Garis Merah di Batas Perang

Song Rinrin
Chapter #2

Dua Dunia Berbeda

 Suara dentuman besi berat yang menutup di belakang punggungnya masih berdentam di telinga Alya. Udara di dalam ruangan sempit itu terasa pengap, tebal oleh bau tanah lembab, serta sisa minyak tanah yang menggenang di sudut, dan aroma logam berkarat yang menusuk hidung. Alya berdiri kaku di tengah ruangan, napasnya pendek dan cepat, tangannya masih mencengkeram erat tali kamera yang terasa panas dan perih di kulit lehernya.

Di luar sana, suara bising itu belum berhenti. Suara letusan senjata yang tajam, teriakan perintah yang parau, dan derap langkah kaki berat yang berlari-larian di atas tanah keras. Suara-suara itu terdengar samar, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduknya meremang hebat. Alya melangkah mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh dinding dingin yang lembab. Di kepalanya, pertanyaan demi pertanyaan berputar kacau.

Siapa mereka? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apakah ini bagian dari rencana Dimas untuk menyingkirkannya, atau bahaya nyata yang selama ini ia abaikan karena terlalu buta pada prinsip sendiri? Batin Alya panik.

Alya menekan punggung tangannya ke bibir, berusaha menahan napas agar tidak ada suara yang lolos. Ia tidak tahu harus merasa aman atau lebih terancam lagi berada di balik tembok tebal ini.

Tiba-tiba saja, suara letusan jauh lebih keras terdengar begitu dekat hingga dinding ruangan ini ikut bergetar. Debu halus jatuh dari langit-langit dan berjatuhan di bahu dan rambut Alya. Diikuti rentetan tembakan yang bertubi-tubi, bunyi dor-dor-dor yang beruntun dan kacau, seolah seluruh hutan di luar sana sedang dilalap api. Suara teriakan Dimas terdengar, lantang dan tegas meski tenggelam di tengah hiruk-pikuk pertempuran. Ia memberi perintah kiri kanan dengan nada tenang yang entah bagaimana caranya menembus kebisingan itu.

“Jangan biarkan mereka mendekat ke timur! Pertahankan barisan!” suara itu menggema, diikuti bunyi peluru yang berdesir menabrak logam dan kayu.

Di luar sana, di balik dinding tebal itu, Dimas sedang bertempur. Ia berdiri di balik tumpukan karung pasir setinggi dada dengan senapan serbu di tangannya yang terasa berat. Peluru-peluru musuh berhamburan di sekelilingnya hingga memecah dahan-dahan pohon dan menebarkan tanah kering ke udara. Debu beterbangan memenuhi paru-paru, membuat napasnya terasa kasar dan pedih, tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya.

Di hadapannya, sekitar lima puluh meter jauhnya, sekelompok orang bersenjata lengkap dengan seragam samar-samar berwarna hijau lumut sedang berusaha menerobos masuk dari arah jurang. Mereka bukan warga desa, bukan pula pasukan resmi. Mereka adalah kelompok bayaran yang dikirim untuk mengamankan jalur transportasi yang terancam dan juga untuk memastikan tidak ada satu pun bukti atau saksi yang bisa lolos hidup-hidup hari ini.

“Kapten! Mereka semakin mendekat! Sepertinya mereka tahu ada penyusup di dalam!” seru Sertu Rian, posisi tubuhnya merunduk di sebelah kiri Dimas dengan peluh membasahi seluruh wajahnya yang kotor terkena debu.

Matanya yang tetap tajam mengawasi pergerakan musuh di balik besi bidik senjatanya. Suaranya parau namun tegas, berusaha didengar di tengah dentuman peluru yang memekakkan telinga.

Dimas menggeser posisinya sedikit ke kanan, mengangkat senjatanya, kemudian matanya menyipit menatap celah bidik besi yang mulai terasa panas karena gesekan peluru.

