Garis Merah di Batas Perang

Song Rinrin
Chapter #1

Di Garis Batas

Udara sore di Perbatasan Barat terasa berat, seolah setiap tarikan napas harus berjuang menembus kabut debu dan bau tanah kering yang bercampur dengan aroma besi berkarat dan sesuatu yang amis, samar-samar seperti sisa pembakaran. Di kejauhan, deru mesin alat berat bergema rendah. Langit berwarna abu-abu kekuningan, bukan karena mendung, melainkan karena debu halus yang melayang di udara, menutupi sinar matahari hingga tampak pucat dan tak berdaya. Alya Salsabila menundukkan kepalanya, menarik pinggiran topi lebarnya semakin rendah hingga hampir menutupi seluruh wajahnya. Ia berjalan di pinggiran jalan tanah yang berlobang-lobang, langkahnya cepat namun berhati-hati, seolah setiap langkahnya sedang dihitung oleh mata-mata yang tak terlihat.

Sepatu bot kacanya sudah tertutup lapisan debu tebal, membuat warna aslinya tak lagi terlihat. Di balik kemeja kotak-kotak yang longgar dan jaket yang lusuh, tersembunyi kamera DSLR berat yang terikat rapat di badannya, serta sebuah buku catatan kecil. Benda-benda itu adalah senjatanya. Senjata satu-satunya yang ia miliki untuk melawan raksasa-raksasa yang sedang memakan habis kekayaan tanah ini.

Ia berhenti sejenak di balik rimbunan semak berduri yang tumbuh liar di pinggir jurang kecil. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lelah, melainkan karena adrenalin yang mengalir deras di sekujur pembuluh darahnya. Matanya yang tajam meneliti setiap sudut di depannya, menatap pagar kawat berduri tinggi yang membentang tak berujung, memisahkan hutan yang masih rimbun dengan lahan gundul yang penuh bekas galian dan tumpukan tanah merah yang menakutkan.

Di sana, di balik pagar yang bertuliskan AREA TERLARANG DILARANG MASUK, itulah tempat yang ia cari. Di sanalah rahasia besar itu tersembunyi, dan di sanalah bukti nyata itu berada. “Ayo, Alya. Kau sudah sejauh ini. Jangan berhenti sekarang,” bisiknya pada diri sendiri. Ia merasakan keringat dingin menetes di punggungnya, meski udara terasa kering dan panas. Ia tahu risikonya. Ia tahu betapa berbahayanya melangkah melewati batas itu. Tapi bayangan wajah ayahnya—wajah yang penuh penyesalan dan rasa bersalah—berputar di kepalanya, hingga mendorongnya untuk maju.

Ia harus membuktikan bahwa apa yang tertulis di surat-surat lama milik ayahnya itu benar. Bahwa ada jaringan besar yang sedang merampas kekayaan alam ini, dan ada nama-nama besar yang terlibat di dalamnya. Termasuk nama ayahnya, yang dituduh terlibat padahal ia hanya sekadar kacung yang dibuang saat mulai bertanya-tanya.

Alya menunduk, mencari celah yang sempat ia catat dari pengamatannya dua hari lalu. Di sana, di sudut yang tertutup semak belukar, ada bagian kawat yang sedikit melengkung ke atas, seolah pernah dipaksa terbuka lalu dibiarkan begitu saja. Ia mengeluarkan tang kecil dari saku celananya, tangan kanannya sedikit gemetar, sementara tangan kirinya meraba kamera di balik bajunya untuk memastikan benda itu aman.

“Sedikit lagi . . . hanya sedikit lagi,” gumamnya, napasnya menjadi pendek dan cepat. Ia mulai memotong satu demi satu kawat kecil, bunyi tek . . . tek . . . yang pelan itu terdengar sangat keras di telinganya.

Setiap kali ada ranting yang patah karena angin, ia langsung membeku, matanya mengawasi sekeliling dengan panik, paru-parunya berhenti bekerja sejenak sampai ia yakin aman. Lubang itu akhirnya cukup besar untuk dilewati. Alya menggeser tubuhnya perlahan, kulit lengannya tergores semak dan kawat, rasa perih dan panas segera menjalar, tapi ia tak peduli.

Ia sudah masuk. Kini ia berada di sisi lain, di tanah yang dilarang orang asing injak. Tanah yang dijaga ketat bukan hanya oleh preman bayaran, tapi juga oleh aparat yang seharusnya melindungi wilayah ini. Pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan. Lebih buruk dari apa yang ia bayangkan.

Hutan yang gundul, tanah yang berlubang-lubang menganga seperti luka terbuka, dan truk-truk raksasa yang berbaris panjang membawa muatan tanah merah dan bebatuan berkilauan. Di kejauhan, ada bangunan-bangunan semi permanen dengan bendera perusahaan yang tak bernama jelas berkibar kaku diterpa angin. Alya segera merunduk, bergerak merayap di baik tumpukan kayu kering dan sisa-sisa pohon yang ditebang habis.

