Gang Swadaya

Ayu febriana
Chapter #1

Pecah Piring

Musim kemarau sudah dimulai sejak sebulan yang lalu, tepatnya di kota Tanjung Balai Asahan. Letak kota ini berada di tepi sungai terpanjang di provinsi Sumatera Utara, yakni sungai Asahan. Orang-orang yang tak tahu menahu tentang seluk beluk kota ini selalu menyebut warganya sebagai warga pesisir. Padahal terdapat satu kota lagi yang membatasi antara pulau Sumatera dengan laut Selat Malaka. Meskipun berjarak satu kota dari laut, namun hawa panas dari air laut yang menguap tentu saja masih sedikit terasa disini. Suhu panasnya berada di level yang berbeda, ada sensasi menyengat yang membakar, berkeringat saja tak ada apa-apanya dibanding tesktur kulit yang awalnya kenyal berubah menjadi kering bersisik. Seluruh warga kota madya Tanjung Balai Asahan pasti merasakannya, tak terkecuali warga gang Swadaya.

Seolah tak menghiraukan terik matahari yang terus membakar kulit, tampak sepuluh orang anak yang terbagi menjadi dua kelompok sedang berlari-larian dengan riangnya di tengah halaman luas milik keluarga Imah. Salah satu kelompok sibuk mengoper bola yang terbuat dari gulungan plastik belanja dan diikat belasan karet gelang bekas, kemudian membidik target dari kelompok lawan. Namun sayang, upaya tersebut beberapa kali gagal sebab mayoritas dari mereka bertubuh kurus nan ceking yang mendukung gerakan cepatnya sehingga bola meleset beberapa senti saja dari kulit badannya. Sementara pihak kelompok yang menjadi sasaran bahu membahu menyusun pecahan ubin satu persatu sampai membentuk sebuah menara kecil sambil tetap berusaha menghindar dari bola lawan. Permainan sederhana ini sering dimainkan oleh anak-anak daerah sekitar, permainan pecah piring namanya.

Permainan berakhir kala Putra berhasil menyelesaikan susunan ubin tersebut, bukannya kelelahan mereka justru bersorak merayakan kemenangannya. Mengolok-olok lawan yang kalah dengan berbagai macam gerakan, ada yang menjulurkan lidahnya, menggoyang-goyangkan pantatnya, dan ada pula yang menggeram seperti motor yang sudah lama tak diganti olinya.

“Awas! Nanti kalian kena langgar,” seru Ratih sembari menekan klakson motornya berkali-kali. Sontak mereka berlari menghindar dan euforia kemenangan barusan mau tak mau harus dihentikan, bukan karena takut diserempet motor melainkan takut disemprot oleh Ratih yang terkenal galak. Tak ada satupun yang berani mencari perkara dengannya, salah sedikit telinga mendadak jadi tuli akibat mendengar bentakan dan omelan pedasnya. Setelah motor terparkir di depan teras, mereka memandangi Ratih yang sedang membawa barang belanjaannya ke dalam rumah. Maklum, pekerjaan keluarga mereka sebagai pedagang kue mengharuskan Ratih selaku anak semata wayang untuk sering berbelanja dalam jumlah yang cukup besar.

“Si Sari tadi bodoh kali kan woy, melempar bola saja tak bisa. Geneng,” celetuk Putra sesaat setelah Ratih mengangkut karung tepung terigu. Rupanya ia masih belum puas mengejek pihak lawan yang kalah. Bibirnya sengaja di miring-miringkan mirip kakek cangkul kala mencemooh korbannya. Ucapan tersebut disambut gelak tawa dari teman-temannya, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa mereka satu pemikiran. Tak ayal kejadian itu menyulut emosi Sari, sebagai anak perempuan sulung pantang baginya diremehkan oleh laki-laki.

“Kau jangan sembarangan, karang kulempar kepala kau pake batu!” Sahutnya dengan nada mengancam. Raut wajahnya mengeras, matanya melototot, seakan tak ada keraguan dalam kalimatnya.

“Lempar lah kalau kau berani,” balasnya menantang seraya membusungkan dadanya. Ia berpikir tak akan ada yang bisa dilakukan oleh anak perempuan yang lebih muda darinya, meski anak sulung sekalipun, laki-laki pasti selalu menang. Tetapi kebanggaan itu terpaksa surut tatkala matanya mengikuti gerakan cepat Sari yang berbalik, memungut batu bata di bawah kakinya, kemudian melemparnya sekuat tenaga tepat ke arah kepalanya sendiri. Cepat sekali! Beruntung ia dapat menghindar berkat bantuan temannya yang spontan menarik tangan kirinya, jantungnya mencelus menyadari kepalanya selamat dari lemparan brutal.

