“Aku dengar dari Kak Intan,” katanya pelan, sambil memainkan plastik apel dengan ujung jarinya. “Waktu itu kamu sempat masuk ke kelas aku, ya?”
Boom.
Pertanyaannya jatuh begitu saja ke jantung gue, yang dari tadi sebenarnya juga belum benar-benar tenang.
Gue menatapnya.
Bingung harus jawab apa.
Karena jawaban yang paling jujur…
Justru yang paling nggak berani gue ucapin.
“Mmm waktu itu gue disuruh Maam Gita, buat anterin buku PR temen-temen gue. Habis ngajar di kelas gue, dia langsung ke kelas kamu, katanya mau sekalian periksa di kelas kamu.”
“Iya kata Kak Intan ada adek kelas, si kiper futsal yang jago itu masuk kelas, terus langsung ngejatuhin buku. Semua murid langsung kaget hehe,”
Selly ketawa kecil, dia melanjutkan, “Ngebayanginnya aja sudah lucu.”
Dia ngetawain gue.
Lebih tepatnya ketawa bareng gue karena gue juga mulai ketawa ngelihat ketawanya yang lepas itu.
“Ahahah iya itu bukunya banyak banget soalnya.”
Selly berhenti ketawa, lalu tersenyum sedikit.
“Kalau itu buku apa?”
Gue melihat sampulnya, baru ingat kalau dari tadi gue membawa novel itu sebagai properti penyamaran.
“Oh, ini.”
Selly memiringkan kepala sedikit.
“Kirain aku, kamu bawa buku romance.”
“Romance?”
“Iya. Dari tadi gayanya kayak orang mau ngasih apel sambil menyatakan sesuatu.”
Gue hampir tersedak udara.
“Enggak. Ini bukan romance.”
“Terus?”
“Science fiction.”
Selly tampak sedikit tertarik. “Tentang apa?”
Gue membalik buku itu sebentar, pura-pura paham banget, padahal gue baru pernah dengar sinopsisnya doang.
“Jadi, ini tentang seorang pria yang terdampar di Mars setelah ditinggal kru astronotnya. Dia harus bertahan hidup sendirian di planet yang nggak ramah sama manusia.”
Selly memperhatikan buku itu.
“Kasihan.”
“Iya. Sendirian di Mars.”
“Dia bisa pulang?”
“Nah, itu yang harus dibaca.”
“Kamu lagi baca itu?"
“Iya baru setengah.”
Setengah sinopsisnya maksudnya.
Selly mengangguk pelan beberapa kali.
Di meja, apel itu masih berada di dekat tangannya. Dia sudah menerimanya, tapi belum juga makan. Sesekali matanya melirik papan larangan makan dan minum di dinding.
Gue tahu dia lapar.
Tapi gue juga tahu dia sebenarnya nggak mau melanggar aturan.
Jadi gue memasukkan tangan ke kantong jaket sebelah kiri dan mengeluarkan apel kedua.
Selly langsung melihatnya.
“Kamu bawa dua?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Supaya kamu nggak makan apelnya sendirian.”
Dia melirik papan itu lagi, lalu kembali melihat apel di tangannya.
Gue menggigit apel gue duluan.
Kres.
Suaranya lumayan jelas.
Selly langsung membelalakkan mata bulatnya.
“Arda.”
“Apa?”
“Kamu makan beneran.”
“Namanya juga apel.”
“Tapi di perpus.”
“Pelan-pelan aja. Waktu kemarin kamu juga sudah makan wafer di perpus.”
"Hehe iya sih."
Gue mengunyah dengan santai, padahal jantung gue masih nggak santai sama sekali.
“Enak,” kata gue setelah menelan.
Dia menatap apel di tangannya. “Beneran?”
“Beneran. Manis.”
Gue menatap Selly dalam, terlalu dalam.
Pelan-pelan, akhirnya dia membuka plastik putihnya. Gerakannya hati-hati sekali, seolah sedang membuka barang bukti. Setelah itu, dia menggigit apel tersebut kecil-kecil.
Kres.
Dia langsung diam.
Gue menunggu reaksinya.
“Gimana?”
Selly mengunyah pelan, lalu matanya sedikit membesar.
“Enak.”
“Tuh kan.”
“Manis.”
“Aku bilang juga apa.”
