Sinar matahari pagi kembali menembus celah gorden jendela kamar kosku. Alarm handphone berdering keras menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku terbangun dengan rasa lelah yang masih menumpuk di punggung. Setelah mandi dan memakai kemeja batik longgar yang tidak menonjolkan bentuk tubuh, aku mengambil laptop kantor dari dalam tas ransel. Aku menyalakan laptop, lalu menekan tombol kirim untuk mengunggah berkas penyesuaian pajak yang semalam diminta oleh Pak Bambang. Tugas profesionalku sebagai staf akuntansi akhirnya selesai, namun pikiranku tidak berada di sana lagi.
Aku mematikan laptop, lalu mengambil handphone untuk memeriksa akun informasi lokal yang mengunggah video kejadian malam itu. Di bawah postingan video rekaman CCTV Gang Merpati, ada sebuah pembaruan berita resmi dari pihak kepolisian kecamatan yang ditulis di kolom deskripsi.
"Pihak kepolisian sektor jajaran kota telah mengamankan satu orang saksi kunci berinisial B terkait kasus pelecehan jalanan di Gang Merpati. Petugas saat ini sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku utama yang identitas kendaraan motornya sudah diketahui. Korban diharapkan segera mendatangi kantor polsek terdekat untuk membuat laporan resmi guna keperluan penyelidikan lebih lanjut." bunyi tulisan di layar handphone tersebut.
Melihat pengumuman resmi itu membuat jantungku langsung berdegup dengan kencang hingga menimbulkan rasa perih di dalam rongga dada. Jari-jari tanganku kembali terasa dingin. Rasa takut dan rasa malu bertarung dengan sangat hebat di dalam pikiranku. Jika aku pergi ke kantor polisi, aku harus menceritakan kembali secara detail kronologi saat telapak tangan kasar pengendara motor berjaket hitam itu mencengkeram dadaku di depan para petugas polisi pria yang bertugas di sana. Aku harus menghadapi tatapan mata orang-orang yang akan memandangku sebagai korban kejahatan seksual.
Namun, ketika aku melihat kembali ke arah gorden jendela kamar kosku yang sempit, aku menyadari bahwa mengurung diri di dalam kamar ini tidak akan pernah mengembalikan rasa amanku yang sudah hilang. Trauma ini akan terus mengurung pergerakan hidupku jika aku memilih diam dan membiarkan pelaku kejahatan itu berkeliaran bebas di luar sana. Dengan sisa-sisa keberanian yang aku kumpulkan dari rasa marahnya harga diriku yang diinjak-injak, aku memasukkan KTP dan handphone ke dalam tas ransel kecil, lalu berjalan keluar membuka pintu kamar kos menuju arah pangkalan angkutan kota untuk mendatangi kantor kepolisian sektor kota pagi ini juga.