Gue menoleh dan melihat Pak Malik, satpam sekolah, berjalan beberapa meter dari kami dengan tangan di pinggang.
Untungnya, Pak Malik belum menyadari keberadaan kami.
Jantung gue langsung jatuh.
“Selly,” bisik gue cepat. “Sel.”
Dia mengerjap pelan. “Hm?”
“Bangun. Ada Pak Malik.”
Mata Selly langsung terbuka penuh.
“Ha?”
Tanpa banyak pikir, gue berdiri dan menarik tangannya lembut agar ikut bangun. Selly masih setengah bingung, tapi begitu melihat Pak Malik mulai mendekat ke arah taman, dia langsung ikut berlari kecil melewati sisi pohon besar.
Kami berhenti di balik tembok dekat lorong taman, napas sama-sama belum rapi.
Untuk beberapa detik, kami cuma diam.
Lalu Selly menunduk. Wajahnya merah sedikit.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Tadi… aku ketiduran ya?”
Gue baru sadar tangannya masih ada di genggaman gue.
“Iya,” jawab gue, tanpa sadar gue ikut tersenyum. “Tapi nggak apa-apa.”
Selly mengangkat wajah sedikit.
Mata kami bertemu sebentar.
Lalu suara langkah Pak Malik terdengar lagi, semakin dekat.
Kami langsung melepas tangan hampir bersamaan.
“Pisah,” bisik gue cepat. “Kamu ke perpus. Aku ke kelas.”
Selly mengangguk, merapikan rambutnya sebentar, lalu berjalan cepat menuju tangga. Tapi sebelum benar-benar pergi, dia sempat menoleh.
“Arda.”
“Hm?”
“Makasih ya. Sandwichnya enak.”
Gue tersenyum kecil. “Nanti aku bilang ke Ibu.”
“Jangan bilang aku ketiduran.”
“Nggak akan.”
Selly tersenyum malu, lalu cepat-cepat pergi.
Gue memperhatikannya sampai hilang di belokan, sebelum akhirnya berlari kecil kembali ke kelas.
***
Kicau burung di samping jendela kamar membangunkan gue di Sabtu pagi.
Biasanya kalau weekend, suara burung, suara motor lewat, belum tentu bisa bikin gue bangun sebelum matahari naik tinggi. Tapi pagi ini, mata gue terbuka sendiri.
Lalu gue ingat alasannya.
Hari ini gue bakal jalan sama Selly.
Kami janjian belajar bareng di perpustakaan kota jam sembilan nanti. Tempat favorit Selly, katanya. Di sana ada area khusus untuk belajar, dan yang paling penting, boleh sambil makan, minum, atau ngemil.
Bagian terakhir itu penting.
Karena sejak semalam, gue sudah minta Ibu bikinin sandwich lagi. Kemarin dia cuma sempat makan sedikit di taman sekolah. Hari ini, gue berharap dia bisa makan sampai benar-benar kenyang.
Gue turun ke dapur untuk melihat Ibu.
Di dapur, Ibu sudah lebih dulu sibuk dengan roti, kotak bekal, dan aroma masakan yang langsung bikin perut gue sadar diri.
“Ini sandwich-nya,” kata Ibu sambil menutup kotak makan. “Yang ini lebih spesial dari biasanya. Pakai keju kesukaan kamu.”
Gue mendekat, lalu mencium pipi Ibu.
“Makasih, Bu.”
Sandwich yang biasa saja, kemarin Selly bilang spesial. Kalau yang ini versi lebih niat, gue yakin dia bakal lebih suka.
Semoga.
Ayah masuk ke dapur dengan wajah bantalnya.
“Kamu pagi-pagi sudah bangun?” Ayah mengangkat alis. “Ayah keduluan nih.”
Ayah lalu duduk di meja makan.
“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?” tanya Ayah.
“Ke perpus kota. Janjiannya jam sembilan sih, cuma Arda kebangun kepagian aja.”
Ibu langsung menoleh.
“Iya, belakangan ini hari sekolah sering bangun pagi. Sekarang weekend juga mulai bangun pagi.”
Gue tertawa kecil. “Ternyata bangun pagi enak juga, Bu. Waktu luang jadi banyak.”
