Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #7

Ujian Seringan Daun

“Mulai besok, lu jangan berani deket-deket Selly lagi.”

Sudah beberapa hari ini, satu pesan dari nomor tidak dikenal itu terus mengganggu kepala gue.

Gue sudah baca pesan itu berkali-kali, tapi tetap nggak menemukan jawaban apa-apa.

Siapa yang ngirim?

Kenapa dia tahu gue dekat sama Selly?

Dan yang paling bikin dada gue nggak enak: kenapa dia merasa berhak menyuruh gue menjauh?

Sore ini, di lapangan futsal sekolah yang terasa lebih panas dari biasanya, semua pertanyaan itu masih ikut kebawa sampai latihan.

Gue berdiri di bawah tiang gawang, kaus latihan sudah basah oleh keringat.

Suara sepatu berdecit di lantai lapangan, teriakan teman-teman, dan pantulan bola terdengar di sekitar gue, tapi semuanya terasa seperti datang dari tempat yang jauh.

“Arda! Fokus!” teriak Roni dari tengah lapangan.

Gue baru menoleh ketika bola sudah melesat ke arah gawang.

Terlambat.

Bola itu lewat begitu saja di samping tangan gue, menghantam jaring, lalu bergulir pelan di dalam gawang.

Gol.

“Gimana sih lu!” protes Roni sambil berlari mendekat.

Gue masih berdiri diam, menatap bola di belakang gue seperti benda itu baru saja datang dari dimensi lain.

Harusnya tadi gampang, bisa gue tepis.

Tapi kepala gue entah pergi ke mana.

Roni mengambil bola dari dalam gawang, lalu menatap gue dari atas sampai bawah.

“Sering ngelamun lu belakangan ini.”

Gue menghela napas, lalu berjalan ke belakang gawang. Handuk kecil yang gue gantung di jaring gawang langsung gue ambil dan gue pakai untuk mengusap wajah.

“Ya gitu deh,” jawab gue seadanya.

“Gitu deh apanya?”

Gue duduk di bawah bayangan pohon dekat gawang, lalu menutup wajah dengan handuk.

Yang ada di kepala gue cuma Selly.

Selly yang lagi makan es krim coklat di bawah pohon dan tersenyum waktu bilang doain gue lolos tes Bahasa Inggris.

Juga pesan dari nomor tidak dikenal itu.

“Kalian ngapain malah duduk?” suara Pak Somad, guru olahraga sekaligus pelatih futsal sekolah gue, teriak dari tengah lapangan.

Roni langsung menjawab, “Izin ganti dulu, Pak. Si Arda lagi nggak fokus.”

Pak Somad menatap gue sebentar, lalu mengangguk. “Ya sudah. Tapi jangan lama-lama.”

“Oke, Pak.”

Roni duduk di sebelah gue, masih memegang bola.

“Nggak fokus kenapa sih?” tanyanya lebih pelan. “Masih mikirin Selly? Bukannya lu kemarin udah jalan bareng sama dia?”

Gue merebahkan badan ke tanah, handuk masih menutupi wajah.

“Iya.”

“Terus?”

“Gue nggak tahu.”

“Lah.”

Gue menarik handuk dari wajah, lalu menatap langit yang mulai berubah warna.

“Habis date itu gue dikirim pesan dari nomor tak dikenal.”

“Oiya serius?”

“Iya,” jawab gue lebih serius.

“Pesannya apa?”

Mulai besok, lu jangan berani deket-deket Selly lagi.”

“Wah baru cerita lu.”

“Menurut lu gimana?”

Roni berpikir sejenak, “Apa jangan-jangan, dia udah punya pacar? Atau ada cowok lain? Mantannya gitu?”

Jawaban Roni bikin pikiran gue tambah ruwet.

“Terus belum lu telepon balik atau nggak ada pesan lanjutan?” tanya Roni lagi.

Gue hanya menggeleng.

“Menurut lu mungkin nggak?” tanya gue.

Roni mengangkat bahu. “Ya mungkin aja. Selly kan cantik, pintar, kalem. Paket lengkap buat bikin cowok-cowok ngedeket ke dia.”

