Layar handphone di tanganku masih menampilkan lingkaran berputar dengan tulisan "Mencari Pengemudi". Sudah lima menit aku berdiri di pojok lobi dekat tiang beton, namun tidak ada satu pun taksi mobil online yang menerima pesananku. Tarif yang sangat mahal di layar seolah-olah menjadi sia-sia ketika semua pengemudi enggan menembus banjir dan kemacetan parah di sekitar pusat kota. Di luar gedung, hujan deras justru semakin lebat dan suara petir menyambar berulang kali dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga.
Aku mematikan layar handphone dengan perasaan campur aduk antara kesal dan putus asa. Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh menit sore. Area lobi kantor perlahan mulai sepi karena beberapa karyawan yang membawa mobil pribadi sudah keluar dari area parkir bawah tanah. Petugas satpam gedung yang memakai seragam hitam tampak berjalan mendekati pintu kaca otomatis, bersiap mengunci sebagian pintu karena malam mulai larut.
"Mbak Rani, belum pulang? Jemputannya belum datang ya?" tanya pak satpam dengan nada ramah saat berpapasan denganku.
"Belum, Pak. Ini masih menunggu taksi online tapi belum dapat-dapat dari tadi." jawabku sambil membetulkan letak tas ransel yang masih aku peluk erat di depan dada.
"Kalau lewat jam enam sore biasanya taksi mobil makin susah masuk ke kawasan ini, Mbak. Jalan raya depan stasiun infonya sudah tergenang air semata kaki. Kalau mau cepat, mending naik ojek motor saja di seberang jalan, mereka biasanya pakai mantel dan tetap narik." saran dari pak satpam memberikan solusi yang menurutnya logis.
Mendengar kata ojek motor membuat seluruh tubuhku mendadak terasa kaku kembali. Jantungku berdegup dengan kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dalam rongga dada. Pikiranku langsung menolak mentah-mentah saran tersebut. Naik motor di tengah hujan deras dan kegelapan malam, dengan posisi duduk di belakang seorang pria asing yang tidak aku kenal, jadi hal terakhir yang akan aku lakukan di dunia ini. Rasa trauma dari Gang Merpati kemarin malam telah membuatku memandang setiap pengendara motor sebagai ancaman fisik yang mengerikan. Pilihanku kini semakin menyusut drastis, bertahan di lobi kantor yang dingin ini sendirian sampai malam, atau memaksa kakiku yang lemas untuk berjalan menerobos hujan deras menuju stasiun kereta dengan risiko harus berhadapan kembali dengan ketakutan di jalanan kota.