Hari Lebaran selalu punya caranya sendiri untuk terasa sama—dan tetap dirindukan.
Rumah besar eyang pagi itu penuh sesak. Aroma opor dan rendang bercampur dengan wangi parfum orang-orang yang datang silih berganti. Suara tawa, salam, dan takbir yang masih terngiang dari semalam saling bersahutan, memenuhi setiap sudut rumah.
Anak-anak kecil berlarian sambil memamerkan amplop THR, sementara orang-orang dewasa sibuk bertukar cerita yang entah sudah diulang berapa kali setiap tahunnya.
Gue duduk di bangku pojok ruangan, sedikit menjauh dari keramaian yang memenuhi rumah eyang. Dari situ, pandangan gue jatuh ke seberang—ke sudut lain yang entah kenapa terasa lebih tenang di tengah riuhnya hari itu.
Seorang wanita berdiri di sana, sibuk mengurus anak kecil laki-laki berumur tiga tahun yang sejak tadi nggak bisa diam. Sesekali dia membungkuk, merapikan baju si kecil, lalu tertawa pelan saat anak itu kembali berlari.
Entah kenapa, gue jatuh cinta padanya setiap hari, setiap detik, di setiap momen yang terjadi. Mungkin karena dari cara dia bergerak yang begitu teduh. Atau cara dia tersenyum, tanpa berusaha terlihat manis.
Atau… mungkin, memang karena dia secantik itu. Sampai akhirnya, anak kecil tadi menoleh ke arah gue. Tanpa ragu, dia berlari mendekat.
“Papa, bolanya!”
Gue sempat diam sepersekian detik, lalu terkekeh kecil, menyerahkan bola yang sejak tadi gue pegang sambil mengacak rambutnya yang halus.
"Ahaha, iya ini."
Tangan kecilnya langsung meraih bola itu, lalu dia berlari kembali—ke arah wanita tadi.
Kali ini, senyum gue ikut berpindah ke arahnya. Dia membalas senyum itu lebih manis lagi, sederhana, tapi cukup untuk bikin suasana yang sudah hangat… lebih hangat lagi.
Ohh indahnya dunia. Gue bakal ceritain bagaimana gue bertemu dengannya, bidadari cantik di ujung sana.
Kembali di tahun 2016, ketika hobi gue adalah tidur di kelas. Apalagi pas sudah naik kelas dua SMA. Soalnya kalau malam, gue lebih sering begadang main game. Jadi, mending tidur daripada dengerin guru ngedongeng dan bikin gue tambah ngantuk, kan?
Pak Sudi, guru sejarah tua yang gendut, pendek, dan rambutnya botak depannya, selalu muter video dokumenter tentang peradaban. Video itu diputar berkali-kali, dan meskipun isinya soal tembok Cina dan prajurit Mongol, pak Sudi bisa membuatnya jadi sepuluh cerita berbeda. Kadang dia cerita tentang pembangunan tembok Cina, kadang berlanjut ke perang Mongol, bahkan bisa sampai manusia purba.
Tapi, bukan cuma itu alasan gue lebih memilih tidur saja di kelas. Sebenarnya, gue berharap bisa mimpi bertemu seorang bidadari cantik—yang kulitnya halus dan perilakunya lembut. Eh, tapi seringnya gue malah dapat mimpi aneh. Terkadang gue mimpi tentang T-Rex yang jadi murid di kelas, atau prajurit Mongol yang menyerang sekolah.
"Bro! Bangun! Pak Udin ngeliatin lu tuh dari tadi," bisik Roni, mencoba membangunkan gue yang asyik tidur di jam sebelas—waktu-waktu kritis di siang hari.
"Bawel," jawab gue sambil terus berusaha tidur. Gue masih berharap bisa mimpi ketemu bidadari cantik. Biasanya, kata orang, mimpi di siang hari begini bisa jadi kenyataan.
"Yeh, malah tidur lagi! Itu beneran Pak Udin ngeliatin lu!"
Gue buka mata dari balik tangan yang gue jadikan bantal. Benar saja, Pak Udin udah ngedongak nyari siapa yang bakal diminta maju.
"Arda. Maju! Kerjakan soal nomor delapan!"
"Nah kan, gue bilangin dari tadi, lu tuh udah dipantau." Roni langsung nundukin kepala, takut jadi korban selanjutnya.