Garis Batas Sang Dewi

Laela Almaidah
Chapter #3

Badai Di Balik Layar

Sore itu, aku baru saja pulang berlibur kecil-kecilan bersama Arkana. Kami hanya pergi berenang berdua; Ridwan tidak ikut dengan kami. Dia lebih memilih tidak mengambil libur dan melewatkan waktu bersama keluarga kecilnya.

Lagi dan lagi dia mengingkari janjinya, padahal kami sudah sepakat untuk berlibur bersama minimal sebulan sekali, sekadar memberikan hadiah kecil untuk Arkana yang harus rela ditinggalkan oleh orang tuanya yang sibuk bekerja.

Tok ... tok ... tok ...

Suara pintu kontrakan kami diketuk pelan.

Siapa yang datang? Formal sekali harus mengetuk pintu segala, batinku heran.

Bergegas aku membuka pintu dan di hadapanku terlihat seorang ibu paruh baya yang sepertinya ragu jika salah rumah.

“Benar ini rumah Ridwan?” tanyanya sungkan.

“I... iya, betul ini rumah Ridwan. Maaf, dengan Ibu siapa?” tanyaku terbata, mulai diserang panik.

Apa mungkin kerabat dari tempat kerjanya? Apa yang dia lakukan? Detak jantungku berdegup kencang. Setiap langkahku menuju kursi tamu dan mempersilahkan ibu paruh baya itu duduk, alarm tanda bahaya mulai berbunyi. Pasti ada hal yang tidak beres di pasar.

Setelah secangkir teh manis hangat tersaji di meja tamu, aku pun semakin takut tapi juga penasaran dengan tujuan ibu ini mendatangi rumah kami.

“Maaf, ada perlu apa dengan Kang Ridwan? Kebetulan beliau masih belum pulang kerja sekarang,” aku menjelaskan dengan sopan. Sungguh, aku kesulitan mengatur ritme jantung yang semakin bertalu. Tanganku mulai dingin dan bergetar menunggu berita besar yang sepertinya akan disampaikan oleh ibu ini.

“Ke mana dia? Sebelum kesini, saya mencari di tokonya tapi masih saja tutup. Sudah tiga hari tokonya tidak berjualan.”

bagaimana?

Dia tidak di toko selama tiga hari ini? Tapi setiap hari dia selalu berangkat, bahkan aku sempatkan membuatnya bekal makan siang untuknya. Lalu kemana dia?

“Saya salah satu pelanggan Ridwan di pasar, kami sudah dekat cukup lama. Saya berharap dia tidak lari seperti yang saya takutkan,” tuturnya menyentakku yang masih berpikir keras ke mana arah obrolan ini.

“Maksudnya?” tanyaku semakin tidak mengerti.

“Ridwan meminjam sejumlah uang kepada saya tiga bulan lalu. Dia berjanji akan membayarnya sebulan kemudian, tapi sudah lewat tiga bulan, dia tidak ada itikad baik untuk membayarnya.”

“Memang berapa uang yang dia pinjam?” tanyaku dengan mulai gelisah. Pasti bukan nominal yang sedikit, bukan? Ibu ini tidak akan menagih jika nominalnya tidak besar.

“Ridwan meminjam sekitar seratus juta.”

Bak petir menyambar di atas kepalaku, mendadak aku merasakan kepalaku berdenyut hebat seperti dihantam balok kayu yang keras, aku juga merasakan sesak di nafasku, seolah seluruh oksigen di ruangan itu ditarik paksa keluar.

Sejenak aku terdiam dan mencoba mencerna berita yang sangat membuatku terkejut luar biasa. Seluruh tubuhku terasa lemas tak bertenaga; darahku seperti berhenti mengalir di tubuh. Untuk apa uang sebanyak itu? Kenapa aku tidak tahu?

“Kenapa kamu kaget? Bukannya kamu yang meminta dia meminjam uang itu untuk modalnya membuka usaha?” tanya ibu itu yang kebingungan melihat responsku yang terkejut.

Dadaku terasa semakin sesak, paru-paruku seperti mengecil. Aku mencoba menghirup oksigen dengan rakus berharap mengurangi rasa sesak yang menyiksa. Otakku terasa kebas. Aku bahkan lupa cara berbicara, bibirku mendadak gagu dan kesulitan bersuara.

“Loh, kamu beneran nggak tahu? Ridwan bilang istrinya yang menyuruh meminjam uang. Katanya dia juga tidak mau kalau bukan kamu yang memaksa,” penjelasan ibu itu semakin memukul akal sehatku dengan sangat keras. Bukan salahnya, aku yang terlalu naif selalu percaya dengan Ridwan.

Ibu itu membiarkanku tenang dari rasa terkejut hebat yang baru saja menyerangku. Setelah beberapa saat, aku mulai tenang, nafasku kembali teratur, wajahku sudah tidak sepucat tadi, dan tubuhku mulai stabil.

“Saya benar-benar tidak tahu tentang utang itu, Bu. Bahkan saya tidak tahu Ibu siapa,” ujarku memulai dan kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda karena serangan panik tadi.

Lihat selengkapnya