BRAKKKK

“Apa yang kalian buat tu?!” Ratih berteriak, terkejut bukan kepalang mendapati pelindung lampu dan spakbor belakang motornya sudah pecah tak berbentuk. Matanya melotot seolah hendak keluar dari sarangnya, nafasnya naik turun, lelah dan amarah yang memuncak kini bercampur jadi satu. Tak terbendung lagi, kakinya melangkah cepat ke kerumunan anak-anak yang kini sudah menunduk, takut dimarahi dan menyesal mengapa tadi mereka tidak langsung melerai pertengkaran kecil kedua temannya. Sementara itu, Imah dan nek Siti pun ikut keluar menyaksikan peristiwa mengejutkan itu.

“Siapa tadi yang melempar batu, hah?” tanya Ratih, yang mungkin saja kedengarannya lebih mirip menggertak daripada bertanya. Ditatapnya satu persatu anak-anak dihadapannya, termasuk Putra yang masih terduduk di tanah. Masih belum hilang keterkejutannya dengan aksi nekat Sari, sekarang malah ditambah harus mendengar bentakan Ratih yang sangar.

Tatapan mata Ratih menusuk, menduga-duga siapa sekiranya yang berpotensi menjadi pelaku. Kini pandangannya terpaku pada seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari anak-anak lainnya, kulitnya hitam, dan rambut keritingnya berwarna kemerahan menyerupai jambul jagung tua akibat sering beraktifitas dibawah panas matahari. Meskipun Ratih tak bicara, tapi semua orang pasti tahu kalau ia terang-terangan menuduhnya. Memang dari sepuluh orang anak disitu penampilannya lah yang paling meyakinkan, seperti ada kalimat pengakuan “Aku Berandal” tertulis diwajahnya.

“Bukan aku kak, Sari tadi yang melempar batu.” Ucapnya kemudian setelah sadar ia nyaris dicurigai sebagai tersangka.

“Apa pula, ondak melempar si Putra tadi aku kak, tapi dia mengelak.” Sari mencoba membela diri, tak terima disalahkan. Menurutnya Putra lah yang merupakan biang kerok dari masalah ini, takkan ada asap jika tak ada api!

“Tak peduli aku, pokoknya panggil omak kau sekarang!” Putus Ratih cepat, tak berminat mendengar alasannya. Di dalam benaknya saat ini, harus ada yang mau bertanggungjawab mengganti rugi kerusakan motornya, siapa pun itu. Sari langsung bergegas pergi seraya menghentak-hentakkan kakinya dengan keras untuk menunjukkan kekesalan hatinya.

“Ada apa ribut-ribut wong?” tanya Linda, tetangga sebelah rumah sekaligus adik ipar Imah. Tangannya mengucek-ngucek kedua matanya sendiri, tampaknya dia baru bangun dari tidur siang.

“Biasalah anak-anak, waktu lagi main-main tak sengaja motor si Ratih kena lemparan batu, pecah lah,” jelasnya sembari memperhatikan nek Siti yang sedang memungut pecahan pelindung lampu dan spakbor belakang motor yang berserakan.

“Bah, siapa yang melempar?”

“Si Sari.”

“Tidak ya wak, anakku sudah bilang, katanya si Putra lah yang memancing-mancing. Kalau tak diejeknya anakku, takkan mungkin anakku melempar batu!” Sergah Dian dari sisi belakang rumah Ramlah, menuding penjelasan Imah yang dirasanya tak dapat diterima nalar. Nampaknya Sari sudah mengadu berdasarkan perspektif dirinya sendiri.

“Apa-apaan kau, datang-datang malah menyalahkan anak orang. Kau pikir lah dulu, wajar rupanya melempar orang pakai batu? Sudah gila anak kau, senget!” Balas Linda sengit, jari telunjuknya sengaja diposisikan miring tepat di depan jidatnya.

“Jaga mulut unde, anakku sudah bicara elok, tapi anak unde yang marisingkan!” Gerakan absurd yang diperagakan Linda barusan semakin membuat Dian kesetanan. Dadanya naik turun, dengusan di hidungnya terdengar makin keras mirip banteng yang sedang bersiap menyeruduk kain merah.

“Kalau begitu saja marah, bacemano ondak punya kawan. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit melempar batu.”

“Ah jangan jobu, aku tak peduli siapa yang salah siapa yang benar disini, intinya kalian harus perbaiki motorku!” Ratih mulai jengah mendengar pertengkaran antara sepupu dan bibinya itu. Sedang ia sendiri tak mau ambil pusing.

Lihat selengkapnya