Suara kecipak air di belakangku terdengar semakin jelas. Bunyi itu memotong suara gemuruh guntur di atas langit yang gelap. Setiap langkah yang diambil oleh orang di belakangku menimbulkan riak air yang getarannya terasa sampai ke betisku yang sudah mati rasa karena kedinginan. Tubuhku benar-benar kaku di tengah genangan air cokelat keruh Gang Merpati. Tangan kananku meremas gagang payung plastik biru yang bengkok dengan kencang, hingga buku-buku jariku memutih dan terasa ngilu. Aku ingin sekali berlari, tapi rasa takut yang teramat sangat membuat otot-otot kakiku seperti lumpuh total, tidak mau bergerak seolah-olah tertanam di dalam aspal jalanan.
Pikiranku langsung berputar liar ke kejadian kemarin malam. Bayangan jaket hitam, suara mesin motor matic yang kasar, dan sentuhan telapak tangan yang mencengkeram dadaku kembali muncul dengan sangat jelas di dalam kepala. Rasa terhina dan panik meledak secara bersamaan, membuat napasku menjadi sesak dan pendek-pendek. Aku tidak berani menoleh ke arah belakang karena takut melihat wajah pengendara motor kemarin malam berdiri di sana untuk menyakitiku lagi. Air mataku mengalir semakin deras, menyatu dengan dinginnya air hujan yang terus membasahi wajah dan jilbabku yang sudah basah kuyup.
"Neng... Neng Rani? Ini bener Neng Rani?" sebuah suara pria paruh baya tiba-tiba memecah kesunyian dari arah belakang tubuhku.
Mendengar namaku dipanggil membuatku tersentak kaget. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Dengan sisa-sisa keberanian yang aku miliki, aku memutar tubuhku secara perlahan di tengah genangan air untuk melihat siapa sosok yang mengikutiku sejak tadi. Di bawah rintik hujan yang remang-remang, aku melihat seorang pria paruh baya yang memakai jas hujan plastik berwarna hijau terang yang sudah agak robek di bagian bahu. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah senter kecil yang cahayanya berwarna kuning redup, mengarah ke lantai aspal basah di depan kaki kami.