Garis Merah di Batas Perang

Song Rinrin
Chapter #4

Bayang-Bayang Masa Lalu

Sejak hari itu, Alya ditempatkan di pos pengamanan utama, tinggal di salah satu ruangan kecil di barak prajurit, dan dijaga ketat siang juga malam. Dimas melarangnya keluar pagar, melarangnya bergerak sendiri, dan melarangnya mewawancarai siapa pun tanpa sepengetahuannya.

Awalnya Alya merasa seperti di penjara. Ia merasa dikurung, dibatasi, dan dikebiri haknya sebagai wartawan. Namun, setiap kali ia protes, setiap kali ia berdebat tentang kebebasan dan hak publik, Dimas selalu menjawab dengan dingin namun tegas.

Kebebasan tidak ada artinya kalau kamu mati, Alya. Dan hak publik tidak akan terpenuhi kalau kamu tidak bisa pulang membawa berita itu. Selama kamu di sini, aturanku yang berlaku. Demi keselamatanmu sendiri.”

Hari-hari berlalu. Alya menghabiskan waktunya untuk mengamati. Ia mengamati bagaimana Dimas memimpin pasukannya, bagaimana ia berinteraksi dengan warga desa, dan bagaimana ia menangani masalah dengan ketegasan namun juga kelembutan yang tersamar. Wartawan muda itu melihat Dimas berjalan berjam-jam memeriksa pos penjagaan di bawah teriknya matahari, melihatnya berbagi jatah makan dengan anak-anak desa yang kurus, serta melihatnya duduk berjam-jam mendengarkan keluh kesah warga yang mengeluh tentang air, tanah, dan hasil panen.

Laki-laki ini ternyata bukanlah monster seperti yang ia bayangkan. Bukan pula alat bodoh yang diperintah sembarangan. Ia adalah manusia yang memikul beban berat yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Udara sore itu terasa lembab dan sejuk, ber-aroma tanah basah sisa hujan gerimis yang turun sejak siang, bercampur dengan bau kayu tua dan kertas yang mengisi ruang kerja kecil di sudut barak militer itu. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menerobos masuk lewat celah jendela yang tidak tertutup rapat, membentuk garis-garis cahaya miring yang jatuh tepat di atas meja kerja Dimas—meja kayu tua yang penuh goresan, tumpukan berkas, peta wilayah yang sudah lusuh terlipat, dan benda-benda kecil yang terlihat tidak beraturan namun pasti punya arti bagi pemiliknya.

Alya berdiri di ambang pintu sejenak, memegang dua cangkir teh hangat yang uapnya masih mengepul pelan di udara. Ia datang ke sini karena Dimas tidak muncul untuk makan malam dan sejak kejadian aksi tembak-tembakan besar itu, laki-laki itu semakin sering menyendiri, diam, dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Perubahan sikapnya itu terasa jelas, meski ia tetap berusaha bersikap tegas dan dingin di depan orang lain. Namun bagi Alya, yang kini bisa membaca setiap guratan wajah, setiap perubahan nada suara, dan setiap sorot mata laki-laki itu, kesedihan dan beban berat yang dipikulnya terlihat begitu nyata dan menyakitkan.

Alya melangkah masuk perlahan, meletakkan cangkir teh itu di sudut meja yang kosong, berusaha agar tidak membuat suara berisik. Dimas sedang duduk di kursi kayu yang keras, punggungnya membelakangi pintu, serta menatap keluar jendela dengan pandangan kosong dan jauh. Bahu lebarnya tampak turun, rileks namun penuh kelelahan yang mendalam, seolah setiap otot di tubuhnya sedang menahan rasa sakit yang tak terlihat.

“Dingin kalau dibiarkan terlalu lama,” ucap Alya pelan memecah keheningan yang terasa berat itu.

Suaranya lembut, tidak ada nada protes atau perdebatan seperti dulu. Kini, nada bicaranya lebih banyak berisi perhatian dan kelembutan yang tumbuh perlahan namun pasti di antara bahaya dan rahasia yang mengelilingi mereka. Dimas menoleh perlahan, kaget sedikit karena tidak menyadari kehadiran Alya. Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya, lalu mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih.

“Terima kasih.”

Alya berdiri diam di samping meja, matanya tanpa sengaja tertuju pada tumpukan barang di sebelah kiri tempat duduk Dimas. Di antara berkas-berkas peta dan catatan kecil yang sulit dibaca tulisannya, ada sebuah bingkai foto kecil yang terbalik, seolah baru saja diletakkan tergesa-gesa atau sengaja disembunyikan dari pandangan orang lain.

Ada sesuatu yang menarik perhatian Alya—sebuah keakraban yang samar, seolah bentuk wajah di balik kaca bingkai itu pernah ia lihat di mana saja. Rasa penasaran yang mendalam menggelitik hatinya. Ia melangkah selangkah lebih dekat, matanya tidak lepas dari bingkai itu.

“Apa itu?” tanyanya pelan menunjuk ke arah benda kecil itu.

Wajah Dimas langsung berubah tegang. Gerakan tangannya yang hendak mengambil cangkir teh terhenti di udara. Ia menoleh cepat ke arah bingkai itu, lalu kembali menatap Alya dengan sorot mata yang berubah menjadi waspada dan tertutup, seolah Alya baru saja bertanya tentang hal terlarang yang tidak boleh disentuh siapa pun.

“Tidak ada. Hanya barang lama,” jawabnya singkat, nada suaranya kembali berubah dingin dan kaku, dinding pertahanan dirinya kembali dibangun tinggi-tinggi dalam sekejap mata.

Pria tegap itu segera meraih bingkai tersebut, berniat menyimpannya ke dalam laci meja, namun gerakannya terlambat sedikit. Alya sudah lebih dulu mengulurkan tangan, mengambil bingkai itu sebelum sempat disembunyikan. Jari-jarinya menyentuh kaca dingin itu dan saat ia membaliknya, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Di dalam bingkai itu, terpasang foto hitam putih yang sudah agak kusam dan berdebu. Di sana terlihat seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahunan, berdiri tegak dengan senyum cerah dan mata yang berbinar penuh semangat. Wajahnya . . .wajahnya sangat mirip dengan Dimas. Sangat mirip. Namun ada perbedaan kecil yang jelas terlihat, pemuda di foto itu terlihat lebih lembut, lebih ceria, lebih bebas, tanpa beban berat yang tercetak jelas di wajah Dimas saat ini.

“Ini siapa?” tanya Alya berbisik, matanya masih terpaku pada foto itu. Rasa penasaran bercampur dengan rasa heran yang mendalam.

Alya menoleh ke arah Dimas yang kini duduk kembali di kursinya. Wajahnya tertunduk dalam, tangannya mengepal erat di atas paha, seluruh tubuhnya memancarkan aura kesedihan yang pekat dan tertutup.

“Dika. Saudara kembar saya.”

Alya menatapnya lekat-lekat. Namun, saat melihat wajah itu secara langsung, melihat betapa miripnya mereka, dan betapa miripnya wajah Dika dengan Dimas, membuat perasaan aneh menjalar di dadanya.

“Dia sangat mirip denganmu,” ucap Alya perlahan, hati-hati memilih kata-kata, dan merasakan bahwa ia sedang menginjak tanah yang sangat rawan dan menyakitkan bagi laki-laki di hadapannya.

Dimas mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke arah dinding di seberang sana, seolah sedang melihat bayangan masa lalu yang menghantuinya setiap detik hidupnya.

Lihat selengkapnya