Garis Pantai di Antara Kita

Awal Try Surya
Chapter #8

Hujan Sepayung Berdua

“Mmm…” jawabnya ragu.

Satu suara kecil itu langsung bikin jantung gue turun sedikit.

“Tapi kalau kamu nggak bisa juga nggak apa-apa,” kata gue cepat, padahal jelas-jelas dalam hati gue berdoa sebaliknya.

Selly menatap lapangan sebentar, seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Jadwal belajar, waktu kosong, atau mungkin keberanian untuk memberi dirinya sendiri sedikit jeda.

“Minggu?” tanya gue, mencoba terdengar biasa saja.

Dia menoleh lagi ke arah gue.

Lalu mengangguk kecil.

“Minggu bisa.”

Gue hampir tersenyum terlalu lebar.

“Oke,” kata gue. “Minggu.”

Di bawah, suara anak-anak yang pulang makin jauh. Angin sore lewat di antara kami, membawa bau halaman sekolah yang mulai sepi. Selly kembali menatap lapangan, sementara gue ikut melihat ke arah yang sama.

Ujian Bahasa Inggris sudah selesai.

Dan ternyata, ujian ngajak Selly jalan juga berhasil.

***

Minggu pagi yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang.

UAS akhirnya selesai juga. Lancar, setidaknya jauh lebih lancar dari bayangan buruk yang sempat gue kumpulkan di kepala sendiri. Rasanya ada satu beban besar yang pelan-pelan turun dari pundak gue.

Dan mungkin karena itu, pagi ini terasa lebih ringan.

Gue berdiri di dalam kereta menuju stasiun tempat janjian dengan Selly. Tangan gue berpegangan pada tiang, sementara mata berkali-kali melihat layar handphone.

Chat terakhir dari Selly cuma sederhana.

“Aku sudah jalan ke stasiun.”

Cuma itu.

Tapi efeknya cukup membuat gue senyum sendiri sejak beberapa stasiun lalu.

Dari balik jendela, langit terlihat lebih biru dari biasanya. Matahari jatuh ke atap-atap rumah, pohon-pohon di pinggir rel terlihat lebih hijau, dan kota seperti berjalan lebih pelan.

Padahal mungkin semuanya sama saja.

Yang berbeda cuma isi kepala gue.

Kereta berhenti di stasiun tujuan. Begitu pintu terbuka, gue turun bersama penumpang lain. Suara pengumuman kereta, langkah kaki, dan mesin tap kartu bercampur jadi satu.

Gue berdiri dekat tiang, pura-pura melihat papan jadwal.

Padahal mata gue lebih sering menyapu arah tangga dan pintu masuk peron.

Lalu seseorang mencolek pundak gue dari belakang.

Pelan.

Gue menoleh.

Selly berdiri di sana dengan senyum kecilnya.

Rambutnya hari ini terlihat lebih bergelombang rapi. Ia memakai dress hijau kebiruan yang jatuh panjang, dipadukan cardigan pendek putih keabu-abuan. Tas kecil hitam terselempang di tubuhnya.

Gue sempat diam.

Gawat.

Selly di luar sekolah ternyata jauh lebih susah dilihat biasa saja.

“Udah lama?” tanya gue, berusaha terdengar normal.

“Nggak,” jawabnya cepat. “Baru kok.”

“Baru atau baruuu?”

Selly berpikir sebentar, telunjuknya naik ke dekat bibir. “Kalau dihitung secara perasaan, baru.”

Gue tertawa kecil. “Jawabannya aneh.”

“Yang penting jawab.”

Dia berdiri di samping gue, ikut melihat papan jadwal kereta.

“Kereta berikutnya berapa menit lagi?”

“Tiga menit.”

“Oh. Cepat juga.”

“Iya. Jadi kita nggak perlu nunggu lama.”

Selly mengangguk. Kedua tangannya memegang tali tas di depan tubuhnya. Dia terlihat lebih ceria dari biasanya, dan diam-diam gue berharap hari ini berjalan lancar seperti waktu di perpustakaan kota.

“Terakhir ke kebun binatang kapan?” tanya gue.

Selly menatap rel sebentar.

“Kayaknya sudah lama banget.”

“Waktu SD?”

“Iya. Kelas enam.”

“Berarti hari ini nostalgia.”

Selly tersenyum tipis. “Mungkin.”

Gue hampir bertanya lebih jauh, tapi kereta keburu datang. Angin dari arah rel menyentuh wajah kami, membuat bagian bawah rok Selly bergerak sedikit sebelum rangkaian berhenti di depan peron.

Pintu terbuka. Gue memberi jalan untuk Selly masuk duluan.

“Silakan, Kakak Kelas.”

Selly menoleh kecil. “Dasar adik kelas.”

“Masih agak sakit dengarnya.”

“Padahal aku cuma kasih fakta.”

Kami masuk ke dalam kereta. Tempat duduk sudah penuh, jadi kami berdiri dekat pintu. Bahu kami sesekali bersentuhan karena penumpang cukup ramai.

Dari jendela, kota mulai bergeser. Rumah-rumah, pohon, kabel listrik, dan langit cerah seperti ikut mengantar kami menuju kebun binatang.