Tangan kirinya mengangkat kamera, lensa panjang yang menjulur keluar dari balik jaketnya. Ia harus bekerja cepat. Ia harus memotret bukti aliran sungai yang keruh berwarna merah darah, memotret papan nama proyek yang samar namun cukup jelas untuk diidentifikasi, memotret jalur-jalur yang terbuat dari aspal baru yang seharusnya tidak ada di sini.

Klik. Klik. Klik.

Suara itu terdengar sangat kecil, tapi bagi Alya, rasanya seperti dentuman meriam di tengah keheningan. Ia menggeser sedikit ke kanan, mencari sudut pandang yang lebih baik, mendekat ke arah sebuah papan proyek besar yang tertutup terpal. Jika ia bisa memotret tulisan di balik terpal itu, kasus ini akan terbuka lebar. Namun, saat ia sedang memusatkan fokusnya, tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Bukan langkah santai, melainkan langkah orang yang berjalan dengan disiplin militer.

Dan bukan hanya satu orang, tapi beberapa orang sekaligus. Alya membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir. Ia mengangkat kepalanya sedikit, mengintip dari balik tumpukan ranting kering. Jantungnya seakan melompat ke kerongkongan. Tiga orang berseragam hijau rumpak berjalan berbaris tegak, senjata di punggung mereka terlihat berat dan siap pakai. Dan orang yang berjalan paling depan—pemimpin rombongan itu—memiliki postur tubuh yang tinggi, bahu yang lebar, dan tatapan mata yang tajam seolah bisa menembus apa saja. Wajahnya tegas, rahangnya keras, dan setiap langkahnya memancarkan wibawa yang tak terbantahkan.

Kapten Dimas Wicaksana.

Nama itu terlintas di kepala Alya. Ia pernah mendengarnya dari percakapan warga desa. Seorang perwira muda yang tegas, dingin, dan memegang aturan seperti kitab suci. Orang yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah ini. Orang yang, menurut dugaan Alya, adalah penghalang terbesar bagi kebenaran. Entah ia dibayar diam, atau hanya sekadar patuh buta pada perintah atasannya. Bagi Alya, Dimas adalah bagian dari tembok yang melindungi kejahatan ini.

“Periksa sisi utara! Pastikan tidak ada celah yang terlewat!” suara laki-laki itu terdengar berat, dalam, dan berwibawa, memecah suara deru mesin alat berat di kejauhan. Suara itu membuat bulu kuduk Alya meremang. Ia berusaha mundur perlahan, berniat kembali ke celah pagar tempat ia masuk, menjauh sebelum mereka melihatnya.

Namun, saat ia menggeser kakinya yang terbungkus kain tebal, ujung sepatunya tak sengaja menyentuh tumpukan kaleng bekas yang tersembunyi di balik semak.

KRAK . . . KRING . . .

Suara gesekan logam itu bergema nyaring, memecah keheningan yang menegangkan. Darah Alya langsung mengucur dingin. Ia melihat ketiga seragam itu langsung berhenti berjalan. Kepala mereka berbalik serentak ke arah tempat ia bersembunyi. Dan yang paling mengerikan adalah tatapan mata pemimpin mereka—mata itu menatap tepat ke arah semak tempat Alya bersembunyi.

”Siapa di sana? Keluar!” Perintah itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah perintah mutlak yang tak bisa ditawar. Suara Dimas rendah, namun berisi ancaman yang nyata. Alya tahu ia tak bisa lari. Jaraknya terlalu dekat, dan ia pasti akan tertangkap sebelum mencapai pagar.

Dengan napas tertahan, ia menarik napas panjang, lalu berdiri tegak sambil memeluk kameranya erat di dada. Ia melangkah keluar dari persembunyiannya, dedaunan kering berguguran dari bahu dan kepalanya. Di hadapannya, ketiga prajurit itu sudah dalam posisi siaga, senjata mereka sedikit terangkat ke atas, mengarah ke tanah namun tetap siap.

Dan di tengah-tengah mereka, Dimas berdiri diam, kedua tangannya tergenggam erat di pinggang, menatap Alya dari ujung kaki hingga ke kepala dengan pandangan yang menilai dan penuh kecurigaan. Tatapan mata hitamnya itu menusuk tajam, seolah sedang membongkar isi kepala Alya satu per satu.

“Jadi hanya seorang perempuan?” ujar Dimas pelan, namun nada bicaranya sama sekali tidak melembut. Alisnya yang tebal berkerut ke tengah, menatap kamera yang tergantung di leher Alya, “dan membawa alat perekam pula.”

Lihat selengkapnya