Setelah gue jalan ke kebun binatang sama Selly, hubungan gue dengannya pelan-pelan jadi lebih dekat lagi.
Semester baru juga sudah dimulai dengan cepat, nggak kerasa mau UTS lagi.
Selain lebih sering ketemu Selly di perpustakaan buat belajar bareng, gue juga mulai terbiasa jalan pulang sama dia setiap kali dia punya waktu senggang sehabis sekolah.
Sekadar makan bakso dekat sekolah, duduk berlama-lama di kafe tempat gue ketemu Kak Intan, atau jalan santai sambil jajan di sekitar sekolah tanpa arah yang jelas sampai langit mulai berubah jadi senja.
Tapi, makin lama gue dekat sama Selly, makin susah juga gue nemuin momen yang pas buat bilang kalau gue suka sama dia.
Malam ini gue cuma sendirian di kamar, ditemani buku-buku pelajaran yang dari tadi terbuka berantakan di meja buat persiapan UTS.
Tapi, bukannya belajar, gue malah sibuk mantengin layar komputer.
Link pengumuman beasiswa futsal sudah terbuka dari lima menit lalu.
Tapi cursor mouse gue belum juga berani ngeklik.
Di layar handphone, chat dari Selly masih jadi satu-satunya hal yang nemenin hari-hari sepi gue.
Gue mengumpulkan keberanian untuk akhirnya mengklik link pengumuman beasiswa futsal.
Loading.
Dada gue langsung deg-degan.
Kalimat-kalimat di layar mulai muncul perlahan sampai akhirnya mata gue berhenti di satu bagian paling penting.
"...dinyatakan belum memenuhi kualifikasi..."
Gue langsung bersandar ke kursi sambil menatap layar komputer cukup lama.
Tulisan pengumuman itu masih terpampang jelas di depan mata, dan semakin gue baca, semakin sesak rasanya dada gue.
Gagal lagi.
Gue mengusap wajah pelan sebelum akhirnya menggerakkan mouse buat menutup halaman itu. Monitor komputer perlahan mati, menyisakan pantulan samar kamar gue yang berantakan di layar hitamnya.
Tangan gue lanjut meraih saklar lampu di dekat meja.
Klik.
Kamar langsung berubah gelap.
Gue menjatuhkan tubuh ke kasur tanpa tenaga, lalu menarik bantal buat nutup muka. Selama beberapa menit gue cuma diam di sana, nggak ngapa-ngapain, mencoba mencerna kalau semua usaha yang gue pikir sudah cukup ternyata tetap belum berhasil membawa gue lolos.
Yang langsung muncul di kepala gue malah bukan soal beasiswanya lagi.
Tapi gimana caranya gue kasih tahu Ayah sama Ibu nanti.
Mereka memang nggak pernah maksa gue harus jadi atlet atau harus selalu menang. Tapi kalau soal sekolah dan masa depan, Ayah sama Ibu bukan tipe orang tua yang santai juga.
Ayah selalu bilang kalau gue bebas pilih jalan hidup, asal dijalaninnya serius.
Dan masalahnya, ini pertama kalinya gue benar-benar serius ngejar sesuatu.
Tapi gue tetap gagal.
Gue membalik badan pelan di kasur, menatap langit-langit kamar yang samar karena lampu sudah dimatiin.
Gue sudah bisa ngebayangin ekspresi Ayah nanti. Bukan marah besar, tapi tatapan kecewa yang biasanya malah lebih bikin nggak enak.
Ibu mungkin bakal banyak nanya kenapa bisa nggak lolos setelah belajar selama ini.
Dan gue sendiri juga nggak tahu harus jawab apa.
Yang bikin berat bukan dimarahin.
Tapi karena gue tahu mereka sempat percaya kalau kali ini gue benar-benar bisa berhasil.
Pikiran gue lalu pindah ke Selly.
Ke buku catatan bahasa Inggris yang dia bikinin buat gue.
Ke waktu yang dia luangin sepulang sekolah cuma buat ngajarin gue belajar.
Sampai omelan kecil tiap gue mulai malas dan kehilangan fokus.
Gue menutup mata sambil menghela napas panjang.
Rasanya kayak gue sudah mengecewakan orang-orang yang percaya kalau gue sebenarnya bisa.
TING!
Handphone gue tiba-tiba bunyi, layar putihnya langsung nyala di tengah kamar yang gelap. Mata gue sampai sedikit menyipit karena dari tadi cuma diam di kasur tanpa lampu.
“Gimana?”
Chat dari Selly masuk. Gue memang sudah bilang ke dia kalau malam ini pengumuman beasiswa futsal.
Jari gue diam beberapa detik sebelum akhirnya mulai mengetik.
“Gak lulus.”
Gue masih menatap layar cukup lama.
Tiba-tiba panggilan dari Selly muncul seketika.
Nggak pakai lama gue angkat panggilan Selly walaupun perasaan gue masih campur aduk.
“Arda…” Suara imut Selly muncul dari sisi seberang.
“Nggak apa-apa,” potong gue langsung sebelum Selly melanjutkan bicaranya. “Aku mungkin memang kurang belajar aja.”
“Kamu nggak boleh sedih! Tapi, sebelumnya maaf karena sudah nggak becus ngajarin kamu sampai kamu nggak lulus. Hehehe.”
Tawa Selly mencoba mencairkan suasana sebisa dia.
Suaranya juga terdengar lebih lembut dari biasanya. Nggak seperti waktu dia marahin gue karena tidur di kelas atau malas belajar.
Gue jadi ketawa setelah mendengar respon Selly yang minta maaf secara lucu.