Ibu menatap gue dengan tatapan yang mencurigakan.
***
Jam delapan, gue mulai siap-siap. Perjalanan ke perpustakaan kota kurang lebih setengah jam, jadi gue berencana berangkat lebih awal. Lebih baik gue yang menunggu Selly daripada Selly yang menunggu gue.
Gue memasukkan beberapa buku dan kotak bekal ke dalam tas, lalu berdiri di depan cermin.
Kaus biru muda polos, kemeja putih tanpa dikancing, celana chino coklat vintage, dan sepatu putih.
Rasanya sudah oke.
Gue keluar kamar sambil menenteng tas.
Ibu yang melihat gue langsung berhenti sebentar.
“Wah…” Raut wajahnya gembira. “Anak Ibu sudah lama kayaknya nggak kelihatan seganteng ini.”
Gue langsung salah tingkah. “Biasa aja, Bu.”
Ayah yang sedang duduk dengan kopi hitamnya langsung menyahut, “Ya jelas. Anak siapa dulu?”
Ibu melirik Ayah.
“Waktu Ayah masih muda juga seganteng itu,” lanjut Ayah percaya diri. “Makanya Ibu kamu kepincut.”
“Mana ada?” Ibu tertawa kecil. “Justru Ayah kamu dulu yang ngejar-ngejar Ibu.”
Ayah pura-pura batuk.
Gue cuma bisa geleng-geleng kecil. Orang tua kalau lagi nostalgia kadang lupa anaknya masih hidup di depan mereka.
Ibu mendekat. Gue langsung salim.
“Hati-hati ya, kenalin juga nanti ke Ayah sama Ibu.”
“Hah? Mana ada, Bu.” Gue langsung tahu maksud Ibu dan mengaktifkan sistem pertahanan diri. “Baru teman doang.”
“Baru?”
“Teman, Bu. Teman.”
Ayah menaruh gelas kopinya, dia jelas menahan senyumnya.
“Sudah ya, Bu, Yah. Arda berangkat dulu.”
Gue cepat-cepat memakai sepatu, mengambil helm, lalu menyalakan motor.
***
Jam tangan gue menunjuk pukul 08.20.
Gue sampai jauh lebih cepat dari perkiraan.
Oke, bukan jauh lebih cepat.
Ini sangat kepagian.
Gue mematikan motor, melepas helm hati-hati, lalu merapikan rambut lewat spion.
Sip.
Gedung perpustakaan kota berdiri di depan sana, dengan halaman rapi dan beberapa pohon rindang di sisinya. Orang-orang keluar masuk membawa tas dan buku, semuanya terlihat jauh lebih tenang daripada gue.
Padahal ini cuma perpustakaan.
Gue mencoba melangkah ke pintu utama, tapi semakin dekat, kaki gue malah semakin berat.
Jam tangan sekarang menunjukkan pukul 08.30.
Setengah jam lagi.
Masih ada waktu buat mengumpulkan nyawa sebelum Selly datang.
Lalu pikiran bodoh muncul.
Gue harus melihat Selly lebih dulu.
Entah kenapa, rasanya lebih aman kalau gue tahu dia datang sebelum dia tahu gue ada.
Di sisi kiri halaman, ada pohon akasia cukup besar. Gue berjalan ke sana, lalu berdiri sedikit di balik batangnya.
Belum lama gue berdiri, sesuatu menyentuh pundak gue dari belakang.
Pelan.
Tapi cukup bikin nyawa gue hampir copot.
Gue langsung menoleh.
Selly berdiri di belakang gue.
Tanpa seragam sekolah, dia terlihat berbeda. Lebih lembut, lebih bebas, tapi tetap rapi dengan caranya sendiri. Dress krem kekuningannya sederhana, senada dengan cahaya Sabtu pagi. Cardigan putih tipis panjang hingga menutupi tangannya, rambutnya dikuncir setengah, dan beberapa helai jatuh di sisi wajahnya.
Tas hitam tersampir di bahunya. Rok panjangnya jatuh tenang, membuat semuanya terlihat lebih anggun. Sepatu flat putih polos melengkapi penampilannya.
Nggak ada yang dibuat-buat.
