Dinginnya lantai ubin kamar kos perlahan merembes menembus kemeja flannelku yang basah kuyup. Aku terbangun dari posisiku dengan sekujur tubuh yang terasa kaku dan sendi-sendi yang linu. Kamar kos berukuran tiga kali tiga meter ini terasa sunyi, hanya diisi oleh suara detak jam dinding plastik murah yang berbunyi secara teratur. Hujan deras di luar tampaknya sudah reda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari ujung atap seng ke atas tanah basah di halaman samping.
Aku memaksakan tubuhku untuk bangkit berdiri, meskipun kepalaku terasa pusing seperti berputar-putar. Dengan langkah yang lemas, aku berjalan menuju ke arah lemari pakaian. Aku membuka pintu lemari, mengambil selembar kaos oblong longgar berwarna hitam dan celana training panjang yang kering. Aku melepas seluruh pakaian basahku dengan gerakan yang terburu-buru, melempar kemeja flannel dan jilbab yang penuh dengan air hujan itu ke dalam bak keranjang pakaian kotor di sudut ruangan. Begitu kain kering menyentuh kulit tubuhku, ada sedikit rasa hangat yang kembali, namun rasa hangat itu sama sekali tidak bisa menyentuh ketakutan yang masih membeku di dalam pikiranku.
Aku berjalan mendekati meja belajar untuk melihat handphone yang sejak sore tadi aku letakkan di samping tas ransel. Layar handphone menyala menampilkan tiga panggilan tak terjawab dari nomor kantor dan sebuah pesan teks dari Sinta yang dikirim sekitar jam delapan malam tadi.
"Ran, Pak Bambang tadi tanya soal berkas penyesuaian pajak yang belum kamu upload ke sistem cloud perusahaan. Kalau kondisimu sudah mendingan, tolong segera dikirim ya karena besok pagi jam delapan dokumen itu mau dicetak untuk kebutuhan audit final." isi pesan dari Sinta tertulis di layar.
Membaca pesan itu membuatku menatap ke arah tas ransel hitam yang berisi laptop kantor dengan tatapan mata yang penuh rasa muak dan lelah. Angka-angka laporan keuangan, tabel audit, dan urusan pekerjaan yang biasanya aku kejar dengan penuh semangat kini terasa seperti tumpukan benda mati yang sama sekali tidak penting lagi bagi hidupku. Perbuatan keji pengendara motor matic di Gang Merpati kemarin malam telah mengubah seluruh urutan prioritas di dalam kepalaku. Aku merasa tidak berdaya, menyadari bahwa di saat aku sedang berjuang setengah mati untuk menyembuhkan luka trauma di dalam pikiranku, dunia luar di tempat kerjaku tetap berjalan menuntut profesionalisme tanpa mau peduli pada kehancuran emosional yang sedang aku hadapi sendirian di dalam kamar kos yang sepi ini.