Gue menoleh pelan.

“Lu bantu nenangin apa bantu nyiram bensin?”

“Gue cuma realistis.”

“Realistis lu nyebelin.”

Roni lalu memantul-mantulkan bola futsal ke tanah.

“Tapi kalau memang cowok lain, aneh juga sih,” lanjutnya. “Kalau dia pacarnya Selly, harusnya langsung ngomong jelas. Bukan pakai nomor nggak dikenal kayak debt collector.”

Gue diam.

“Terus menurut lu siapa?”

“Bisa siapa aja.” Roni menatap lapangan. “Bisa orang yang suka sama Selly. Bisa orang yang nggak suka lu deket sama dia. Bisa juga orang yang merasa harus jagain dia.”

“Jagain?”

“Iya.” Roni melirik gue. “Nggak semua orang yang nyuruh lu jauh itu pasti saingan, Da. Bisa aja dia tahu sesuatu yang lu nggak tahu.”

Kalimat itu bikin gue berhenti.

Tahu sesuatu yang gue nggak tahu.

Entah kenapa, kepala gue langsung kembali ke Selly di perpustakaan kota. Ke caranya menatap keluar kaca waktu bilang dia harus suka belajar. Ke kantung mata tipis yang masih ada walau pagi itu dia berusaha kelihatan segar. Ke cara dia bilang nggak punya banyak waktu buat santai.

Mungkin memang ada sesuatu.

Tapi kenapa semua orang seperti tahu sesuatu tentang Selly, kecuali gue?

“Ya udah, jangan dipikirin dulu,” kata Roni sambil berdiri. “Main lagi ayo Pak Somad udah ngodein tuh.”

Dia lari kembali ke pinggir lapangan sebelum gue sempat membalas.

Gue ikut berdiri, melingkarkan handuk kecil di leher, lalu kembali bersiap di pinggir lapangan. Kepala gue masih ramai oleh kemungkinan-kemungkinan yang Roni lempar tadi.

Selang beberapa detik, gue melihat seseorang berjalan di lorong.

Kak Intan.

Teman sebangku Selly.

Dia berdiri dengan tas tersampir di bahu, wajahnya tenang, tapi matanya langsung mengarah tajam ke gue.

Aneh.

Tatapan itu bukan tatapan orang yang kebetulan lewat.

Lebih seperti orang yang akhirnya menemukan sesuatu yang memang sedang ia cari.

Gue membalas tatapannya dari pinggir lapangan.

Kak Intan tidak tersenyum.

Dia cuma berhenti sebentar di ujung lorong, lalu memberi isyarat kecil dengan dagunya, seolah menyuruh gue mendekat.

Dada gue langsung nggak enak.

“Arda!” teriak Pak Somad dari tengah lapangan. “Kamu siap?”

Gue menoleh cepat. “Sebentar, Pak!”

Saat gue melihat lagi ke arah lorong, Kak Intan masih berdiri di sana.

Masih menatap gue.

Roni yang masih di pinggir lapangan ikut melirik. “Siapa?”

“Temennya Selly.”

Roni mengangkat alis. “Kakak kelas yang kadang bareng Selly itu?”

Gue mengangguk.

“Wah.” Roni menatap Kak Intan sebentar. “Mukanya kayak panitia sidang.”

“Jangan mulai.”

“Kali ini gue serius. Aura interogasinya kuat.”

Kak Intan akhirnya berjalan beberapa langkah mendekat, tapi tidak sampai masuk area lapangan. Jaraknya cukup dekat untuk bicara, cukup jauh untuk tetap terlihat seperti bukan bagian dari tim futsal.

“Arda,” panggilnya.

Gue melangkah mendekat.

“Kak Intan?”

Dia menatap gue sebentar.

“Besok pulang sekolah, ketemu gue di kafe dekat pertigaan lampu merah.”

Gue mengerutkan alis. “Buat apa?”

“Soal Selly.”

Nama itu langsung membuat semua suara di lapangan seperti mengecil.

“Selly kenapa?”

Kak Intan menatap gue lagi.

“Kalau lu beneran peduli sama dia, datang.”

Gue terdiam.

