Gang Merpati

Anon1m
Chapter #51

Doni #25

Suara selot besi berukuran besar yang digeser dengan bunyi berdecit nyaring bergema di sepanjang lorong bawah tanah kantor kepolisian sektor kota. Petugas jaga yang memakai seragam cokelat tebal mendorong pundak kananku secara kasar, memaksa tubuhku yang lemas untuk melangkah masuk melewati jeruji besi yang terbuka lebar.

"Masuk lu! Jangan bikin keributan di dalam!" kata petugas jaga tersebut dengan nada suara yang keras dan dingin, sebelum menarik kembali daun pintu besi jeruji dan menguncinya dari luar menggunakan sebuah gembok baja yang besar. Bunyi klang yang nyaring dari besi yang saling berbenturan itu menandakan berakhirnya kebebasan hidupku di luar sana.

Aku berjalan dengan langkah kaki yang gemetar tanpa menggunakan alas kaki menuju ke sudut ruangan sel tahanan yang suasananya remang-remang dan pengap. Bau pesing bercampur aroma lembap dari bak mandi semen di pojokan langsung menyengat hidungku secara langsung. Di dalam sel berukuran empat kali empat meter ini, sudah ada lima orang tahanan lain yang duduk bersandar di dinding tembok dengan pakaian kotor yang compang-camping. Mereka menatap kedatanganku dengan pandangan mata yang sangat dingin dan tidak bersahabat.

Aku merosot turun sampai posisiku duduk berjongkok di atas lantai semen yang dingin di dekat jeruji besi depan. Kedua tanganku yang sudah terlepas dari borgol baja kini aku gunakan untuk memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing dan mau pecah.

Di dalam sel tahanan yang sunyi ini, aku mendengar suara tangisan wanita yang terdengar samar-samar dari arah ruang tunggu atas kantor polsek. Itu adalah suara tangisan ibuku yang datang bersama Syahrul untuk membawakan pakaian ganti bagiku. Mendengar suara tangisan ibu membuat rasa penyesalan yang luar biasa besar akhirnya meledak di dalam dadaku. Segala ego jagoan nekat, rasa bangga kelompok tongkrongan, dan tawa sombong yang aku pamerkan di pangkalan pos ronda, kini tidak menyisakan apa pun selain rasa malu yang mendalam bagi seluruh keluargaku. Aku menyadari bahwa perbuatan bodoh yang aku anggap sebagai lelucon murahan di jalan sepi itu kini telah resmi melempar hidupku ke dalam lubang kehancuran masa depan di balik jeruji besi penjara yang dingin.

Lihat selengkapnya