Papan nama bercat putih di depan gerbang besi bertuliskan "Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu" atau SPKT Polsek jajaran kota berdiri tegak di bawah terik matahari pagi. Langkah kakiku terhenti sebentar di undakan anak tangga beton teras kantor polisi. Tangan kananku meremas tali tas ransel kecil di depan dada, sementara telapak tanganku terasa dingin dan basah oleh keringat. Hawa pengap bercampur aroma minyak kayu putih dan asap rokok dari ruang tunggu langsung menyengat hidung begitu aku mendorong pintu kaca depan yang berat.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa kami bantu? Mau membuat laporan kehilangan atau pengaduan lainnya?" tanya seorang petugas polisi muda yang duduk di balik meja administrasi tinggi, memakai seragam cokelat rapi dengan emblem nama di dada kanan.
Aku berjalan mendekati meja tersebut dengan kepala menunduk. Tenggorokanku mendadak terasa kaku kembali. Di dalam ruangan lobi yang cukup ramai oleh beberapa warga yang sedang mengurus berkas kehilangan, suara ketukan jari petugas di atas papan tik komputer terdengar nyaring. Rasa malu yang sangat besar kembali mencengkeram pikiranku, memaksaku untuk memikirkan kembali pilihanku datang ke tempat ini.
"Saya... saya mau melaporkan kejadian pelecehan di jalan yang viral di media sosial kemarin, Pak. Kejadiannya di Gang Merpati dua malam yang lalu." kataku dengan nada suara yang pelan dan terbata-bata.
Petugas polisi muda itu langsung menghentikan gerakan mengetiknya. Dia menatap wajahku dengan pandangan mata yang serius, lalu mengangguk-angguk pelan. "Oh, kejadian pelecehan yang rekamannya dari kamera CCTV warga itu ya, Mbak? Mari ikut saya ke ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak di lantai dua. Petugas penyidik wanita kami sudah menunggu laporan resmi dari Mbak sejak kemarin sore."
Aku melangkah mengikuti petugas tersebut menaiki anak tangga beton menuju lantai dua. Di dalam sebuah ruangan berukuran empat kali empat meter yang sekat dindingnya dicat warna hijau muda, seorang polwan menyambutku dengan ramah. Aku duduk di atas kursi plastik di depan meja kerjanya. Saat lembar kertas berita acara pemeriksaan mulai diletakkan di depanku dan polwan tersebut menanyakan detail menit-menit di mana tangan kasar berjaket hitam itu mencengkeram dadaku, air mataku kembali menetes jatuh ke permukaan meja kayu. Namun kali ini, air mata itu tidak lagi disertai dengan rasa lumpuh ketakutan, melainkan sebuah ketegasan emosional yang menuntut keadilan atas harga diriku yang telah dirusak di jalanan.