Suatu sore, saat suasana di pos sedang tenang dan para prajurit sedang beristirahat sejenak, Alya melihat ada kesempatan emas. Dimas sedang rapat di ruang komando dengan beberapa perwira lain, dan pintunya tertutup rapat. Penjaga di depan ruangannya sedang sibuk membantu mengangkut perbekalan. Pikiran investigatifnya kembali berputar. Ia tahu ada satu desa kecil di balik bukit yang sering disebut-sebut warga sebagai tempat yang paling menderita dampak tambang, namun paling jarang dikunjungi aparat.
Di sanalah ia mungkin bisa mendapatkan kesaksian paling jujur dan bukti paling kuat.
Hanya sebentar saja. Cuma wawancara Bu Lina, wanita tua yang kemarin datang ke sini membawa keluhan. Pasti tidak ada yang tahu. Cuma sebenatar saja, Dimas, setelah itu aku akan kembali ke posko. Batin Alya meyakinkan diri sendiri.
Rasa ingin tahu dan idealismenya kembali menguasai akal sehatnya. Ia menyelinap keluar lewat celah pagar belakang yang tidak dijaga ketat, berjalan cepat menjauh dari pos militer, menembus jalan setapak di antara semak belukar dan pohon-pohon kering. Udara sore itu terasa lembab dan berat, langit mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan yang suram. Semenjak deep talk dengan Dimas kemarin malam, Alya bertekad kalau hari ini ia harus mencari sesuatu yang mengganjal di hati dan dipikirannya semalam.
Alya sampai di gubuk tua milik Bu Lina. Wanita tua itu menyambutnya dengan wajah ketakutan namun juga penuh harap. Mereka berbicara lama, Alya mencatat setiap kata, setiap keluhan, dan setiap cerita tentang sungai yang mati, ternak yang mati keracunan, dan tanah yang tidak lagi bisa menanam apa pun.
Bu Lina juga bercerita tentang orang-orang asing yang sering lewat malam-malam, membawa barang-barang berharga, dan bertemu dengan orang berseragam.
“Kemarin, Nona, ada mobil hitam masuk ke sana,” bisik Bu Lina sambil menunjuk ke arah lembah tersembunyi di balik bukit batu besar, “mereka bertemu dengan orang-orang dari kota, ada Pak Darmadi sendiri, dan ada juga perwira tinggi dari markas besar. Saya lihat sendiri dari balik jendela gubuk saya.”
Jantung Alya berdegup kencang. Ini dia. Ini bukti besar yang ia cari. Bukti bahwa konspirasi ini sampai ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
“Di mana tempat itu, Bu? Bolehkah Ibu tunjukkan jalannya?” tanya Alya bersemangat, kamera di tangannya sudah siap.
Dengan ragu-ragu, Bu Lina menuntunnya berjalan menyusuri jalan sempit yang tertutup rimbunan semak berduri, sampai ke pinggiran tebing kecil yang menghadap ke sebuah lembah tersembunyi yang tertutup rapat oleh pepohonan lebat. Dari tempat persembunyian itu, Alya bisa melihat dengan jelas di bawah sana.
Ada sebuah kendaraan mewah berwarna hitam terparkir di tanah lapang. Ada Pak Darmadi—pria kaya raya pemilik perusahaan yang menjadi tersangka utama, sedang berdiri sambil merokok, dan berbicara santai dengan dua orang berseragam militer dengan pangkat tinggi yang tidak pernah Alya lihat di pos Dimas.
Di sekeliling mereka, ada beberapa orang bersenjata lengkap yang sama persis dengan orang-orang yang menyerang pos beberapa hari lalu. Alya menahan napas, tangannya gemetar hebat saat menaikkan kamera. Lensa panjangnya memperjelas wajah-wajah itu. Ia harus memotret ini. Ini adalah bukti kunci. Ini akan membongkar segalanya.
Namun, saat ia sedang memotret, tanpa sengaja kakinya menginjak ranting kering yang tersembunyi di balik rumput tinggi.
KREK!
Suara itu terdengar sangat nyaring di keheningan lembah itu. Percakapan di bawah sana langsung terhenti. Semua kepala menoleh serentak ke arah tebing tempat Alya bersembunyi. Mata Pak Darmadi menyipit tajam, senyumnya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata dingin dan mematikan.