Suara guntur kembali menggelegar dengan sangat keras, membuat permukaan kaca tebal di lobi kantor bergetar untuk kesekian kalinya. Di luar, air hujan seperti ditumpahkan dari langit, membatasi jarak pandang hanya sampai ke pembatas pagar tanaman di pinggir jalan raya. Karyawan-karyawan di sekitarku mulai mengeluh karena jemputan mereka tertahan karena macet. Beberapa orang memilih untuk duduk di sofa lobi sambil membuka handphone, sementara yang lain nekat memakai jas hujan plastik tipis dan berlari menerobos air menuju halte bus terdekat.
Aku berdiri mematung di dekat tiang beton besar, masih memeluk tas ransel erat-erat di depan dada. Jari-jari tanganku terasa dingin. Pikiranku sedang bertarung dengan sengit. Jika aku memilih berjalan kaki menerobos hujan menuju stasiun kereta komuter seperti biasanya, aku nanti harus pulang melewati Gang Merpati. Membayangkan gang yang gelap. licin karena air, ditambah suasana sepi karena terjadi hujan deras, membuat seluruh persendian kakiku langsung terasa lemas. Ketakutan itu terlalu besar untuk dilawan. Aku tidak berani menginjakkan kaki lagi di gang itu saat waktu malam.
Opsi kedua adalah memesan taksi mobil online melalui aplikasi di handphone. Naik mobil berarti aku akan berada di dalam ruangan tertutup yang aman dari sergapan motor di jalanan. Aku merogoh kantong kemeja flannelku, mengambil handphone, lalu membuka aplikasi transportasi online. Namun, ketika aku melihat tarif yang tertera di layar, jantungku berdegup cemas karena alasan yang berbeda. Biaya perjalanan mobil dari kantor menuju kosku melonjak menjadi tiga kali lipat dari tarif normal akibat status hujan deras dan kemacetan di pusat kota.
Angka di layar handphone itu membuatku beralih memikirkan kondisi keuanganku. Uang di rekening tabunganku sudah sangat pas-pasan setelah sebagian besarnya aku transfer ke kampung halaman dua hari lalu untuk biaya sekolah adikku. Jika aku membelanjakan uang yang tersisa untuk ongkos taksi mobil mahal ini, persediaan uang makanku untuk satu minggu ke depan akan habis total. Aku berdiri di tengah lobi dengan perasaan yang putus asa. Tindakan keji pengendara motor semalam tidak hanya menghancurkan ketenangan mentalku, tapi kini juga mulai menyulitkan keputusan hidup paling sederhana, memaksaku memilih antara mengorbankan keselamatan diri atau menghabiskan seluruh sisa uang nafkah yang aku kumpulkan dengan kerja keras.