Garis Merah di Batas Perang

Song Rinrin
Chapter #3

Bahaya yang Mengintai

 Cahaya putih menyilaukan itu menembus masuk seperti sambaran petir di tengah kegelapan pekat, hingga membuat Alya langsung memejamkan matanya erat-erat. Tangannya refleks menutupi wajah. Di telinganya, bentakan dingin dan penuh ancaman itu masih bergaung, bergetar hingga ke tulang belakang, sementara jantungnya berpacu begitu cepat hingga rasanya akan meledak keluar dari rongga dada.

Udara di ruangan sempit itu mendadak terasa makin panas, tebal oleh bau keringat, ketakutan, dan aroma tajam mesiu yang kini terasa nyata dan mematikan. Sebelum Alya sempat menarik napas panjang atau berteriak, tubuh besar Dimas sudah bergerak cepat di sampingnya, mendorongnya kasar namun terarah ke sudut paling gelap di balik tumpukan karung pasir yang berdebu dan berbau tanah lembab.

“Diam di sini! Jangan bergerak sedikit pun sampai saya bilang aman!” seru Dimas dengan tegas, dan cepat, napasnya yang hangat menerpa telinga Alya sebelum tubuh tegapnya berputar. Ia berdiri tegak menghadap pintu yang terbuka lebar itu dan menjadi satu-satunya penghalang kokoh di antara Alya dan orang-orang asing yang baru saja masuk.

Dimas mengangkat senjatanya, laras besi dingin itu diarahkan lurus ke arah bayangan-bayangan hitam yang kini memenuhi ambang pintu. Matanya yang tadi lelah dan penuh perdebatan, kini berubah tajam, dingin, dan fokus—mata seorang prajurit yang sudah terbiasa menatap maut berhadapan muka.

Dimas tidak berteriak, tidak membentak. Ia hanya berdiri diam, membiarkan ujung jarinya bersiap di pelatuk, sementara otot-otot di bahu dan lengannya menegang kaku, seperti siap meledakkan serangan balik dalam sekejap mata.

“Siapa kalian? Berani-beraninya masuk ke wilayah pertahanan militer dengan kekuatan bersenjata!” teriak Dimas penuh wibawa yang tak bisa diremehkan meski jumlah musuh jauh lebih banyak.

Dari balik sorotan cahaya senter yang menyilaukan itu, muncul sosok laki-laki bertubuh kekar dengan mengenakan pakaian serba gelap tanpa lambang apa pun. Wajahnya tertutup sebagian oleh kain dan topi lebar. Di tangannya, senjata laras panjang tergantung santai namun tetap mengarah ke bawah dengan posisi siap pakai.

Di belakangnya, tiga orang lainnya berdiri berbaris, masing-masing membawa senjata yang sama. Sorot mata mereka tajam dan dingin, seolah nyawa manusia hanyalah debu tak berharga bagi mereka.

“Jangan banyak bicara, Kapten,” jawab laki-laki itu dengan suara kasar, nada bicaranya penuh penghinaan.

Pria melangkah masuk perlahan, sepatu botnya menghentak lantai tanah yang keras hingga menimbulkan bunyi yang mengerikan.

“Kami hanya menjalankan perintah. Serahkan saja wanita itu. Kami berjanji kau dan anak buahmu masih bisa pulang dengan selamat. Kau tidak perlu terlibat urusan ini lebih jauh lagi.”

Alya yang masih meringkuk di sudut merasakan jantungnya berdegup kencang mendengar kata-kata itu. Tangannya mencengkeram ujung jaket Dimas yang kusut, napasnya tertahan di tenggorokan. Benar. Dimas benar sepenuhnya. Mereka tidak datang untuk pos ini dan tidak datang untuk menangkapnya.

Mereka datang khusus untuknya. Keberadaan Alya saja sudah cukup menjadi ancaman besar bagi mereka. Dan sekarang, ia terjebak di sini, menjadi sasaran empuk, sementara laki-laki yang selama ini ia anggap penghalang kebenaran justru berdiri di depan sana, mempertaruhkan nyawanya demi melindungi nyawa orang yang terus-menerus menuduhnya pengkhianat.

“Urusan saya adalah keamanan wilayah ini dan setiap orang yang ada di dalamnya,” jawab Dimas tegas tidak bergeming sedikit pun.

Laras senjatanya tetap lurus mengarah ke dada laki-laki bertopeng itu.

Lihat selengkapnya