Garis Batas Sang Dewi

Laela Almaidah
Chapter #2

Komunikasi Dua Arah

Suasana kantin hari ini terasa lebih ramai dari biasanya. Suara dentingan sendok yang bergesekan dengan piring, belum lagi suara obrolan dari gerombolan karyawan di setiap meja yang berkumpul, terdengar seperti sebuah dengungan untukku, berhubung tim marketing sedang mengadakan rapat evaluasi awal bulan.

Setelah susah payah berebut sisa makanan di stan, hanya ada beberapa potongan kecil ayam goreng dan gado-gado yang terlihat masih segar. Bersyukur masih ada satu meja kecil dengan dua kursi yang tersisa di pojok kantin—cukup untukku yang hanya sendiri. Sunyi, dingin, dan nyaman. Aku bisa duduk dengan tenang.

Di sela menyantap makan siang, aku mulai berselancar mencari referensi sekolah untuk Arkana di ponsel pintarku. Kalau Ridwan tidak mau direpotkan dengan persiapan Arkana, biarlah aku sendiri yang mengurus dan mencari informasinya dari sekarang. Masa depan Arkana adalah yang utama. Aku tidak peduli lagi dengan pendapat Ridwan; yang penting Arkana bisa daftar sekolah tepat waktu.

"Permisi Mbak, boleh saya bergabung di meja Mbak Aruna? Kebetulan meja lain sudah penuh," tanya seseorang yang berdiri menjulang tinggi di hadapanku sambil memegang nampan makan siang miliknya. Ia tersenyum dengan tatapan yang teduh dan hangat.

Aku melihat sekeliling, memastikan siapa tahu ada meja lain yang kosong. Sayangnya, hanya mejaku yang tersisa. Mau tidak mau, aku pun harus berbagi tempat. Bukannya pelit, tapi aku hanya ingin makan siang dengan tenang tanpa menjadi pusat perhatian. Pria di hadapanku terlalu mencolok di kantor cabang kami yang kecil; pasti akan ada bisikan yang mengganggu.

Bagaimanapun keadaan rumah tanggaku, statusku adalah seorang istri, sedangkan pria di hadapanku ini adalah pria lajang. Tapi untuk menolak pun aku tidak tega, dia pasti butuh asupan setelah menjadi salah satu pembicara di rapat evaluasi yang saat ini tertunda waktu makan siang.

"Iya boleh, silakan Mas," jawabku sopan.

"Terima kasih."

Dia adalah Arka, kepala cabang baru di kantorku. Usianya empat tahun di bawahku, tapi menurutku, dia orang yang hebat karena dengan usianya yang masih terbilang muda sudah dipercaya menjadi seorang pemimpin meski di kantor cabang kecil.

“Tidak bawa bekal, Mbak?” tanya Arka memulai obrolan.

Aku yang terlalu fokus terlambat merespons pertanyaan Arka. Biasanya aku memang lebih suka membawa bekal dari rumah dan makan di mejaku sambil sesekali memeriksa data piutang pelanggan. Aku malas makan dengan kebisingan, lebih menyenangkan kalau aku makan sendiri dengan tenang.

“Oh iya, lagi malas masak,” jawabku ditutup senyum singkat. Gara-gara kejadian semalam, aku jadi malas memasak bekal, makanya aku terdampar di kantin kantor yang sedang penuh ini sekarang.

“Hanya makan ayam goreng?” tanyanya melihat piringku yang hanya berisi nasi dan beberapa potongan ayam kecil.

Aku mengunyah sambil mengangguk kecil. “Iya… aku alergi kacang, Mas,” ujarku memberitahu, seolah mengerti pertanyaannya kenapa aku tidak mengambil gado-gado sebagai tambahan lauk.

Dari sudut mataku, aku melihat dia mengangguk mengerti dan melanjutkan suapannya. Aku kembali fokus menatap ponsel dengan sendok yang masih aku gigit.

"Kayaknya Mbak lagi sibuk, apa saya mengganggu?" tanyanya sungkan.

Aku tersentak. Mungkin dia ingin kami mengobrol saat makan, tidak terlihat seperti dua orang yang kaku sedang berbagi meja.

"Oh, nggak... nggak ganggu sama sekali kok, Mas. Aku cuma lagi fokus memilih sekolah buat anak aku, sampai lupa lagi makan," jawabku sambil mematikan layar ponsel, menyimpannya di samping piring, lalu menyuapkan nasi dan ayamku lagi.

"Wah, memang anaknya sudah umur berapa, Mbak?" tanya Arka antusias.

Lihat selengkapnya