Dia menatap apel itu lagi, lalu menggigit sekali lagi. Kali ini sedikit lebih berani.
Ada rasa senang yang aneh saat melihatnya makan.
Makan apel.
Bukan mencatat.
Bukan belajar.
Bukan menunduk sendirian.
Selly makan apel pelan-pelan. Gue juga. Sesekali kami melirik ke arah Bu Rini untuk memastikan aksi kriminal per-apel-an ini tidak tertangkap. Setiap kali Bu Rini menoleh sedikit, Selly langsung menurunkan apel ke bawah meja. Gue ikut-ikutan.
Akhirnya kami malah tertawa pelan karena kelakuan sendiri.
Nggak lama kemudian, bel tanda istirahat selesai berbunyi dari kejauhan. Suara anak-anak di luar sudah mulai bergerak kembali ke kelas.
Selly melihat jam.
“Sudah masuk.”
Gue ikut melihat jam dinding perpustakaan.
Sial.
Cepat banget.
Padahal rasanya baru duduk.
Gue berdiri pelan, membawa buku Orang Mars. Dalam hati, gue menyesal kenapa dari kemarin-kemarin gue kebanyakan memantau dari jauh. Kenapa nggak dari awal aja gue berani mendekat?
Ternyata ngobrol sama Selly tidak seseram itu.
Yang seram cuma isi kepala gue sendiri.
“Oke, sudah bel,” kata gue.
Selly mengangguk. “Iya.”
Gue berjalan dua langkah.
Lalu berhenti.
Ada satu hal yang hampir gue ulang lagi.
Kesalahan yang lalu-lalu.
Gue belum punya kontaknya.
Kali ini, gue nggak boleh sebodoh itu dua kali.
Gue berbalik.
“Selly.”
Dia mendongak.
“Iya?”
Gue menggenggam buku di tangan lebih erat.
"Boleh minta ID sosmed kamu?"
Selly tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap gue beberapa detik, lalu membuka halaman belakang buku coklat beruangnya. Dengan tulisan kecil dan rapi, dia menulis sesuatu, menyobek ujung kertasnya, lalu menyerahkannya ke gue.
“Ini. Nanti di-add aja.” Gue menerima kertas kecil itu.
“Kalau gitu… sampai nanti.”
“Sampai nanti, Arda.”
Nama gue terdengar berbeda ketika dia yang mengucapkannya.
Gue keluar dari perpustakaan dengan langkah yang berusaha biasa.
Tapi begitu sampai lorong, gue langsung melihat kertas kecil di tangan.
ID-nya Selly.
Akhirnya.
***
Malamnya, sekitar jam tujuh lewat sedikit, handphone gue berbunyi.
“Makasih ya apelnya tadi."
Gue yang lagi malas-malasan mengerjakan tugas langsung duduk tegak di kursi.
Chat dari Selly.
Sebelumnya gue memang sudah mengirim pesan duluan dan bilang itu akun gue. Tapi tetap saja, melihat namanya muncul di layar bikin gue menatap handphone beberapa detik lebih lama, memastikan ini bukan halusinasi akibat terlalu banyak berharap.
“Itu apel pilihan ibu gue. Yang paling manis dari yang paling manis.”
“Tapi masih lebih manis yang makannya sih tadi.”
Pesan gue terkirim.
Beberapa detik tidak ada balasan.
Setelah pesan itu terkirim, gue langsung melempar HP ke kasur.
Gue menatap handphone dari jauh seperti benda itu bisa meledak kapan saja. Beberapa saat tidak ada balasan.
Gue takut Selly ilfeel, atau dia lagi bingung mau jawab apa.
Akhirnya handphone gue berbunyi lagi.
“Lebay.”
Singkat, padat, jelas.
Oke, Da. Kalau mau kirim harus pikir-pikir lagi, jangan spontan kayak tadi.
Gue menatap layar handphone dengan jantung gue yang lagi-lagi berdegup sana-sini.
“Jangan kebanyakan bawa makanan ke perpus. Aku jadi nggak enak sama kamu.”
Gue membaca kalimat itu dua kali.
Rasanya ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang tidak sepenuhnya bercanda.
Gue baru mau membalas, tapi gara-gara dari tadi duduk gelisah nunggu chat dari Selly, kantung kemih gue akhirnya menyerah.
Gue berdiri ke toilet dulu.
Handphone tetap gue bawa.