Hari-hari berlalu sejak kejadian di lembah itu. Alya kini benar-benar hidup di bawah pengawasan ketat Dimas. Ruangannya adalah sebuah kamar kecil di bagian belakang barak, berbau kapur dan kayu tua, dan dengan satu jendela kecil yang menghadap ke halaman dalam. Pintu kamarnya selalu dijaga dan setiap kali ia ingin keluar sekadar untuk mencari udara segar atau mengambil air, Dimas atau salah satu anak buahnya selalu ada di dekatnya untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.
Awalnya, Alya merasa gerah, merasa dikurung, merasa kebebasannya dirampas. Ia sering berdebat, sering protes, sering melontarkan kata-kata pedas tentang kebebasan pers dan hak publik tahu. Namun, setiap kali ia melakukannya, Dimas hanya akan menatapnya dengan pandangan lelah namun tegas, lalu menjawab dengan kalimat yang sama.
“Kebebasan tidak ada artinya kalau kamu mati, Alya. Dan kebenaran tidak akan terungkap kalau kamu tidak ada lagi untuk menuliskannya!”
Alya hanya bisa pasrah dan tidak bisa melawan. Angin sore itu berhembus pelan, membawa aroma tanah kering, debu jalanan, dan bau asap pembakaran sampah yang samar namun menusuk hidung. Di antara deretan gubuk reyot yang berjejer di pinggiran desa, suasana terasa hening namun penuh bisikan-bisikan halus. Matahari mulai condong ke barat, Alya melangkah hati-hati, kepalanya sedikit menunduk, pakaiannya sederhana dan tertutup. Ia berusaha menyamarkan dirinya di antara warga desa yang sedang pulang dari ladang.
Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena ketakutan seperti dulu, melainkan karena campuran antara rasa ingin tahu. Penemuan tentang hubungan ayahnya, Dika, dan Kolonel Haryo telah mengubah segalanya. Dunianya tidak lagi hitam atau putih, tidak lagi terbagi jelas antara yang benar dan yang salah. Semuanya kini berwarna abu-abu, penuh keraguan, kebohongan, dan benang kusut yang harus ia urai satu per satu.
Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban yang jujur dan yang tidak terkontaminasi oleh kekuasaan atau masa lalu kelam adalah dengan turun langsung ke akar masalahnya—warga desa sendiri. Dan satu-satunya orang yang ia percaya sepenuhnya di sini adalah Bu Lina.
Wanita tua itu sudah menunggunya di balik dinding gubuknya yang terbuat dari anyaman bambu yang mulai lapuk. Saat melihat Alya mendekat, Bu Lina segera menariknya masuk dengan gerakan cepat dan rahasia, lalu menutup pintu anyaman itu rapat-rapat, seolah takut ada mata atau telinga yang mengintai dari celah-celah kecil di dinding. Udara di dalam gubuk itu terasa hangat, berbau rempah-rempah kering, kayu bakar, dan usia tua.
“Syukurlah kau datang, Nona,” bisik Bu Lina pelan, tangannya yang keriput menggenggam tangan Alya, dan menariknya duduk di atas tikar anyaman di lantai tanah yang dingin.
Wajahnya yang penuh kerutan itu tampak pucat dan cemas, matanya yang sudah mulai rabun berkeliling memandang sekeliling ruangan seolah ada musuh yang bersembunyi di balik setiap sudut.
“Aku sudah menunggu sejak tadi. Tapi hati-hati, Nona. Desa ini penuh dengan telinga-telinga asing. Tidak semua orang yang kau lihat berjalan atau duduk di pinggir jalan itu benar-benar warga kita. Banyak dari mereka adalah mata-mata yang disuruh oleh orang-orang besar itu.”
“Aku tahu, Bu. Makanya aku datang diam-diam,” jawab Alya berbisik kembali, tangannya meremas lembut tangan tua itu berusaha memberikannya ketenangan.
Alya mengeluarkan catatan kecil dan pena dari balik bajunya, kemudian menyembunyikannya di bawah lipatan kain di pangkuannya.
“Terima kasih sudah mau menemuiku lagi setelah semua bahaya yang terjadi kemarin-kemarin. Aku tahu ini berisiko besar bagi ibu.”