“Biarkan mereka datang! Kita punya posisi lebih tinggi dan perlindungan lebih baik. Jangan ada yang lolos, tapi jangan serang berlebihan sampai mereka benar-benar masuk batas pertahanan utama!” jawab Dimas dengan suara lantang, namun pikirannya terbagi dua. Antara musuh di depannya dan satu-satunya 'tahanan' yang ia kunci di ruangan bawah tanah itu.

Perempuan bernama Alya itu entah kenapa keberadaannya membuatnya merasa gelisah lebih dari sekadar aturan keamanan. Ia berani, keras kepala, dan punya mata yang melihat apa yang kebanyakan orang pilih untuk diabaikan. Dan hal itu justru yang paling berbahaya baginya dan bagi nyawanya sendiri.

Tembakan semakin sengit. Sebuah granat asap meledak tak jauh dari pos mereka, hingga mengeluarkan kepulan asap putih pekat yang langsung menyelimuti area pertempuran. Suara teriakan musuh makin jelas dan langkah kaki mereka pun semakin cepat. Dimas menembak lagi, tepat sasaran ke arah kaki salah satu musuh yang mencoba berlari mengelilingi posisi.

Ia tidak ingin membunuh jika tidak terpaksa, tapi hari ini rasanya ia tidak punya pilihan. Di udara, bau mesiu yang tajam dan menyengat bercampur dengan bau keringat, tanah, dan aroma besi yang amis—bau khas pertempuran yang sudah sangat ia hafal, namun selalu membuat perutnya mual setiap kali menciumnya.

“Sertu Rian, bawa dua orang lewat belakang! Putar ke sisi kanan, potong jalan mereka sebelum sampai ke gudang penyimpanan!” perintah Dimas cepat, sambil terus menembak menahan laju musuh yang mulai panik karena serangan balik pasukannya makin rapi, “pastikan tidak ada yang mendekati bangunan utama! Mengerti?”

“Siap, Kapten!” Rian melompat mundur, memberi isyarat pada dua prajurit di belakangnya, lalu menghilang di balik kepulan asap dan rimbunan semak belukar yang berdarah.

Pertempuran itu berlangsung hampir dua jam lamanya. Napas Dimas memburu, dadanya naik turun cepat, lengannya terasa pegal luar biasa karena terus menerus menarik pelatuk dan mengangkat senjata berat itu. Tembakan demi tembakan akhirnya makin jarang terdengar, hingga akhirnya hening yang berat dan tegang mulai menyelimuti kembali wilayah itu. Hanya diselingi suara langkah kaki pasukannya yang memeriksa sisa-sisa pertempuran dan rintihan pelan seseorang yang terluka di kejauhan.

Dimas mengusap wajahnya dengan punggung tangan yang kotor berlumuran tanah dan sedikit darah—darah musuh, atau darah temannya, ia tak tahu dan tak ingin tahu. Ia menegakkan tubuhnya yang kaku dan merasakan setiap otot di badannya menjerit lelah. Matanya menatap lurus ke arah bangunan pos jaga tempat ia mengunci Alya.

Di balik dinding bata tebal itu, perempuan itu pasti sedang ketakutan setengah mati, bingung, dan mungkin semakin yakin bahwa ia—Dimas adalah bagian dari kejahatan besar ini. Rasa pahit menjalar di lidahnya. Kalau saja hidup ini sehitam dan seputih seperti pemikiran perempuan itu. Kalau saja tugasnya sesederhana apa yang ditulis di buku-buku hukum.

Dimas melangkah berat menuju pintu besi itu. Bunyi sepatu militernya bergema keras di koridor sempit dan gelap. Ia menggeser kunci besar yang berkarat itu, suara gerendel besi yang bergesekan terdengar mengerikan di keheningan. Pintu itu terbuka perlahan, berderit panjang, dan parau.

Di dalam sana, Alya berdiri membelakangi dinding, tubuhnya gemetar hebat bukan hanya karena takut, tapi karena adrenalin yang menumpuk. Wajahnya pucat pasi, matanya lebar dan basah. Ia menatap Dimas yang berdiri di ambang pintu dengan bayang-bayang gelap menutupi separuh wajahnya. Pakaiannya penuh debu dan noda tanah juga rambutnya berantakan menempel di keringat dahinya.

