Garis Batas Sang Dewi

Laela Almaidah
Chapter #5

Patahan yang Patah

Sudah dua bulan berlalu sejak badai utang itu menghantam kehidupanku yang tenang. Namun, Ridwan sedikit pun tidak memperlihatkan rasa menyesal atau rasa bersalah, padahal dia sudah menyeretku yang tidak tahu apa-apa ke dalam pusara utang yang entah dia gunakan untuk apa.

Selama ini, hanya gajiku yang menjadi tumpuan kami. Setelah toko yang dia bangga-banggakan itu bangkrut, Ridwan otomatis menganggur. Beban rumah tangga kini sepenuhnya ada di pundakku, termasuk mencicil utangnya pada ibu paruh baya itu. Ibu yang terlalu baik bahkan sudah menganggap Ridwan seperti anak sendiri hingga berani meminjamkan uang dalam jumlah besar tanpa jaminan apa pun. Gegabah, memang.

Aku sudah lelah berdebat. Bicara dengan Ridwan hanya akan berakhir dengan pertengkaran kosong tanpa solusi. Fokusku sekarang sederhana: aku tidak ingin kehilangan motor—satu-satunya hartaku yang tersisa untuk mobilitasku bekerja—dan memastikan kebutuhan Arkana tetap terpenuhi.

"Kenapa nggak coba daftar ojek online dulu, Kang? Pakai motorku saja. Yang penting ada uang masuk," usulku suatu kali.

"Daftarnya mahal," jawabnya pendek.

Saat aku bilang siap membiayai pendaftarannya, ia berkelit lagi, "Ojek lagi sepi penumpang."

Tak menyerah, aku menyarankan ia menjadi kurir pengantar makanan atau kurir paket. Mengingat tren belanja daring yang makin gila, tenaga kurir pasti sangat dibutuhkan. Tapi, lagi-lagi ia punya seribu alasan: tidak punya modal awal, hingga alasan klasik tidak tahu jalur. Padahal dia lebih tahu jalan tikus daripada aku yang lebih suka jalan utama. Pembohong.

Terakhir, aku menyuruhnya bertanya pada teman-teman yang selalu ia prioritaskan di ponselnya. Teman-teman yang sering membuatnya melupakan keberadaan anak dan istri di depannya. Jawabannya sungguh ironis.

"Mereka sekarang hilang kontak. Nggak ada satupun yang nanyain kabarku," gumamnya. Rasakan itu, batinku pedas.

Malam ini, emosi yang kupendam selama ini nyaris tumpah. Aku baru saja pulang kerja, mendapati rumah berantakan seperti kapal pecah. Arkana sudah tidur lebih awal karena kelelahan ikut neneknya tadi siang. Sambil memunguti mainan yang berserakan, aku melirik Ridwan yang asyik dengan ponselnya, seolah-olah kami sedang baik-baik saja. Jelas dia tidak sama sekali terganggu dengan biaya sehari-hari kami yang sekarang lebih terbatas itu. Toh ia masih menikmati Wi-Fi dan makan dengan tenang, sementara aku harus lebih keras memutar otak agar anggaran rumah tangga tetap stabil.

"Sampai kapan Akang mau nganggur terus?" tanyaku berusaha menahan suara agar tidak gemetar.

"Ini juga lagi nyari di medsos, sabar dulu lah! Aku juga nggak diam kok," jawabnya sewot, matanya tetap terpaku pada layar ponsel. Dia pikir mencari di media sosial akan segampang itu?

"Bukan aku yang nggak sabar, tapi kebutuhan kita nggak cukup dengan kata sabar, Kang!" sahutku telak.

Aku makin meragukan masa depan kami akan aman bersamanya. Capek juga kalau harus terus menopang pria pemalas yang bahkan enggan mengulurkan tangan untuk membantu pekerjaan rumah. Mainan Arkana yang menghalangi jalan saja ia langkahi berkali-kali tanpa niat merapikannya.

Dia masih tidak merespons. Aku masih tetap memungut mainan dan merapikannya ke dalam rak khusus mainan Arkana yang semuanya aku beli dengan gajiku sendiri selama ini. Ridwan hanya tinggal menyuruh membeli keperluan Arkana tanpa memberikan uang tambahan untuk membelinya.

"Kalau begini terus, aku nggak bisa lanjut. Maaf Aku nyerah, Kang," ucapku lirih namun tegas.

Ridwan melempar ponselnya ke kursi. Wajahnya memerah. "Baru diuji segini saja udah nyerah! Harusnya saat-saat kayak gini jadi ladang pahala buat kamu, karena sabar mendampingi suami yang lagi sulit, bukan malah minta pisah!"

Aku hanya bisa menghela napas lelah. Apa katanya? Ladang pahala? Ia bicara soal pahala, tapi membiarkan istrinya makan sambil menggendong anak yang rewel, sementara ia sendiri bersantai? Percuma berdebat dengannya, aku memilih menghela napas lelah dalam diam. Aku beralih ke dapur, memasukkan piring kotor kemarin malam yang tidak sempat aku masukkan ke bak cuci piring setelah berhasil dikumpulkan dari setiap sudut ruang di rumah yang sudah seperti kapal pecah.

Lihat selengkapnya