Garis Merah di Batas Perang

Song Rinrin
Chapter #8

Di balik Helm dan Kamera

Di samping segala pembatasan dan aturan kaku, perlahan namun pasti, Alya mulai melihat sisi lain dari sosok Kapten Dimas Wicaksana yang selama ini tersembunyi di balik seragam militernya yang kaku dan dingin.

Alya melihat bagaimana setiap pagi sebelum matahari terbit, Dimas sudah bangun, berkeliling memeriksa setiap pos penjagaan, berbicara dengan para prajuritnya dengan nada suara yang tenang, penuh perhatian, dan kadang bahkan bercanda ringan. Ia melihat bagaimana Dimas berbagi jatah makanannya yang sedikit dengan anak-anak desa yang sering datang ke pagar pos membawa keluhan atau sekadar ingin melihat suasana.

Ia melihat bagaimana Dimas duduk berjam-jam di beranda depan, mendengarkan keluh kesah para petani yang tanahnya rusak, mendengarkan keluhan warga yang air sumurnya keruh, mendengarkan cerita mereka tentang sakit yang diderita karena limbah tambang.

Saat hujan turun deras mengguyur wilayah itu, Alya melihat Dimas berlari keluar dari pos tanpa jas hujan, membawa peralatan obat-obatan dan makanan, berjalan kaki menuju gubuk-gubuk reyot di pinggiran desa. Ia mengikuti diam-diam dari balik jendela, melihat bagaimana Dimas masuk ke rumah Bu Lina, wanita tua yang dulu membantunya, yang kini sedang sakit keras karena meminum air sungai yang tercemar.

Ia melihat Dimas merawat wanita tua itu sendiri, memijat kakinya yang bengkak, memberinya obat, dan berbicara lembut dengan nada suara yang begitu berbeda dari nada perintah keras yang biasa ia dengar.

Saat Dimas kembali ke pos, ia dalam keadaan basah kuyup, kedinginan, dan wajahnya penuh kelelahan namun juga penuh ketulusan, Alya menunggunya di koridor. Ia tidak lagi merasa marah atau curiga. Ia hanya merasa kagum dan sedikit rasa bersalah yang menggerogoti hatinya.

“Kamu peduli pada mereka, ya?” tanya Alya pelan saat Dimas lewat di depannya, berhenti sejenak untuk mengusap air hujan dari wajahnya, “lebih dari yang kamu tunjukkan selama ini.”

Dimas menatapnya, napasnya masih memburu karena kelelahan. Di bawah cahaya lampu remang koridor itu, Alya bisa melihat guratan-guratan lelah di wajah laki-laki itu, bisa melihat betapa berat beban yang ia pikul sendirian.

“Mereka adalah rakyat saya, Alya. Mereka adalah alasan kenapa saya mengenakan seragam ini. Alasan kenapa saya bertahan di sini meski tahu betapa kotor dan berbahayanya tempat ini,” jawab Dimas pelan, suaranya jujur dan dalam.

Dimas bersandar ke dinding, menatap lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang jauh di luar jangkauan pandangan mereka, “Dika juga begitu. Dia datang ke sini karena ingin membela mereka. Dia ingin mengungkap kejahatan yang sama persis dengan yang kamu cari sekarang. Dan karena itulah dia hilang. Karena dia terlalu peduli, terlalu jujur, terlalu percaya bahwa hukum akan membela kebenaran.”

Dimas menoleh ke arah Alya, matanya menatap lekat-lekat, penuh permohonan yang tersamar.

“Aku tidak ingin hal yang sama terjadi padamu, Alya. Aku tidak ingin kehilangan orang lain yang berani berdiri untuk kebenaran, apalagi orang yang punya semangat sebesar dirimu.”

Kalimat terakhir itu terucap begitu pelan, hampir tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat jantung Alya berdegup kencang. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di antara debu, bahaya, dan rahasia besar ini. Perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara rasa hormat, rasa percaya, dan sesuatu yang lebih lembut, sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh di tempat yang penuh bahaya seperti ini.

“Aku mengerti maksudmu, Kapten. Terima kasih sudah berbagi cerita denganku. Aku senang, kini kamu mau terbuka, jujur, dan berbagi perasaan denganku.”

Alya tersenyum tipis. Dimas menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sadar, akhir-akhir ini ia sedikit terbuka dan entah kenapa ia merasa nyaman berbagi cerita dan perasaan kepada wartawan berani itu.

“Terima kasih sudah menjadi wartawan yang berani dan hebat,” ujar Dimas pelan kemudian tersenyum tipis dan tiba-tiba ia tersenyum lebar, sangat lebar hingga membuat Alya merasa bedegup kencang begitu melihat Kapten itu tersenyum.

