Minggu-minggu berikutnya, gue pikir semuanya bakal kembali biasa.
Maksud gue, malam belajar di rumah gue kemarin sebenarnya berjalan bagus. Selly sempat makan bareng keluarga gue, sempat ketawa kecil gara-gara ocehan Roni, bahkan Ibu gue juga sudah mulai kelihatan nyaman sama dia.
Memang dia pulang agak mendadak.
Tapi gue mencoba nggak terlalu mikirin itu.
Mungkin dia benar-benar ada urusan.
Atau mungkin gue aja yang kebanyakan mikir.
Di sekolah, gue nggak menemukan Selly di perpustakaan seperti biasanya.
Bangku di pojok area cewek yang sering dia pakai kosong.
Sepanjang pelajaran, kepala gue juga nggak benar-benar fokus. Pikiran gue muter terus ke jumat malam kemarin.
Baru waktu jam pulang sekolah gue akhirnya melihat dia.
Selly keluar dari lorong kelas tiga bareng Kak Intan. Tas hitamnya menggantung di bahu, langkahnya biasa aja.
Terlalu biasa malah.
Gue langsung berdiri dari bangku dekat koridor.
“Selly.”
Dia berhenti.
Kak Intan ikut berhenti di sampingnya.
Untuk sesaat mata kami bertemu, dan ada sesuatu di wajah Selly yang muncul cepat sekali sebelum langsung dia sembunyikan lagi.
“Iya,” katanya pelan.
Cuma satu kata.
Biasanya, minimal senyum kecil yang dia berikan.
Tapi sekarang tidak ada.
“Tadi pagi aku chat.”
“Iya. Aku lihat.”
“Belum sempat balas?”
Selly mengangguk pelan.
“Maaf. Lagi banyak yang dipikirin.”
“Oh.”
Gue ikut mengangguk kecil.
“Nggak apa-apa.”
Dia langsung pergi begitu saja, ekspresi Kak Intan pun sampai terheran juga.
Tapi ternyata itu bukan cuma hari itu aja.
Besoknya Selly masih sama.
Chat gue tetap dibalas, tapi seperlunya.
“Kamu udah makan?”
“Sudah.”
“Jadi belajar di perpus?”
“Kayaknya nggak dulu.”
Kalimat itu sebenarnya biasa aja.
Tapi buat gue rasanya seperti jarak yang mulai muncul pelan-pelan.
Sampai suatu saat akhirnya gue menghentikan dia di lorong lantai bawah sepulang sekolah.
“Kamu kenapa?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Selly langsung diam.
Nggak lama.
Tapi cukup buat bikin gue sadar kalau dia memang sudah menunggu gue bakal nanya itu.
“Aku nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu berubah.”
Dia menunduk sebentar sebelum akhirnya menjawab kecil.
“Aku cuma lagi banyak pikiran.”
“Pikiran apa?”
Selly menggeleng pelan.
“Nggak bisa aku jelasin sekarang.”
“Kenapa?”
Kali ini dia mengangkat wajahnya. Matanya melihat ke arah gue, tapi rasanya jauh banget.
“Karena aku sendiri juga belum tahu harus mulai dari mana.”
Kalimat itu bikin gue langsung diam.
Di belakang Selly, Kak Intan muncul dari ujung lorong. Dia nggak ngomong apa-apa, cuma berdiri sambil memperhatikan kami dengan wajah serius.
“Selly,” panggilnya pelan.
Selly menoleh sebentar, lalu kembali melihat gue.
“Maaf, aku harus pergi.”
“Selly.”
Suara gue keluar lebih pelan dari yang gue kira.
Dia berhenti lagi.
“Kalau aku salah, bilang aja.”
Selly menatap gue cukup lama.
Lalu perlahan menggeleng.
“Kamu nggak salah.”
“Kalau begitu kenapa?”
Beberapa detik dia nggak menjawab.
Dan justru itu yang bikin dada gue makin sesak.
“Justru itu masalahnya.”
Setelah berkata begitu, Selly langsung pergi bersama Kak Intan, ninggalin gue sendirian di lorong sekolah sambil mencoba memahami apa sebenarnya yang baru saja berubah di antara kami.
***
Di sore hari lainnya, Roni menemukan gue duduk sendirian di pinggir lapangan futsal.
Bukan latihan.
Gue cuma duduk di bawah gawang sambil melempar bola futsal ke udara lalu menangkapnya lagi.
“Lu dari tadi di sini?” tanyanya sambil duduk di sebelah gue.
Gue mengangguk kecil.
“Latihan nggak?”
“Nggak mood.”
Roni diam sebentar. Aneh juga lihat dia bisa tenang selama itu.
“Kata Pak Somad, lu dari tadi nggak fokus.”
“Biasa aja sih.”
“Ini sih nggak biasa.”
Gue menoleh.
Roni masih melihat ke arah lapangan kosong di depan kami.
“Kalau lu lagi biasa aja, minimal nggak diam doang.” Dia melirik gue sebentar. “Ini muka lu sudah kayak orang kesambet.”
Gue ketawa kecil.
Tipis banget sampai rasanya bahkan nggak bisa disebut ketawa.
“Selly?” tanya Roni akhirnya.
Gue menunduk sambil memutar bola di tangan.
“Dia ngejauh.”
“Alasannya?”
“Nggak tahu.”
“Lu udah nanya?”
“Udah.”
“Terus?”
Gue menghela napas kecil.
“Katanya gue nggak salah.”
Roni langsung mengerutkan alis.
“Itu jawaban paling nyebelin sih.”
“Iya.”
“Soalnya kalau lu salah, minimal masih ada yang bisa dibenerin.”
Kalimat itu langsung bikin gue diam.
Karena memang itu yang paling bikin gue capek.
Gue bahkan nggak ngerti apa yang sebenarnya berubah.
“Tapi kalau lu nggak salah...” Roni berhenti sebentar. “Berarti masalahnya bukan di lu.”
“Terus di siapa?”
“Nah, itu.”
Dia menepuk pelan pundak gue.
“Yang harus lu cari tahu.”
Gue menatap dia beberapa detik.
“Lu kenapa jadi bijak begini?”
“Kadang otak gue update otomatis.”
Kali ini gue benar-benar hampir senyum.
Hampir.
Roni berdiri pelan sambil memasukkan tangan ke saku celana.
“Tapi jangan maksa juga, Da.”
Gue diam mendengarkan.
“Kalau dia lagi takut sama sesuatu, lu ngejar terus malah bisa bikin dia makin mundur.”
Setelah bilang begitu, Roni berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti lagi.
“Lu suka sama dia kan?”
Gue nggak jawab.
Dan mungkin karena itu juga Roni langsung mengangguk kecil sendiri.
“Oke. Berarti ya lu harus perjuangin dia apapun alasannya yang bikin dia ngejauh dari lu.”
Biasanya gue pasti langsung bantah.
Tapi sekarang perkataan Roni barusan bikin gue punya harapan sama Selly lagi.
***
Beberapa hari setelah itu, gue mulai paham satu hal.
Ternyata, jaga jarak dari orang yang masih bisa gue lihat tiap hari jauh lebih nyiksa daripada nggak ketemu sama sekali.
Kalau Selly nggak ada, gue masih bisa pura-pura sibuk. Bisa latihan futsal, duduk di kelas, atau sekadar dengerin Roni ngoceh sampai kepala gue penuh hal-hal receh yang nggak penting.
Tapi Selly ada.
Dia lewat di lorong.
Dia duduk di perpustakaan, walau bukan lagi di meja yang sama.