"Ini… bukan mimpi, kan?"
Gue menarik kepala gue, sembunyi di balik tiang tembok hijau.
Jantung gue masih berisik sendiri, ngebut kayak habis lari keliling lapangan. Padahal gue cuma… ngelihat dia sekilas. Dia, yang baru beberapa detik lalu ngelihatin gue balik.
Gue menelan ludah pelan.
Biasanya di momen kayak gini, suara Roni mulai terdengar dari kejauhan, makin lama makin jelas, sampai akhirnya gue kebangun di kelas.
Tapi sekarang suara itu nggak datang.
Gue masih duduk di bangku ini, menahan diri untuk nggak lihat dia lagi. Takut kalau kelamaan ngelihatin, dia malah jadi nggak nyaman.
Padahal… entah kenapa, ngelihat dia itu bikin tenang.
Gue menghela napas pelan.
“…sebentar doang.”
Nggak tahu sejak kapan, badan gue sudah bergerak sendiri. Kepala gue pelan-pelan muncul dari balik tembok lagi, mata gue ngintip duluan, tangan gue nahan sisi tembok, lalu badan gue ikut naik sedikit dari posisi duduk.
Dan dia masih di sana.
Kali ini dia sudah membaca buku. Novel kecil berwarna kuning, terangkat dekat ke wajahnya. Gue nyoba ngelihat judulnya, tapi ketutup sama kedua tangannya.
Dia tetap fokus.
Pelan-pelan, buku itu naik lagi sedikit… sampai menutup setengah wajahnya. Tinggal matanya yang bulat.
Dan mata kami bertemu lagi.
Kali ini dia yang duluan bereaksi. Pandangannya turun sedikit, seolah menghindar. Tapi nggak lama, balik lagi ke arah gue.
Alisnya mengerut tipis.
Kayaknya gue mulai keterlaluan.
“Eh, sorry… lu anak baru, ya?” tanya gue spontan.
“Aku kakak kelas kamu,” jawabnya pelan.
Gue sempat bengong sebentar.
Hari ini hari Kamis. Di SMA unggulan ini, tiap jenjang kelas pakai batik dengan warna yang beda-beda. Baru sekarang gue ngeh, di balik hoodie yang dia pakai, ada batik hijau punya anak kelas tiga. Sedangkan gue? Biru. Kelas dua.
“Oh ya? Gue kayaknya nggak pernah lihat lu. Kirain tadi mau nyari guru buat daftar ulang.”
Gue pindah duduk di samping kirinya.
“Nggak sih. Aku mau lomba.”
“Lomba?”
“Iya.”
“Lomba apa emangnya?”
“Lomba Bahasa Inggris.”
Wah… pinter juga.
“So, you good in English…” gue nyengir dikit.
Dia ngangkat alis sedikit. “Mmm… yaa, maybe.”
“Ohhh… i see.”
Hening.
Gue mikir. Nyari topik.
Kosong.
Oiya… gue bahkan belum nanya nama dia.
“Kamu itu kiper tim futsal sekolah kita kan ya?” dia nanya duluan.
“Nah iya, benar.” Gue langsung nengok ke dia.
Kok dia bisa tahu?
Baru aja gue mau nanya, tiba-tiba Bu Aini datang.
"Ibu kira kamu sudah di parkiran. Ya sudah ayo berangkat. Nanti telat registrasi."
"Baik, Bu," jawabnya.
Gue sempet kebingungan sendiri. Tadi rasanya sudah di ujung lidah, tinggal nanya nama dia. Tapi momen itu lewat begitu aja. Langkahnya sudah keburu menjauh. Dia berjalan nyusul Bu Aini tanpa noleh ke belakang lagi.
Dari kejauhan, gue lihat tas hitamnya bergerak pelan ke arah parkiran sekolah. Nggak lama, sosoknya menghilang di balik gedung. Ah, nggak apa-apa lah. Kan kita juga masih satu sekolah. Gue lanjut ke ruang BK. Kayaknya guru BK sudah nunggu di dalam.
Kira-kira dia anak kelas tiga mana, ya…
***
Beberapa hari ini gue belum juga lihat wajah wanita yang gue temuin di lobby sekolah minggu lalu. Tidur gue jadi nggak beres. Mau di rumah atau di sekolah, rasanya sama aja.
Biasanya gue sering didatangi mimpi aneh, tapi sekarang nggak. Kayak baru merem, tahu-tahu sudah bangun lagi.
Di sela-sela pergantian pelajaran, gue nanya Roni.
"Ron, lu tau nggak ada cewek di sekolah kita yang sering ikut lomba gitu?"
"Banyak kali. Sekolah unggulan, bro."
"Bukan itu maksud gue. Masalahnya gue belum pernah lihat dia di sekolah. Kayaknya sering keluar."
“Terus?”
“Kemarin baru aja gue ketemu.”
Roni langsung nengok. “Cakep?”
“Parah.”
Roni nyengir lebar. “Hooo… gue tau nih arahnya ke mana.”