“Kak, tunggu.”

Mata Kak Intan tidak berubah.

Tapi justru karena tidak berubah, gue makin yakin.

Dia tahu.

Atau mungkin…

Dia pelaku yang ngirim pesan dari nomor tak dikenal.

“Kakak yang ngirim?” tanya gue pelan.

Kak Intan tidak menjawab.

Dia hanya menatap gue beberapa detik, lalu berkata, “Besok.”

Setelah itu, dia berbalik dan berjalan menuju gerbang sekolah.

Gue masih berdiri di pinggir lapangan.

“Arda!” Pak Somad berteriak lagi. “Kamu mau main atau jadi penonton? Sudah siap belum?”

Gue tersadar.

“Iya, Pak!”

Gue kembali ke bawah mistar gawang, tapi kepala gue sudah tidak ada di lapangan.

Bola, peluit, suara sepatu, teriakan Roni—semuanya terdengar jauh.

Karena sekarang, kemungkinan-kemungkinan di kepala gue tinggal mengerucut ke satu nama.

Kak Intan.

***

Besoknya, sekolah mulai terasa seperti sedang mendekati sesuatu yang besar.

UAS semester ganjil sudah makin dekat. Guru-guru mulai lebih sering mengingatkan materi, papan tulis makin penuh rangkuman, dan anak-anak yang biasanya santai mulai pura-pura panik. Yang dari dulu panik, tentu saja makin panik.

Gue juga punya beban lain sebelum itu.

Ujian Bahasa Inggris seleksi beasiswa futsal.

Biasanya, kalau dengar kata Bahasa Inggris, otak gue langsung mencari pintu darurat. Tapi kali ini beda. Entah karena Selly sudah ngajarin gue atau gue nggak mau mengecewakan dia, atau mungkin karena dua-duanya, gue mulai benar-benar mencoba.

Sayangnya, saat gue berusaha fokus, pikiran gue justru lebih sering lari ke Selly.

Beberapa hari terakhir, dia makin sering terlihat dengan buku di tangan. Di kelas, di perpustakaan, bahkan waktu istirahat pun, dia seperti selalu punya halaman yang harus dibaca atau soal yang harus diselesaikan. Katanya, ini UAS semester ganjil terakhirnya sebelum dia benar-benar fokus ke ujian masuk universitas.

Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi dari cara Selly mengatakannya, gue tahu itu bukan sekadar ujian sekolah.

Buat Selly, setiap nilai seperti punya tujuan. Setiap soal seperti tangga. Setiap hari seperti waktu yang nggak boleh hilang percuma.

Dan mungkin karena itu juga, ucapan Kak Intan kemarin semakin susah gue abaikan.

Kalau lu beneran peduli sama Selly, datang.

Seharian itu, kalimat Kak Intan terus mengikuti gue.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Suara kursi bergeser dan langkah kaki langsung memenuhi kelas. Murid-murid satu per satu keluar, tumpah ke lorong sekolah yang mendadak ramai.

Gue dan Roni ikut keluar bareng. Turun dari lantai dua, menyusuri koridor, lalu sampai ke gerbang depan. Di luar, suasananya nggak kalah ramai. Anak-anak mulai menyebar; ada yang langsung pulang, ada juga yang masih nongkrong di sekitar sekolah.

“Jadi kita ke mana?” tanya Roni sambil menyenggol bahu gue.

“Ke kafe dekat pertigaan lampu merah,” jawab gue singkat.

Roni langsung nyengir. “Wih… seriusan nih? Kakak kelas kemarin itu ngajak ketemuan di kafe?”

Gue nggak langsung jawab. Langkah gue tetap jalan ke depan, menyeberang jalan bareng Roni.

“Dia mau ngomong soal Selly,” kata gue akhirnya.

Roni yang tadinya santai, langsung sedikit serius. “Serius amat sampai ngajak ketemuan gitu.”

Gue cuma mengangkat bahu. Jujur aja, gue juga nggak tahu bakal ngomong apa nanti. Tapi dari cara Kak Intan menatap gue kemarin, rasanya ini bukan hal kecil.

Lihat selengkapnya