Hari-hari berikutnya, interaksi mereka berubah. Mereka masih sering berdebat, masih sering berbeda pendapat tentang cara kerja, tentang aturan, dan tentang keadilan. Namun, perdebatan itu tidak lagi penuh kebencian atau kecurigaan. Mereka mulai saling mendengarkan. Alya mulai mengerti bahwa Dimas bukanlah penghalang, melainkan benteng yang menahannya agar tidak hancur diterpa badai. Dan Dimas mulai mengerti bahwa tekad Alya bukan sekadar ambisi, melainkan keberanian yang langka.

Mereka berbagi ruang yang sama, berbagi makanan sederhana yang sama, dan berbagi kekhawatiran yang sama. Di bawah satu atap yang tua dan reyot itu, di tengah ketegangan yang terus membayangi, benih-benih rasa saling percaya dan bahkan rasa sayang mulai tumbuh diam-diam, menyelinap masuk di sela-sela kewaspadaan dan tugas berat mereka.6666

Hari itu, angin menderu masuk lewat celah-celah dinding yang tak rapat, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, membuat mereka harus merapatkan tubuh sedikit demi sedikit demi mendapatkan kehangatan. Di luar sana, kabut tebal turun menutupi pemandangan, menyembunyikan hutan, bukit, dan segala bahaya yang biasanya mengintai, seolah dunia luar telah lenyap dan hanya menyisakan ruang kecil ini sebagai satu-satunya tempat yang ada.

Dimas meletakkan helm militernya yang berat dan basah di sudut meja reyot, lalu mengusap wajahnya yang lelah dengan telapak tangan kasarnya. Pakaian seragamnya basah kuyup di bagian bahu dan lengan, rambut hitamnya meneteskan air ke leher yang kekar. Ia duduk di bangku kayu pendek, punggungnya bersandar ke dinding, matanya menatap keluar lewat celah jendela tanpa kaca itu, menelusuri jatuhnya butiran air yang tak berujung.

Di sampingnya, Alya duduk bersila di lantai yang dialasi kain pelapis tipis, kamera kesayangannya yang kini sudah diselimuti kantong pelindung plastik digendongnya erat di pangkuan, seolah benda itu adalah nyawanya sendiri. Rambut panjangnya yang biasanya terurai rapi kini berantakan, sebagian basah menempel di pipi dan leher, namun matanya yang tajam dan penuh rasa ingin tahu itu tak lepas dari sosok laki-laki di hadapannya.

Keheningan yang tercipta di antara mereka bukan lagi keheningan yang penuh ketegangan, kecurigaan, atau permusuhan seperti di awal pertemuan mereka. Dulu, setiap kali mereka berdua berada di ruangan yang sama, udara terasa berat, penuh benturan batin, saling curiga, dan kata-kata yang tajam. Dulu, Dimas melihat Alya sebagai pengganggu, bahaya, dan wanita nekat yang tidak tahu diri. Dulu, Alya melihat Dimas sebagai tembok penghalang, alat kekuasaan yang kaku, dan tentara yang tidak punya hati nurani.

Namun hari ini, di tengah hujan lebat yang memisahkan mereka dari dunia luar itu, semua tembok tinggi itu perlahan runtuh, tersapu oleh air yang turun tiada henti.

“Kamu kedinginan?”

Suara Dimas memecah kebisingan hujan, nadanya rendah, pelan, dan jauh lebih lembut daripada yang biasa Alya dengar. Ia menoleh sedikit, menatap wanita itu yang tampak menggigil pelan meski sudah memeluk tubuhnya sendiri.

Alya mengangkat wajahnya, menatap balik mata gelap yang dalam itu. Ada sorot mata yang berbeda hari ini—tidak lagi keras, tidak lagi waspada, melainkan penuh kelelahan yang jujur dan sesuatu yang lain, sesuatu yang hangat.

“Hanya sedikit. Anginnya cukup tajam masuk lewat celah-celah ini,” jawab Alya pelan, Alya tersenyum tipis, senyum yang tidak penuh ejekan atau tantangan seperti dulu, melainkan senyum yang rileks dan apa adanya.

“Kamu sendiri? Baju sebelah bahumu itu basah sampai ke kulit.”

Dimas menunduk melihat bahu kirinya yang gelap karena air, lalu tersenyum kecil—senyum yang jarang sekali ia perlihatkan, senyum yang membuat garis-garis keras di wajahnya melembut seketika.

Lihat selengkapnya