Jam di sudut layar handphoneku sudah berkedip menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit sore. Petugas satpam gedung sudah mengunci tiga dari empat daun pintu kaca otomatis di lobi utama. Suasana kantor benar-benar senyap, menyisakan deru mesin pendingin ruangan yang perlahan dimatikan satu per satu. Aplikasi taksi online akhirnya berhenti berputar dan menampilkan pesan eror karena tidak ada pengemudi yang mau mengambil pesanan di area banjir ini. Pilihanku sudah habis. Aku tidak bisa bermalam di lobi ini sendirian sampai besok pagi.
Aku mengeratkan ikatan tali tas ransel di dada, memastikan laptop kantor di dalamnya tertutup rapat oleh lapisan kain parasut pelindung. Dengan tangan kanan yang masih dingin, aku membuka payung plastik biru mudaku, lalu melangkah keluar melewati pintu kaca lobi menuju pelataran gedung. Begitu kakiku keluar dari batas atap beton, hempasan angin kencang langsung membuat payungku bergeser. Air hujan yang dingin langsung mengenai wajahku, jilbabku, dan kemeja flannelku hingga basah dalam hitungan detik.
Aku berjalan membelah hujan sore yang deras menuju arah stasiun kereta komuter. Jalan raya utama di depan gedung kantor sudah berubah menjadi seperti sungai dangkal berwarna cokelat keruh. Air setinggi mata kaki merendam roda-roda motor yang bergerak merayap di tengah kemacetan parah. Suara klakson kendaraan bersahut-sahutan dengan bising, berkejaran dengan bunyi gemuruh guntur di langit yang gelap. Setiap kali ada sebuah motor matic yang melintas membelah genangan air di samping trotoar tempatku berjalan, aku langsung menghentikan langkah kakiku dan merapatkan tubuh ke arah dinding pagar tembok pembatas ruko warga.
Rasa takut yang luar biasa kembali mencengkeram seluruh kesadaranku. Meskipun suasana jalan raya ini sangat ramai oleh ratusan pekerja yang sama-sama terjebak hujan, aku merasa sangat terasing dan tidak aman. Tatapan mataku bergerak gelisah, memperhatikan setiap sosok pengendara motor yang memakai jas hujan gelap. Aku merasa seolah-olah jalanan basah ini adalah sebuah jebakan besar, dan Gang Merpati yang berada di depan tujuanku adalah mulut singa yang siap menelan sisa-sisa keberanianku yang sudah runtuh sejak tadi.