“Ahaha kok kamu yang minta maaf jadinya? Justru aku minta maaf ke kamu karena jadi murid yang bodoh, nggak lulus ujian.”
“Nggak ada yang namanya murid bodoh, yang ada hanya guru yang gagal,” lanjut Selly dengan suaranya yang semakin melembut.
“Iya iya deh Kak Guru Selly.” Gue mencoba balik menenangkannya karena gue tahu kalau gue lanjut debat pasti dia nggak mau mengalah.
“Aku percaya kok!” jawab gue semangat kali ini.
“Memang harus percaya lagi.”
Gue mengusap wajah pelan.
Sial. Kenapa kalimat-kalimat sederhananya bisa lebih masuk daripada nasihat panjang orang lain?
“Lagian sebentar lagi gak kerasa sudah mau UTS kan?” tanya Selly kembali.
“Waduh sudah bahas ujian lagi aja.”
“Justru itu. Kamu sudah semester empat mau naik kelas tiga. Aku sudah persiapan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas. Atau kalau beruntung dapat jalur undangan.”
Gue baru sadar.
Semester enam.
Kelas tiga.
Berarti setelah ini, waktunya Selly di sekolah ini tinggal sebentar lagi.
Entah kenapa, kalimat itu bikin gue nggak enak sendiri.
“Oh iya ya,” jawab gue pelan.
“Iya. Jadi aku juga harus serius. Dan kamu nggak boleh patah semangat!”
Gue mengetuk meja pelan, mikir sebentar sebelum ngomong lagi.
“Jadi kapan mau belajar bareng lagi?”
Selly menahan napasnya sebentar.
“Secepatnya.”
Gue menahan senyum.
“Oke kalau begitu.”
Setelah itu, gue melirik pintu kamar. Entah kenapa, kalimat Ibu beberapa waktu lalu muncul di kepala gue.
“Kenalin juga nanti ke Ayah sama Ibu.”
Waktu itu gue cuma jawab, “Mana ada Bu.” Jawaban aman. Jawaban orang yang belum siap.
Tapi sekarang, sambil melihat buku-buku di meja dan panggilan Selly yang masih terbuka, ide itu muncul pelan-pelan.
Belajar bareng.
Bukan cuma berdua. Biar nggak aneh.
Roni bisa ikut. Kak Intan juga.
Dan kebetulan, ulang tahun gue tinggal sebentar lagi.
Biasanya ulang tahun gue lewat begitu aja. Paling Ibu masak sedikit lebih spesial, Roni ngucapin sambil minta traktiran, lalu selesai. Gue juga nggak pernah terlalu berharap dirayain.
Tapi kali ini, entah kenapa, gue pengen ada mereka.
“Kalau belajar bareng buat UTSnya di rumah aku gimana?”
Gue langsung merasa kamar gue jadi terlalu sunyi.
“Maksudnya rame-rame. Aku ajak Roni. Kamu bisa ajak Kak Intan juga kalau mau.”
Gue tambah lagi dengan alasan lain.
“Biar fokus belajar. Rumah aku lumayan enak buat belajar kok. Ada meja panjang di ruang pojok.”
Beberapa detik lalu Selly membalas, “Kamu ngajak aku ke rumah kamu?”
Gue langsung menegakkan badan.
“Rame-rame.”
“Tetap saja rumah kamu.”
“Iya sih.”
“Kenapa tiba-tiba?”
Gue menggaruk kepala.
Gue bisa saja jawab karena UTS. Bisa juga jawab karena Ibu pengen kenal. Tapi ada satu alasan lain yang rasanya lebih jujur, walaupun gue nggak tahu harus bilangnya gimana.
Gue akhirnya memilih jalan tengah.
“Biar belajarnya nggak cuma di perpus terus.”
Gue diam sejenak menunggu Selly merespon.
Lalu mendadak mulut gue melanjutkan spontan,
“Terus Ibu aku juga pernah bilang pengen kenal kamu.”
“Ibu kamu?”
Kalimat tadi yang gue tahan-tahan untuk diucapkan terlanjur keluar.
“Sekalian… minggu depan, hari Jumat, aku ulang tahun.”
Tambah gue.
“Jadi ini belajar bareng atau ulang tahun?”
Gue ketawa kecil.
“Dua-duanya mungkin.”
“Kamu bilangnya tadi belajar.”
“Iya. Belajar yang kebetulan bertepatan dengan hari lahir aku.”
“Itu namanya ulang tahun.”
“Jadi gimana, mau datang nggak?”
Gue langsung menyesal karena nanyanya terlalu terus terang.
Beberapa detik setelah itu, Selly membalas.
“Kalau Kak Intan bisa ikut, aku ikut.”
Gue mendengar itu sambil menahan senyum.
“Oke. Aku kabarin Roni.”
“Jangan lupa benar-benar belajar.”
“Iya, Kak Selly.”
“Sip. Yasudah. Kamu jadi nggak sedih lagi kan?”
Benar juga. Gara-gara telponan ini, gue sampai benar-benar lupa kalau beberapa menit lalu gue masih sedih dan tenggelam mikirin kegagalan beasiswa futsal tadi.
“Ehiya sudah nggak kok.”
“Oke kalau begitu. Tetap semangat! Aku tutup dulu Arda. Byeee.”
“Yaaa good night!”
“Good night too Arda…”
Gue menaruh handphone di meja sambil senyum kecil sendiri.
Aneh juga. Padahal tadi gue sempat merasa dunia lagi nyebelin banget, tapi cuma karena Selly nelepon, dengerin gue ngomong, lalu minta maaf seolah kegagalan itu ikut jadi bebannya.