Tapi justru itu yang bikin gue susah berhenti melihat.
Selly tersenyum kecil.
“Kalau ngumpetnya di sini sih kelihatan banget.”
Gue langsung salah tingkah.
“Baru datang?” tanya gue, berusaha terdengar normal.
“Iya,” jawabnya cepat. “Terus lihat kamu di sini.”
“Oh.” Gue menggaruk belakang kepala. “Aku nggak lihat kamu.”
“Iya. Soalnya kamu sibuk ngumpet.”
Telak.
Nggak bisa dibantah.
Kami saling menatap beberapa detik, lalu sama-sama tertawa kecil.
“Ya sudah,” kata gue, mencoba menyelamatkan sisa harga diri. “Yuk masuk.”
Selly mengangguk.
***
“Beneran baru datang?” tanya gue, membuka percakapan saat kami berjalan beriringan masuk ke dalam perpustakaan.
“Baru kok,” jawab Selly. “Pas lihat kamu mulai ngumpet di belakang pohon.”
“Ahaha.” Gue menggaruk belakang kepala lagi. “Tapi jujur sih, sebenarnya kita kepagian ini. Untung perpustakaannya sudah buka dari jam delapan.”
Selly hanya tersenyum kecil.
Langkah kami terasa serasi. Dia berjalan tepat di samping kiri gue, nggak terlalu cepat, nggak juga tertinggal.
Perpustakaan kota yang terdiri dari lima lantai ini ternyata jauh lebih luas dari yang gue bayangkan. Langit-langitnya tinggi, lantainya bersih, dan cahaya pagi masuk dari kaca besar di bagian depan. Suasana di dalamnya tidak terlalu ramai, tapi tetap hidup. Ada orang-orang yang membaca sendirian, beberapa mahasiswa membuka laptop, dan anak kecil yang dituntun ibunya menuju rak buku warna-warni.
Selly mengajak gue ke salah satu sisi perpustakaan di lantai tiga.
Di sana ada meja kayu panjang yang menempel di depan dinding kaca. Sepanjang meja itu berjejer bangku tinggi yang bisa diputar, mirip bangku di bar restoran, hanya saja versi lebih tenang dan lebih cocok untuk orang-orang yang memang datang buat belajar.
“Ini spot favorit aku,” kata Selly.
Gue melihat ke depan. Dari kaca besar itu, pandangan kami bisa langsung jatuh ke jalanan dan pepohonan di luar. Cukup luas untuk mengistirahatkan mata kalau kepala mulai penuh.
“Sering ke sini?” tanya gue.
Selly mengangguk, lalu duduk di bangku sebelah kiri gue.
Lagi-lagi sebelah kiri.
Entah kenapa gue mulai merasa posisi itu memang cocok untuknya.
Kami menaruh tas, mengeluarkan buku, pena, dan beberapa perlengkapan belajar. Sejenak, tubuh gue dan Selly saling berhadapan karena kami sama-sama memutar bangku ke arah masing-masing. Gerakannya terjadi begitu natural, tanpa aba-aba.
Gue tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“So, kita mulai belajar apa?”
“Bahasa Inggris dulu kali?” sarannya.
“Boleh.”
Momen berhadapan itu tidak bertahan lama. Selly langsung memutar tubuhnya lagi ke arah meja, membuka buku soal Bahasa Inggris yang ia bawa.
Sayang banget.
Padahal gue masih ingin ngobrol sambil menatapnya langsung lebih lama.
Tapi nggak apa-apa. Dari samping pun, Selly tetap terlihat menggemaskan. Apalagi saat masuk mode serius belajar. Wajahnya berubah fokus, tangannya rapi membuka halaman, dan matanya langsung bergerak cepat membaca soal.
“Buku kamu keluarin juga,” katanya.
“Oiya.”
Gue cepat-cepat membuka tas. Hampir saja gue ketahuan bengong.
“Oke,” kata Selly sambil menunjuk catatannya. “Kita mulai dari grammar dulu. Kalau ini sudah lumayan paham, nanti soal reading biasanya lebih gampang.”
Gue mengangguk serius.
Dalam hati, gue mengulang mantra.
Fokus.