seolah-olah di balik tirai hujan deras di luar sana, pengendara motor semalam sedang berdiri menungguku di dalam kegelapan untuk kembali merampas rasa amanku.

Lihat selengkapnya