Gang Merpati

Anon1m
Chapter #33

Doni #16

Aku meneguk sisa kopi hitam dingin di dalam gelas kaca dengan terburu-buru hingga menyisakan ampas hitam di dinding gelas. Aku meletakkan uang kertas dua puluh ribu rupiah lecek di atas meja kayu sebagai pembayaran untuk kopi dan pisang goreng yang bahkan tidak aku habiskan. Aku menggendong kembali tas ransel hitam di punggungku, lalu melangkah keluar dari warung kopi anyaman bambu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada pria tua pemilik warung.

Udara di luar terminal unit pasar luar sudah berubah menjadi gelap karena sinar matahari sore telah tenggelam sepenuhnya di balik perbukitan barat. Tidak ada lampu jalan neon yang terang seperti di pusat kota, yang ada hanya lampu-lampu pijar kuning berdaya rendah yang dipasang di depan teras ruko kayu warga desa. Angin malam yang bertiup kencang membuat kaos oblongku yang basah oleh keringat dingin terasa menusuk kulitku, membuat tubuku berulang kali menggigil kedinginan di pinggir jalan merah yang becek.

Aku berjalan kaki menyusuri sebuah jalan setapak berbatu yang terletak di samping bengkel motor kecil. Berdasarkan ingatan samar-samarku saat berkunjung bersama ibu beberapa tahun lalu, rumah pamanku berada di ujung jalan setapak ini, melewati sebuah jembatan bambu kecil di atas sungai desa. Sepanjang jalan setapak ini sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik dan katak sawah yang berbunyi bersahut-sahutan di tengah kegelapan malam yang pekat.

Tangan kiriku merogoh saku celana jeans untuk mengambil handphone yang sinyalnya masih menampilkan tanda silang merah. Ketiadaan komunikasi dengan Bobby atau Syahrul membuat pikiranku terus memikirkan hal-hal buruk yang mungkin sedang terjadi di rumah kami. Setiap kali ada suara gonggongan anjing dari arah pekarangan rumah warga desa, jantungku langsung melonjak dengan cepat karena ketakutan yang luar biasa. Aku merasa seolah-olah di dalam kegelapan malam desa yang asing ini, ada mata-mata intelijen kepolisian yang sedang bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintai gerakan pelarianku.

Aku mempercepat langkah kakiku, berkali-kali sepatu ketsku tergelincir di atas tanah merah yang licin karena sisa air hujan. Ego sombong dan rasa bangga yang aku rasakan di pangkalan pos ronda kemarin malam, kini benar-benar telah runtuh total tanpa sisa. Di tempat terasing yang gelap ini, aku menyadari bahwa aku bukan lagi seorang jagoan nekat yang dipuji-puji oleh teman tongkrongan, melainkan hanya seorang pemuda kriminal penakut yang sedang melarikan diri dari kejaran hukum dengan membawa tas ransel berisi pakaian menuju ke sebuah rumah persembunyian yang belum tentu mau menerima kedatanganku.

Lihat selengkapnya