Bangun pagi di hari Senin biasanya gue anggap sebagai bentuk hukuman, tapi pagi ini rasanya malah seperti anugerah.
Harus butuh tiga sampai empat kali bunyi alarm, ditambah ibu yang gedor-gedor pintu kamar gue, baru gue bangun. Tapi sekarang, gue sudah bangun sendiri. Kepagian pula.
Gue duduk di pinggir kasur, mengucek mata sebentar, lalu menatap seragam yang sudah tergantung di belakang pintu.
Gue mandi lebih cepat dari biasanya.
Setelah itu, gue pakai seragam, menyisir rambut seadanya, lalu turun ke bawah dengan tas sudah menggantung di bahu.
Di dapur, Ibu yang sedang menyiapkan sarapan langsung berhenti mengaduk sesuatu di wajan.
“Kamu kok sudah bangun aja?”
Gue berhenti di dekat meja makan. “Emang kenapa, Bu?”
Ibu melihat jam dinding, lalu melihat gue lagi.
“Ini masih pagi.”
“Iya kan Senin. Upacara.”
Ibu menyipitkan mata. “Sejak kapan kamu menjadikan upacara sebagai alasan bangun pagi?”
Pertanyaan bagus. Sulit dijawab tanpa membongkar fakta bahwa anak laki-lakinya sedang berusaha terlihat normal padahal isi kepalanya dari tadi cuma satu nama.
Selly.
Gue menarik kursi dan duduk.
“Nggak apa-apa. Lagi pengin berangkat pagi aja.”
Ibu masih menatap gue dengan curiga, tapi akhirnya hanya menaruh piring di depan gue.
“Bagus kalau begitu. Semoga ini bukan sementara.”
“Nggak, Bu. Ini adalah sebuah revolusi.”
“Revolusi biasanya makan banyak korban.”
“Korban pertamanya kasur aku.”
Ibu tertawa kecil.
Tak lama kemudian, Ayah keluar dari kamarnya dengan kemeja kerja yang sudah rapi. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya seperti biasa: tenang, tegas, dan belum sepenuhnya tertarik pada dunia sebelum kopi pertamanya habis.
Dia duduk di depan gue, mengambil cangkir kopi hitam, lalu baru menyadari keberadaan gue.
“Kok kamu sudah siap?”
“Nah kan,” gumam Ibu. “Ayah juga heran.”
Gue mengunyah nasi goreng buatan Ibu dengan tenang.
“Iya, Yah. Kan upacara.”
Ayah menyeruput kopinya pelan. “Biasanya juga upacara, tapi kamu berangkatnya mepet terus.”
Ibu langsung tersenyum.
Gue pura-pura fokus ke piring.
Dari tangga, Syakila muncul dengan seragam rapi, rambut masih berantakan, dan wajah setengah sadar.
Dia berhenti di anak tangga terakhir saat melihat gue.
“Kak Arda?”
“Apa?”
“Kakak sudah mandi?”
“Menurut kamu?”
Syakila mengucek mata, lalu berjalan mendekat seperti sedang memastikan gue bukan hologram.
“Tumben. Biasanya jam segini suara ibu ribut sama kakak masih kedengeran.”
Ayah meletakkan cangkir kopinya. “Kakak kamu itu lagi rajin.”
Syakila menatap Ayah, lalu menatap Ibu, lalu menatap gue lagi.
“Pasti ada sesuatu.”
“Nggak ada.”
“Pasti ada.”
“Syakila, makan dulu,” kata Ibu.
Tapi Syakila sudah tersenyum miring.
“Kak Arda sudah punya gebetankah, jadi bangunnya pagi, nggak sabar pengin ketemu ya?”
Gue hampir tersedak.
Ibu langsung menahan senyum.
Ayah mengangkat alis sedikit, lalu menyeruput kopi lagi, pura-pura tidak tertarik padahal jelas-jelas mendengar.
Dasar anak-anak zaman sekarang, instingnya sudah tajam, ditambah lagi mulutnya asal ceplos.
“Ngaco,” sanggah gue cepat.
Syakila duduk di kursinya. “Kalau ngaco, kenapa Kakak merah?”
“Ini karena nasi gorengnya pedas.”
“Nasi goreng Ibu nggak pedas.”
“Ibu masaknya pakai tekanan batin.”
Ibu menepuk pelan lengan gue. “Jangan bawa-bawa Ibu.”
Syakila tertawa kecil. Ayah akhirnya ikut tersenyum tipis, walaupun cuma sebentar.
Suasana meja makan pagi ini terasa aneh. Rumah ini sedang melihat versi gue yang jarang banget muncul.
Selesai makan, gue langsung mengambil jaket dan kunci motor. Di teras, motor gue sudah siap. Udara pagi masih dingin, sisa hujan semalam membuat lantai halaman sedikit lembap.