Namun, saat ia melihat Dimas—melihat wajahnya penuh debu, peluh, dan bercak merah yang samar di lengan bajunya, ketakutan itu seketika berubah lagi menjadi kemarahan yang meledak-ledak. Ia melangkah maju, menunjuk dada bidang Dimas dengan jari yang gemetar.

“Apa itu? Apa yang baru saja terjadi di luar sana?” suaranya melengking, bergetar menahan amarah dan rasa syok yang mendalam, “siapa orang-orang itu? Kenapa ada tembakan di mana-mana? Apakah itu bagian dari sandiwara kalian? Atau kalian memang sedang berperang melawan rakyat sendiri demi melindungi harta orang kaya?”

Dimas masuk ke dalam ruangan kecil itu, menutup pintu besi di belakangnya hingga mereka berdua terperangkap dalam cahaya remang yang samar. Bau mesiu masih menempel kuat di pakaian dan kulitnya, aroma yang langsung mengisi rongga hidung Alya. Dimas menatap wanita itu dengan tatapan lelah namun tajam, matanya merah padam karena debu dan kurang tidur.

“Itu adalah bahaya nyata, Nona. Bahaya yang setiap hari saya dan anak buah saya hadapi di sini. Bahaya yang tak akan pernah kau pahami hanya dengan membaca berita atau menduga-duga dari balik kacamata-kacamata kuda-mu itu,” jawab Dimas pelan, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti pukulan keras. Ia bersandar pada dinding, melipat kedua tangannya di dada, menatap balik Alya yang kini berdiri tepat di hadapannya. Jrak di antara mereka berdua pun hanya beberapa jengkal saja.

“Bahaya? Atau sekadar pembantaian demi keuntungan?” bantah Alya cepat, ia tidak mundur, malah semakin mendekat, “saya melihat sendiri apa yang ada di sini! Saya lihat hutan yang gundul, sungai yang mati, dan rakyat yang kelaparan. Sementara truk-truk besar membawa kekayaan alam ini pergi! Dan kau, juga pasukanmu itu berdiri di sini dengan senjata di tangan. Bukan untuk melindungi mereka yang menderita, tapi untuk melindungi mereka yang mencuri! Kau sebut itu tugas? Kau sebut itu kewajiban negara? Itu pengkhianatan, Kapten!”

Dimas menghela napas kasar, menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum sinis. Senyum yang penuh kepahitan dan rasa perih yang mendalam. Ia menatap Alya lekat-lekat, seolah ingin membongkar apa yang ada di balik kepala dan hati wanita keras kepala ini.

“Kau bicara soal pengkhianatan? Kau bicara soal apa yang benar dan salah seolah kau pemegang satu-satunya kebenaran di dunia ini?”

Dimas maju selangkah, suaranya meninggi, dan bergema di ruangan sempit itu.

“Dengar baik-baik, Nona Wartawan. Definisi tugas saya bukanlah apa yang tertulis di koran atau apa yang kau anggap adil. Tugas saya adalah menjaga wilayah ini tetap aman dan terkendali agar tidak terjadi kerusuhan yang lebih besar. Tugas saya adalah memastikan tidak ada nyawa tak bersalah yang melayang sia-sia, baik itu nyawa warga desa, nyawa anak buah saya, atau bahkan nyawa orang yang kau tuduh pencuri sekalipun! Saya bertindak berdasarkan perintah dan pertimbangan keamanan, bukan berdasarkan emosi atau sentimen keadilan versi pribadi seseorang!”

“Keadilan bukan versi pribadi, Kaptem! Keadilan adalah hak setiap orang untuk tahu ke mana pergi kekayaan negaranya! Hak setiap orang untuk hidup layak dari tanah tempat mereka lahir dan besar!”

Lihat selengkapnya