Kolonel Haryo. Nama itu bergema di kepala Alya, berputar bersama potongan-potongan teka-teki yang mulai perlahan menyusun diri menjadi gambaran yang mengerikan.
Dimas masih berdiri terpaku, kakinya gemetar hebat hingga ia harus menopang tubuhnya dengan senjata yang digenggamnya erat. Wajahnya yang biasanya tegas, dingin, dan tak tergoyahkan, kini tampak hancur lebur, pucat seperti kain kafan, matanya menatap lurus ke bawah seolah sedang menatap hantu yang bangkit dari kubur.
Di sampingnya, Alya bisa merasakan gelombang emosi yang meluap dari tubuh laki-laki itu—campuran antara rasa marah yang meledak-ledak, rasa takut, dan rasa kehilangan yang begitu menyakitkan hingga membuat dadanya sendiri ikut sesak.
“Anda . . . Anda masih hidup . . .” gumam Dimas pelan, suaranya terdengar asing, hampir tidak dikenali.
Dimas menggelengkan kepalanya perlahan, seolah berusaha mengusir penglihatan itu, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah mimpi buruk atau ilusi semata.
“Mereka bilang Anda tewas dalam kecelakaan dinas lima tahun lalu. Mereka bilang Anda sudah tiada!”
Kolonel Haryo tertawa kecil, suara tawa yang berat, rendah, dan penuh penghinaan. Ia melangkah maju selangkah, tangannya menyentuh pinggiran topi jenderalnya dengan gerakan lambat dan angkuh, serta menatap Dimas dengan pandangan yang seolah sedang menatap serangga kecil yang tidak berdaya.
“Kau terlalu polos, Dimas. Sama persis seperti saudaramu, Dika,” jawab Kolonel Haryo, suaranya jelas dan tajam, menembus jarak di antara mereka.
Nama itu—Dika—terdengar seperti ledakan bom di telinga Alya. Ia melihat tubuh Dimas menegang seketika, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol jelas, matanya yang tadi penuh keterkejutan kini berubah menjadi api kebencian yang berkobar hebat.
“Di dunia ini, tidak semua kebenaran dicatat dalam laporan resmi, tidak semua kematian adalah kecelakaan, dan tidak semua orang yang dianggap hilang itu benar-benar lenyap. Kadang, mereka hanya berubah bentuk atau berubah sisi.”
“Diam!” bentak Dimas tiba-tiba, suaranya meledak, bergema di seluruh lembah, memecah keheningan yang mencekam itu.
Dimas mengangkat senjatanya kembali, laras besi dingin itu diarahkan tepat ke dada Kolonel Haryo. Tangannya yang gemetar kini berubah menjadi kaku dan penuh amarah yang tertahan.
“Kapten, tenanglah. Tenang!” seru Alya mencoba menenangkan.
“Kau yang bertanggung jawab atas hilangnya Dika! Kau yang membuatnya menghilang tanpa jejak! Kau yang membunuhnya, bukan?”