Garis Batas Sang Dewi

Laela Almaidah
Chapter #4

Tatapan yang Menjaga

Semalam aku kesulitan memejamkan mata. Pikiranku terus berputar seperti benang kusut. Aku hanya ingin menangis sepuasnya, berharap hatiku bisa sedikit lebih lega. Aku bangun  terlambat dari biasanya dengan keadaan yang sangat kacau.

Aku melihat pantulan diriku di cermin meja rias; mata yang bengkak dan sembab, rambut acak-acakan, dan kepala yang terasa berat serta nyeri. Aku merasa takut melihat bayangan diriku sendiri di cermin itu, tapi dengan terpaksa aku menyisir rambutku agar sedikit lebih rapi dan enak saat dilihat oleh Arkana yang sepertinya sudah bangun, hanya aku yang tersisa di kasur kami.

Sejujurnya, aku hanya ingin berbaring di kasur kamarku yang masih sengaja dibuat gelap, seolah menunjukkan duka yang sama gelapnya dengan kamar ini. Tapi aku masih ingat dengan kewajibanku yang masih harus bekerja dan mengurus Arkana yang ternyata sudah duduk tenang di kursi depan TV menonton film kartun favoritnya.

“Loh, Adek udah bangun?” tanyaku mengabaikan Ridwan di samping Arkana yang selalu asyik dengan ponselnya.

“Iya, Ayah bilang Ibu sakit, jadi aku enggak bangunin Ibu,” jawaban polos Arkana. Aku menatap Arkana dengan rasa kagum dan terharu. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas; di usia yang baru 4 tahun dia sudah lancar berbicara, dia bahkan mengerti dengan kondisi orang tuanya yang tidak baik-baik saja.

“Oh, sayangku.” Aku memeluk tubuh mungil Arkana dengan sayang serta mengusap punggung kecilnya lembut, aku berbisik di telinganya, “Terima kasih sudah mengerti Ibu ya, Sayang.” Arkana pun membalas pelukanku dengan tangan mungilnya yang tidak sampai ke punggungku.

Arkana mengangguk dalam pelukanku. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, tapi dia juga ikut berbisik, “Aku sayang Ibu.” Suaranya sangat jelas terdengar di telingaku, seketika menghangatkan hatiku yang dihancurkan oleh ayahnya. Dia adalah segalanya untukku, aku tidak mau dia ikut terkena imbas dari masalah yang ditimbulkan karena ulah ayahnya sendiri.

Dari sudut mataku, Ridwan terlihat masih memegang ponselnya tapi memperhatikan kedekatanku dan Arkana. Dia memang hadir secara fisik, tapi dia absen secara emosional untuk Arkana yang masih masa belajar ini.

Pagi ini sungguh berat untukku. Selain kepalaku yang masih terasa berat dan mata yang masih terasa lengket, aku melihat wajahku yang masih terlihat kacau. Aku bahkan tidak mengenali wajahku sendiri. Terpaksa aku harus memoles mataku yang bengkak dengan make-up sedikit tebal, berharap bisa menyamarkan sedikit bengkaknya, padahal sudah sempat aku kompres sebelumnya.

Aku harus memaksakan diri tetap berangkat bekerja dan bersikap tidak terjadi apa-apa di hadapan Ibu dan Arkana. Aku hanya tidak ingin Ibu terbebani dengan masalah rumah tanggaku. Ibu dan Arkana tidak perlu tahu badai besar apa yang sedang menerpaku.

Setelah berpamitan, aku berangkat mengendarai motor matic yang sudah aku miliki jauh sebelum menikah. Aku merasa lucu teringat ucapan ibu paruh baya kemarin yang ingin mengambil motorku untuk jaminan pinjaman Ridwan. Aku yang bekerja keras membeli motor ini dari hasil keringatku sendiri, enak saja dijaminkan untuk kebutuhan utang orang lain yang entah dia pakai untuk apa.

Tanpa sadar otakku berselancar melanglang buana entah ke mana. Konsentrasiku buyar ketika motorku oleng. Aku tidak sempat memperhatikan jalan yang tidak rata dan membuat motorku tiba-tiba tidak stabil setelah melintasi jalan yang bergelombang. Kedua kakiku refleks turun dari motor sedangkan kedua tanganku menarik tuas rem sekaligus menyebabkan motor berhenti seketika; tubuhku terdorong keras ke arah depan.

Meskipun aku berhasil mempertahankan bobot motor yang hampir terjatuh ke samping kiri, sayangnya ada rasa sesak di dada akibat benturan tadi. Sepertinya dadaku terbentur stang motor dan tulang kering kaki kiriku terkatup dasbor depan motor cukup keras, menahan bobot motor yang hampir jatuh.

Setelah motornya berhasil aku standarkan, aku membeku diam tidak bergerak. Otakku terasa kebas, detak jantungku berdegup dengan kencang, tangan yang masih memegang stang motor juga gemetar hebat. Aku mengatur nafas perlahan dan memanifestasikan diriku sendiri Enggak apa-apa, aku selamat, cuma sedikit kaget aja, batinku menenangkan diri sendiri. Tidak ada siapapun di jalan itu kecuali aku.

Setelah aku meminum air yang kubawa dari rumah, perlahan aku sudah mulai tenang. Detak jantungku mulai stabil tidak sekencang tadi, tubuhku tidak lagi gemetar. Dengan hati-hati aku kembali menaiki motor dan melanjutkan perjalanan menuju kantor.

Aku hampir sampai, tapi aku mulai merasa sakit dan ngilu di tulang kering kaki kiriku. Mungkin kebasnya sudah hilang dan mulai terasa sakit, tapi lagi-lagi aku mengabaikan itu. Toh, rasa sakit ini tidak seberapa dibanding rasa sakit di hatiku yang selalu menerima pengabaian dan bahkan sekarang ditambah pengkhianatan dari Ridwan.

Sesampainya di parkiran, aku memarkirkan motorku di samping motor Mas Arka. Ya, dia seorang kepala cabang tapi dia sangat fungsional. Dia memilih menggunakan motor miliknya pribadi daripada membeli mobil atau motor keluaran baru seperti para supervisor yang lain. Dia orang yang sederhana.

Sebelum masuk, aku menyempatkan membuka sedikit ke atas celana bahan berwarna hitam yang aku kenakan dan melihat luka memar sedikit biru dan sedikit kulitnya yang mengelupas bekas gesekan keras dasbor motor dengan celana. Setelah kurapikan kembali celananya, aku kembali berjalan dengan kaki yang sedikit pincang. Nanti aku akan beli salep ke apotek depan kantor. Tapi sebelum itu, aku harus hadir di meja kerjaku tepat waktu.

Dari banyaknya orang di kantor, aku hanya berharap semoga tidak bertemu dengan Arka. Bukan aku risih atau terganggu dengan kepekaannya kepadaku yang entah itu hanya sebatas formalitas atau ada hal lain. Yang pasti aku hanya malu terlihat lemah di depannya. Meskipun dia tidak menghakimiku, tapi ada rasa minder jika aku memperlihatkan kerapuhanku di depannya.

Lihat selengkapnya