Garis Batas Sang Dewi

Laela Almaidah
Chapter #1

Visi Tanpa Misi

Tiga tahun berpacaran dan lima tahun pernikahan. Kupikir waktu selama itu cukup untuk kami saling mengenal luar dan dalam. Aku seakan paling mengenal dia dengan sangat baik. Usianya sudah cukup matang dan sepertinya dia sosok yang dewasa dan tidak banyak bicara.

Dengan keyakinan penuh, aku menggantungkan banyak harapan di pundaknya. Ku percayakan kebahagiaanku di tangannya. Aku yakin tujuan kami sama.

Namun, entah sejak kapan hatiku gelisah dan mulai dihinggapi keraguan dengan keputusanku memilihnya sebagai nakhoda kapal yang akan ditumpangi. 

 Apakah dia sudah punya lisensi untuk berlayar? Atau masih dalam masa magang?

Pertanyaan yang selalu kuhindari sejak janji suci itu terucap. Semakin hari bukannya menghilang, kini keraguan itu justru tumbuh subur menjadi ketakutan baru

bagaimana kalau kami tidak sampai ke tujuan sampai akhir?


***

Beberapa tahun silam, saat kami masih pacaran, janjinya begitu manis. Ridwan bilang, aku tidak perlu lagi bekerja; ia menyarankan aku lebih baik di rumah mengurus anak kami kelak. Katanya, dia tak mau menitipkan anak pada neneknya.

"Kasihan Ibu. Biarkan Ibu istirahat, sudah cukup beliau mengurusmu sampai dewasa," begitu ucapnya mantap. Dia berjanji akan bekerja lebih keras untuk kami. Aku mengangguk setuju, jarang ada calon menantu yang memikirkan calon ibu mertua sejak awal.

Tapi nyatanya setelah menikah, janji itu menguap entah ke mana. Keraguanku diperkuat dengan pendapatannya yang belum stabil. Aku meminta penambahan waktu untuk bekerja, mungkin setelah kelahiran anak kami, aku bisa mengajukan resign.

Sekarang saja sudah kekurangan, bagaimana kalau sudah ada anak, apa dia bisa memenuhi semua kebutuhan kami?

Selama menikah, seluruh gajiku justru habis untuk menambal kekurangan biaya rumah tangga yang tak bisa Ridwan cukupi. Uang yang seharusnya disisihkan untuk tabungan ‘rumah impian’ kami, tak pernah bisa terkumpul. Semuanya ludes, habis oleh risiko dapur sehari-hari.

Aku sempat termenung melihat daftar pengeluaran setiap bulannya yang tidak ada perubahan, sebaiknya aku berdiskusi menanyakan solusi terbaiknya kepada Ridwan. 

"Apa aku yang terlalu boros ya, Kang? Kenapa aku nggak bisa nabung?" heranku melihat rincian pengeluaran yang kubuat sendiri.

Terbiasa mengelola keuangan di kantor membuatku ingin mempraktekkannya sendiri di rumah, berharap agar lebih rapi dan transparan.

Sementara aku sibuk melihat buku anggaran dengan perasaan bingung, disampingku ada Ridwan yang sedang asyik bertukar kabar dengan teman-temannya. 

Padahal mereka sering bertemu di tempat kerja, tapi entah apa yang selalu mereka bahas? Seolah percakapan mereka tidak pernah ada habisnya.

"Hah? Oh… kamu harusnya lebih pintar mengurangi pengeluaran yang nggak perlu," jawabnya santai tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.

"Tapi aku sudah memangkas pengeluaran yang nggak penting. Bahkan aku mengganti merek makeup-ku ke yang harganya lebih terjangkau, untungnya cocok di kulitku," keluhku meraba kulit wajahku yang sedikit lebih kusam dari sebelumnya.

"Ya udah, sabar saja dulu saja. Nanti setelah Akang sukses, kamu bisa ganti lagi makeup ke merek yang dulu," hiburnya tenang tanpa merasa bersalah. Aku hanya bisa mendengus kesal, bosan dengan kata-kata yang sama.

Dulu, kata-kata seperti itu terdengar seperti harapan yang indah di telinga, tapi kini terasa hanya ucapan yang hampa, aku tidak mau lagi percaya dengan ucapannya, setiap janjinya tidak pernah ditepati.


***

Pikiranku semakin hari semakin kalut. Aku teringat nasehat seorang teman di kantor, katanya ‘rezeki suami bisa seret, kalau istri masih membantu suami bekerja di luar rumah,’

Kalimat itu selalu berputar di otak. Aku mulai menyalahkan diriku sendiri, memupuk prasangka bahwa mungkin akulah penyebab Ridwan tidak berkembang.

Lihat selengkapnya