Langkah kakiku saat berjalan ke dalam Gang Merpati terasa semakin berat. Air luapan selokan yang berwarna cokelat keruh sudah mencapai batas betisku. Dinginnya air hujan menembus celah sepatu sandal, membuat jari-jari kakiku mati rasa. Payung plastik biru yang aku pegang bergoyang keras dihantam angin malam yang membawa titik-titik air hujan langsung ke arah wajahku. Suara gemuruh guntur di atas langit terdengar bersahut-sahutan dengan bunyi riak air yang terbelah oleh langkah kakiku yang gemetar.
Suasana di pertengahan gang ini benar-benar terlihat gelap. Tidak ada satu pun celah cahaya dari rumah warga yang terlihat, karena sebagian besar pagar tembok mereka dibangun tinggi dengan pintu gerbang besi yang tertutup rapat. Bau busuk dari sampah basah yang terapung di sekitar kakiku membuat perutku terasa mual. Namun, rasa mual itu kalah oleh rasa takut yang luar biasa yang mencencang dadaku hingga sesak. Setiap kali ada selembar daun pisang yang jatuh tertiup angin di atas atap seng ruko kosong, aku langsung menghentikan langkah kakiku dengan jantung yang berdegup kencang.
Aku merapatkan tas ransel di depan dada dengan kedua tangan yang mulai kaku karena kedinginan. Pikiranku terus mengulang ingatan buruk tentang suara putaran mesin motor matic yang kasar kemarin malam. Di dalam kesunyian jalanan ini, telingaku menjadi sangat sensitif terhadap suara apa pun. Ketika dari arah belakang terdengar cipratan air berirama konstan, terdengar seperti langkah kaki seseorang yang sedang berjalan cepat atau berlari mendekat, membuat seluruh otot di tubuhku mendadak terkunci total. Aku terpaku di tengah genangan air, tidak berani membalikkan badan ke belakang, sementara rasa panik yang sangat besar mulai merayap naik dari perut menuju ke dalam kepalaku.