Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #3

Bayang-bayang

“Arda?”

Kok, malah dia tahu nama gue lebih dulu?

Badan gue bergerak tanpa banyak mikir. Gue memutari rak besar itu, lalu berjalan mengendap ke arahnya.

“Heh, ngapain kamu malah masuk ke area cewek?” bisiknya cepat, nggak seperti orang marah.

Gue menempelkan telunjuk ke bibir. “Ssstt.”

Dia menatap gue dengan mata yang sedikit membesar.

“Udah nggak banyak orang,” bisik gue. “Sisa lu, gue, cewek galak tadi, sama Bu Rini.”

“Justru itu tetap salah,” balasnya pelan.

Gue pura-pura nggak dengar, lalu duduk di kursi depan mejanya.

Dia menghela napas kecil, tapi nggak benar-benar menyuruh gue pergi. Tangannya kembali merapikan beberapa buku di atas meja.

“Kok lu curang sih?” tanya gue.

"Curang?”

“Lu tahu nama gue duluan. Gue bahkan belum tahu nama lu.”

Dia sempat diam, lalu senyum kecil muncul di wajahnya.

“Aku Selly.”

Tangannya terulur ke arah gue. Lengan sweater coklatnya kepanjangan, hanya ujung jari kecilnya yang kelihatan.

Nama itu jatuh pelan di kepala gue.

Selly.

Gue mencoba menyambut tangannya senatural mungkin, walaupun rasanya jari gue mendadak lupa cara bergerak.

“Gue Arda.”

Untuk pertama kali, gue ngerasain tangan selembut ini.

Selly malah tertawa kecil.

“Iya, aku sudah tahu. Nggak perlu kenalin diri lagi. Cukup aku aja yang ngenalin nama.”

Gue ikut tersenyum, agak malu sendiri.

“Kamu?” lanjutnya, matanya sedikit menyipit. “Buntutin aku ya?”

“Eh nggak. Tadi, mmm…“ Omongan gue terbata-bata.

“Lagi nyari buku juga.”

Selly memperhatikan gue sebentar, lalu mengangguk pelan. Percaya begitu aja.

Setelah itu, dia kembali fokus ke satu buku terakhir di meja. Sampulnya coklat muda, hampir sewarna dengan sweaternya, dengan dua telinga kecil di bagian atas. Kayak buku catatan berbentuk beruang.

Lucu juga.

Selly membuka beberapa halaman, seperti sedang mengecek catatan terakhir sebelum pulang. Sesekali matanya melirik ke arah gue, lalu cepat-cepat balik lagi ke bukunya.

“Oiya... ”

Selly menoleh. “Ya?”

“Lu tahu nama gue dari mana?”

Jari Selly berhenti di atas buku catatannya. Dia nggak langsung jawab.

Ujung jarinya malah mengetuk pelan permukaan meja, sementara matanya bergerak ke atas seperti sedang mencari jawaban paling aman.

“Mmm…” Dia memiringkan kepala sedikit. “Bukannya kamu memang terkenal di sekolah ini ya?”

Gue mengangkat alis. “Terkenal?”

“Iya.” Matanya menyipit sedikit, seperti balik curiga. “Masa kamu nggak sadar?”

Gue tersenyum kecil. Jujur, gue nggak pernah merasa seterkenal itu.

“Memang iya?”

Selly mengangguk dua kali.

“Kalau lu, dari kelas tiga apa?”

“Tiga A.”

Jawabnya ringan. Mungkin satu bangku kosong yang tadi gue lihat di kelasnya memang tempat duduk dia.

Tapi kok dia malah di sini?

“Sebentar… nama lu tadi Selly, ya?” Gue mengingat sesuatu. “Oh, apa jangan-jangan lu murid akselerasi itu?”

“Hmmm…” Dia menatap ke atas sebentar. “Sepertinya betul.”

“Owh, pantes aja lu nggak ada di kel…”

Gue berhenti.

Hampir aja keceplosan kalau tadi gue nyari dia sampai ke kelasnya.

“Maksud gue, jarang kelihatan gitu. Mungkin karena sering belajar di perpus sini ya?”

“Iya. Guru-guru ngasih aku kelonggaran buat nggak selalu ikut pelajaran reguler di kelas. Jadi sering nggak di kelas deh. Seringnya di sini.”

Hmmm. Ternyata begitu.

Waktu kelas satu, memang pernah ada berita soal murid genius yang akselerasi dari kelas satu langsung naik ke kelas tiga. Katanya waktu SMP dia juga begitu. Tapi perlahan desas-desus itu hilang sendiri. Heboh di awal doang.

Dan sekarang orangnya duduk di depan gue.

Dari arah depan, mendadak terdengar suara kecil. Gue menoleh cepat, mengira Bu Rini masuk ke area perpustakaan lebih dalam. Ternyata cuma suara dari meja depan. Sepertinya Bu Rini sedang siap-siap.

Kemudian suara lain muncul lagi.

Krrrkkk…”

Selly langsung menunduk, satu tangannya memegang perut.

Gue menahan senyum.

“Lapar?”

Selly menggeleng cepat, tapi wajahnya nggak meyakinkan sama sekali.

Gue merogoh kantong celana dan mengeluarkan wafer coklat yang lupa gue makan pas istirahat tadi.

“Ini ada wafer.”

Selly mendongak. Matanya sempat berbinar kecil, tapi langsung pindah ke arah papan kecil di dinding.

“Dilarang makan dan minum di dalam perpustakaan,” ujarnya lambat.

“Makannya diam-diam aja. Asal jangan belepotan,” balas gue.

Selly melihat wafer itu lagi. Kali ini lebih lama.

“Duh…” gumamnya. “Kebetulan memang lapar juga.”

Akhirnya dia mengambil wafer itu.

“Makasih.”

Dia membuka bungkusnya hati-hati. Setelah terbuka, dia makan pelan-pelan sambil sesekali melihat ke arah pintu depan, berjaga-jaga kalau Bu Rini tiba-tiba masuk. Lalu wafer itu habis dan tangannya pun turun, ada sedikit remah wafer yang menempel di samping bibirnya.

Gue menunjuk pelan. “Itu…”

Selly mengerutkan alis. “Apa?”

“Di sini.”

Gue agak maju sedikit, cuma buat memastikan. Tapi dia malah diam. Matanya membesar, napasnya seperti tertahan sebentar.

Gue baru sadar jarak kami jadi terlalu dekat.

Sorry,” ucap gue pelan.

Dengan hati-hati, gue membersihkan remah wafer itu pakai ibu jari.

“Belepotan. Nanti ketahuan abis makan di perpus.”

Selly masih diam.

Hidungnya memerah sedikit. Matanya menatap gue beberapa detik, lalu buru-buru turun ke meja.

“Oh… iya.” Dia tertawa kecil, nyaris nggak terdengar. “Makasih.”

Gue langsung menarik tangan, pura-pura sibuk mengambil bungkus wafer kosong di meja.

“Ini sampahnya gue buang nanti.”

Lihat selengkapnya