Gue baru mau memakai helm ketika mendengar suara Ibu dari dalam.
“Kayaknya anak kita benar-benar beda pagi ini.”
Gue berhenti.
Suara Ayah menyusul, lebih pelan, tapi masih cukup terdengar.
“Namanya juga anak muda.”
“Menurut Ayah kenapa?”
“Ayah dulu juga pernah remaja.”
“Jadi?”
“Ya benar tadi kata Syakila.” Ayah berhenti sebentar. “Anak kita baru ketemu pujaan hatinya.”
Gue langsung batuk keras.
“Uhuk! Uhuk!”
Lalu Ibu keluar ke teras dengan wajah menahan tawa. Ayah berdiri di belakangnya, masih dengan cangkir kopi di tangan.
Syakila muncul dari balik pintu sambil membawa roti.
“Kak Arda punya pujaan hati?”
“Nggak.”
“Namanya siapa?”
“Nggak ada.”
“Kalau nggak ada, kenapa muka Kakak makin merah?”
Gue langsung memakai helm.
“Arda berangkat dulu.”
Ibu tersenyum. “Hati-hati.”
Ayah mengangguk. “Jangan ngebut.”
Syakila melambaikan roti. “Salam buat pujaan hati!”
“Dasar Syakila!” cetus gue.
Dia tertawa, lalu masuk lagi ke dalam rumah.
Gue menyalakan motor, masih dengan telinga panas, gue keluar dari halaman rumah.
***
Pagi itu, jalan menuju sekolah terasa berbeda.
Matahari pagi menyinari jalanan dengan cara yang agak berlebihan, seolah-olah dia juga ikut semangat menyambut Senin. Cahaya keemasannya jatuh di atas aspal yang masih sedikit lembap, memantul di kaca-kaca toko yang baru dibuka, dan membuat semuanya terlihat lebih cerah dari biasanya.
Gerbang sekolah yang biasanya gue lihat seperti mulut monster yang siap menelan semua murid telat, pagi itu malah terasa seperti pintu masuk menuju sesuatu yang sudah gue tunggu-tunggu.
Selly.
Nama itu muncul lagi di kepala gue begitu motor gue masuk ke parkiran.
Gue turun dari motor, melepas helm, lalu melihat sekitar. Masih sepi. Beberapa anak baru datang. Pak Malik, satpam sekolah, berdiri dekat gerbang sambil menyapa murid-murid yang lewat. Udara pagi di sekolah terasa dingin, tapi menyenangkan.
Sampai di kelas, ternyata gue orang pertama yang datang.
Ini prestasi.
Kelas masih kosong. Jendela-jendelanya sedikit berembun, lantainya baru dipel, dan aroma pembersih ruangan masih terasa samar. Gue menaruh tas di meja, lalu berdiri di depan kelas.
Dari sana, bagian perpustakaan masih terlihat cukup jelas. Gedung sekolah masih tenang, seperti belum sepenuhnya bangun. Mata gue terus memandangi pintu perpustakaan, menunggu seseorang yang sudah gue tunggu sejak Jumat sore.
Beberapa menit kemudian, dia muncul dengan hoodie hijaunya. Hoodie yang sama seperti waktu pertama kali gue melihatnya.
Selly berjalan pelan menuju perpustakaan. Tas hitam menggantung di bahunya. Dari kejauhan pun, gue langsung tahu itu dia.
Jantung gue langsung berdegup kencang lagi.
Ternyata dia juga datang sepagi ini.
Gue tersenyum sendiri.
Gila. Gue baru lihat dia dari jauh aja sudah senang begini. Apalgi kalau nanti ketemu dari dekat, mungkin gue harus siap-siap pura-pura normal. Susah, tapi harus dicoba.
Bel tanda persiapan upacara berbunyi tidak lama setelah itu. Anak-anak mulai berdatangan. Kelas yang tadinya sunyi pelan-pelan berubah ramai. Roni datang dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan wajah khasnya yang baru bangun tidur.
“Lu udah dari tadi?” tanyanya sambil menaruh tas.
“Iya.”
Dia berhenti sebentar, menatap gue dari atas sampai bawah.
“Lu siapa?”
“Apaan sih?”
“Arda biasanya datang mepet. Ini siapa yang nyamar?”
“Upacara, Ron.”
“Upacara udah ada dari zaman kita kelas satu, tapi lu baru hormat menghargai waktunya hari ini.”
Gue cuma tertawa kecil, lalu berjalan keluar menuju lapangan.
Saat upacara dimulai, gue berdiri di barisan paling belakang, seperti biasa. Tinggi badan gue membuat gue hampir selalu dapat posisi belakang. Dari sana, pandangan gue cukup luas buat melihat barisan kelas lain.