Mobil minibus abu-abu gelap milik petugas kepolisian bergerak melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya luar kota yang penuh dengan debu. Guncangan bodi mobil yang keras membuat tubuhku yang duduk di barisan kursi tengah berulang kali terdorong ke arah depan hingga dadaku membentur bagian belakang kursi kemudi. Kedua pergelangan tanganku yang berada di belakang punggung terasa perih dan kaku karena lingkaran besi borgol baja mengunci kulitku dengan kencang.
Di sebelah kananku, Syahrul duduk menyandarkan kepalanya pada kaca jendela samping mobil yang bergetar. Dia sama sekali tidak mau menengokkan wajahnya ke arahku atau mengucapkan sepatah kata pun sejak mobil bergerak meninggalkan halaman pagar kayu randu Paman Madi. Wajah kakakku itu kelihatan sangat lelah dan menyimpan rasa kecewa yang mendalam atas perbuatan bodoh yang aku lakukan.
"Doni, kamu dengar saya baik-baik ya. Begitu kita sampai di kantor polsek kota nanti, kamu langsung berterus terang kepada tim penyidik. Jangan mencoba berbohong atau berbelit-belit lagi karena seluruh barang bukti berupa jaket hitam dan motor matic milik kakakmu sudah kami amankan di kantor." kata Pak Edi yang duduk di samping kursi supir depan, tanpa membalikkan badannya ke arahku.
"Iya, Pak." jawabku dengan suara yang serak, pelan, dan gemetar ketakutan dari barisan kursi tengah.
Keringat dingin terus mengalir deras dari kulit kepalaku, membasahi seluruh wajah dan membuat kaos oblong yang aku pakai terasa semakin basah dan lengket di kulit badan. Pandangan mataku bergerak dengan sangat gelisah menatap pemandangan deretan pohon kelapa dan ruko-ruko pinggir jalan yang bergerak mundur dengan cepat. Aku menyadari bahwa perjalanan di dalam mobil minibus ini membawa hidupku langsung menuju ke pintu gerbang sel tahanan yang dingin, meninggalkan seluruh kebebasan hidupku di luar sana.