“Banyak juga yang mau jalan-jalan,” kata Selly.

“Cuacanya bagus.”

“Iya. Mendukung.”

“Mendukung apa?”

“Mendukung rencana jalan-jalan hari ini.” Selly melihat ke luar jendela. “Semoga nggak terlalu panas.”

“Kalau panas, kita cari es krim lagi.”

“Kamu yang traktir lagi?”

“Sebagai ucapan terima kasih dari murid ke guru privat dadakan yang imut.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Hidung Selly langsung memerah. Dia pura-pura melihat ke arah lain, sementara gue baru sadar mulut gue barusan bergerak tanpa izin otak.

Beberapa detik kemudian, dia menoleh lagi, walau wajahnya masih malu.

“Aku bukan guru privat.”

“Tapi galak kayak guru privat.”

“Aku galak?”

“Nggak. Tegas.”

Selly menghela napas kecil. “Kamu dari kemarin jawabnya itu terus.”

“Soalnya itu jawaban paling aman.”

Dia tertawa pelan.

“Mmm, kalau hujan?” tanyanya.

Selly membuka tas kecilnya, menunjukkan payung coklat lipat di dalamnya.

“Wah, siap banget.”

“Payungnya cuma muat satu orang.”

“Berarti aku?”

“Aku lanjut jalan, kamu neduh aja.”

“Sadis.”

Selly tertawa lagi.

Di antara suara rel dan pengumuman stasiun, tawa kecilnya terdengar sebentar, tapi cukup membuat perjalanan ini terasa lebih ringan.

Beberapa stasiun kemudian, kami turun.

Stasiun tujuan tidak terlalu besar, tapi cukup ramai. Banyak keluarga turun dari kereta yang sama. Anak-anak memakai topi warna-warni, beberapa membawa botol minum sendiri. Dari pintu keluar stasiun, papan petunjuk menuju kebun binatang sudah terlihat.

“Dekat kan?” tanya Selly.

“Dekat. Tinggal jalan beberapa ratus meter.”

“Beberapa ratus meter versi kamu atau versi normal?”

“Versi orang sehat.”

“Kalau jauh, aku salahkan kamu ya.”

“Belum jalan sudah protes.”

“Aku cuma memastikan.”

Kami keluar dari stasiun, lalu berjalan di trotoar. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi pohon-pohon di sepanjang jalan cukup menahan panas. Sesekali angin lewat dari arah jalan raya, membawa suara kendaraan, suara anak kecil, dan bau jajanan dari pedagang yang mulai buka.

Selly berjalan di samping gue. Kadang langkahnya sedikit melambat kalau melihat sesuatu di pinggir jalan: penjual balon, keluarga yang merapikan topi anaknya, anak kecil yang menangis karena es krimnya jatuh.

“Kasihan,” katanya pelan.

“Beliin lagi harusnya.”

“Kalau jatuh lagi?”

“Beli lagi.”

Selly menoleh. “Boros.”

“Demi kebahagiaan anak kecil.”

“Kalau anak kecilnya kamu?”

Gue hampir tersedak udara sendiri.

“Hah?”

Selly cepat-cepat melihat ke depan. “Maksud aku, kamu waktu kecil.”

“Oh.” Gue mengangguk sok paham. “Kalau gue waktu kecil, mungkin gue nangis dulu. Biar dramatis.”

“Sekarang juga masih mungkin.”

“Mana ada.”

Selly tersenyum kecil, kali ini tanpa melihat gue.

Kami terus berjalan sampai gerbang kebun binatang mulai terlihat dari kejauhan. Di depannya, orang-orang mengantre, anak-anak berlarian kecil, dan beberapa pedagang minuman berdiri di bawah pohon.

Gue melirik Selly.

Dia menatap gerbang itu cukup lama.

Ada sesuatu di wajahnya yang berubah. Bukan sedih, tapi seperti ada kenangan lama yang baru saja lewat dan menyentuhnya pelan.

“Sudah lama banget ya?” tanya gue.

Selly tetap melihat ke depan.

“Iya,” jawabnya lirih.

Gue tidak bertanya lagi.

Hari ini baru saja dimulai.

Dan untuk sekarang, gue cuma ingin berjalan di sampingnya dulu.

***

Kami masuk ke kebun binatang bareng rombongan keluarga lain yang juga baru datang. Di depan gerbang, suara anak-anak langsung campur aduk. Ada yang minta digendong, ada yang menarik tangan ibunya, ada juga yang baru masuk lima langkah sudah minta minum.

Selly berjalan di samping gue sambil membaca papan denah besar dekat pintu masuk.

“Jadi kita mulai dari mana?” tanya gue.

Dia membaca denah itu dengan serius. “Kalau dari sini, paling dekat ke area kucing besar.”

“Macan?”

“Iya.”

“Oke. Kita mulai dari macan.”

Selly menoleh. “Kamu nggak takut?”

“Takut kenapa?”

“Takut kalah aura.”

Gue langsung menatapnya. “Jadi selama ini aura gue kalah sama macan?”

Lihat selengkapnya