Ujung pulpen hitamku menekan permukaan kertas putih tebal di atas meja kerja ibu polwan. Aku menorehkan tanda tangan di atas nama lengkapku yang tertera di bagian paling bawah lembar berita acara pemeriksaan. Suara ketikan papan tik dari meja sebelah terasa menjauh, digantikan oleh rasa lega yang perlahan mengisi rongga dadaku yang sejak dua hari lalu terasa sangat sesak dan nyeri.
"Terima kasih atas keberaniannya, Mbak Rani. Laporan resmi ini sudah sah. Pelaku utama yang berinisial D saat ini sudah berada di dalam sel tahanan bawah tanah kantor polsek setelah dijemput petugas dari daerah perbatasan luar kota malam tadi. Proses hukum akan langsung kami serahkan ke pihak kejaksaan minggu depan." kata ibu polwan sambil merapikan lembaran kertas tersebut ke dalam sebuah map jepit berwarna merah tua.
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Bu." jawabku dengan nada suara yang sudah tidak bergetar lagi.
Aku bangkit berdiri dari kursi plastik, menggendong tas ranselku di pundak kiri, lalu berjalan melangkah keluar dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak. Aku menuruni anak tangga beton kantor polisi satu per satu dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat aku mendorong pintu kaca depan lobi SPKT, udara pagi yang bersih langsung menerpa wajahku. Hujan deras yang mengguyur kota sejak kemarin kini sudah reda sepenuhnya, menyisakan langit cerah berwarna biru.
Aku berjalan kaki menuju ke arah halte angkutan kota yang berada di pinggir jalan raya utama. Trotoar jalanan pagi ini cukup ramai oleh lalu lalang warga yang beraktivitas. Beberapa pengendara motor tampak melintas beriringan di samping jalur bus. Ketika melihat siluet motor yang lewat, jantungku masih sempat berdegup agak cepat, namun ingatan itu tidak lagi membuat seluruh otot tubuhku terkunci seperti lumpuh di tengah jalan. Aku tahu bahwa proses penyembuhan trauma di dalam kepalaku masih membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa pulih total, tapi dengan menandatangani berkas laporan tadi, aku telah merebut kembali hak atas rasa aman dan harga diriku yang sempat dirampas secara paksa di dalam suasana sepi di jalanan Gang Merpati.