Lampu senter kecil di tangan Pak RT bergoyang-goyang, membelah butiran hujan deras yang masih saja menghantam bumi. Cahaya kuning redup itu akhirnya mengenai permukaan gerbang besi bercat hijau yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Rumah kosku. Melihat gerbang itu membuat persendian di kedua kakiku rasanya seperti lepas dari tempatnya. Perjalanan membelah air luapan selokan di Gang Merpati malam ini terasa seperti sebuah penyiksaan mental yang tidak ada ujungnya.
"Nah, sudah sampai, Neng Rani. Langsung masuk, ganti baju hangat, dan minum jamu atau teh panas supaya tidak masuk angin." kata Pak RT sambil memosisikan tubuhnya agak membelakangi angin kencang agar jas hujan plastiknya tidak semakin robek.
"Iya, Pak RT. Terima kasih banyak sudah mau menemani saya berjalan sampai ke sini. Maaf sudah merepotkan Bapak di malam ini." jawabku dengan suara yang gemetar dan gigi yang saling berantukan karena menahan rasa menggigil di sekujur tubuh.