Tatapan mata Paman Madi yang tajam membuatku buru-buru meletakkan gelas kaca air putih ke atas meja kayu dengan gerakan yang agak kikuk. Keringat dingin di pelipisku rasanya mengalir semakin deras, meskipun udara di dalam rumah panggung kayu ini terasa dingin yang bertiup dari celah-celah papan. Aku mencoba mengatur nada suaraku agar tidak terdengar bergetar atau ragu-ragu di depan pamanku sendiri.
"Itu dia, Paman. Handphone ibu dari kemarin sore sedang rusak layarnya jadi tidak bisa dipakai menelepon. Kalau handphone saya sendiri, tadi pas dalam bus ekonomi kehabisan baterai sampai mati total. Makanya saya tidak sempat memberi kabar dulu sebelum berangkat dari terminal kota siang tadi." kataku berbohong lagi sambul menepuk saku celana jeans tempat handphoneku sengaja aku matikan itu berada.
Paman Madi diam sejenak, mengisap rokok lintingan tembakau keringnya dalam-dalam hingga ujungnya menyala merah redup di remang-remang ruang tamu. Dia mengembuskan asap putihnya ke udara, lalu mengangguk-angguk pelan dengan raut wajah yang tampak mulai menerima penjelasanku. "Ya sudah kalau begitu. Yang penting kamu di sini tidak macam-macam. Kamu bisa pakai kamar depan yang kosong di sebelah ruang tengah. Kain kasurnya agak lembap karena jarang dibuka jendelanya, tapi masih aman kalau cuma buat tidur malam ini."
Paman Madi berdiri dari kursi rotan usang, berjalan menuju ke arah pintu kamar depan sambil membawa lampu pijar kecil berdaya rendah untuk dinyalakan di dalam ruangan. Aku langsung menyambar tali tas ransel hitamku yang kotor penuh lumpur dari lantai, lalu melangkah mengikuti pamanku dari belakang dengan perasaan yang sedikit lebih lega karena berhasil melewati kecurigaannya yang pertama.
Kamar depan itu sangat sederhana dengan dinding papan kayu jati yang menghitam dan sebuah ranjang besi tua berukuran kecil di sudut ruangan. Udara di dalam kamar terasa sangat pengap dan bau apek kain kasur yang lembap langsung menyengat hidungku. Begitu Paman Madi keluar dan menutup pintu kamar kembali, aku langsung mengunci pintu tersebut dari dalam. Aku melempar tas ransel hitamku ke atas lantai di bawah ranjang besi, lalu merebahkan tubuhku di atas kasur yang tipis tanpa melepas celana jeans atau jaket flannel tua yang aku pakai.
Di tengah kesunyian kamar yang hanya disinari oleh lampu pijar kuning redup, rasa cemas yang dingin kembali menyerang pikiranku dengan sangat kuat. Aku menatap langit-langit papan kayu sambil mendengarkan suara jangkrik sawah dari luar rumah panggung yang terdengar nyaring. Aku menyadari bahwa kebohongan yang aku rakit di depan Paman Madi hanyalah penundaan waktu sementara.